Ahn Min-seok mengatakan bahwa dirinya telah menyaksikan serial Netflix yang tayang mulai 5 Juni 2026. Walaupun ada adegan yang tidak nyaman untuk disaksikan, ia justru melihatnya dari sudut pandang lain.
“Berdasarkan versi webtoon-nya, adegan yang berlebihan dan penuh kekerasan memang terasa tidak nyaman ditonton. Namun, saya rasa ini mencerminkan realitas pelik bahwa fungsi sekolah kita saat ini sudah pincang,” kata Ahn Min-seok dalam keterangan unggahan di akun media sosialnya.
Pro dan Kontra Adegan Kekerasan
Namun, sebagian penonton merasa puas melihat siswa dan orang tua yang semena-mena akhirnya menerima ganjaran. Sementara sebagian lainnya merasa terganggu oleh adegan kekerasan yang dilakukan orang dewasa—dan aparat negara—terhadap anak di bawah umur.Seorang guru kelas enam di Sekolah Dasar (SD), Song Uk-jin, mengungkapkan bahwa apa yang digambarkan dalam drama tersebut mencerminkan realitas pahit di dunia pendidikan. Para guru kerap kali dibiarkan tanpa perlindungan saat menghadapi keluhan sepihak dari orang tua murid.
"Saya rasa sebagian besar guru akan merasa bahwa kasus-kasus dalam drama tersebut adalah sesuatu yang pernah mereka alami sendiri atau sedang terjadi di kelas sebelah,” ungkap Song Uk-jin, dikutip dari The Korea Herald pada Minggu, 12 Juli 2026.
Ia menambahkan bahwa konflik yang diangkat dalam cerita sangat dekat dengan keseharian para guru, mulai dari tuduhan palsu atas kekerasan anak, intimidasi, hingga masalah sosial remaja.
Kondisi ini terbukti nyata di sekolah tempat Song Uk-jin mengajar, yang sempat viral setelah sebuah kelas harus berganti wali kelas hingga enam kali dalam setahun akibat intimidasi dari orang tua murid. Hasil pemeriksaan kemudian membuktikan adanya pelanggaran hak terhadap para guru di sekolah tersebut.
Desakan Regulasi Hukum dari Asosiasi Guru
Sementara itu, Federasi Asosiasi Guru Korea (KFTA) menyatakan dapat memahami kegelisahan mendasar yang disampaikan lewat drama tersebut, terlepas dari kekhawatiran publik mengenai visualisasi sekolah yang penuh kekerasan."Drama ini menelanjangi sisi kelam dunia pendidikan, mulai dari kondisi kelas yang tidak lagi kondusif, pelanggaran berat hak guru oleh segelintir siswa yang sulit diatur, hingga rasa frustrasi para guru yang tak berdaya saat menghadapi aduan yang menyudutkan,” jelas KFTA.
Namun, KFTA menggarisbawahi bahwa solusi jangka panjang yang mendesak bagi para guru adalah penguatan aspek hukum, bukan tindakan main hakim sendiri. Mereka menuntut regulasi yang konkret, seperti jaminan bantuan hukum dari negara bagi guru yang terjerat kasus, hak bagi kepala dinas untuk menuntut balik pelapor yang berniat menjatuhkan guru, serta perbaikan pada regulasi kesejahteraan anak.
Kekhawatiran Normalisasi Kekerasan dan Kriminalisasi Sekolah
Berbeda dengan para guru, organisasi pembela hak siswa, Asunaro, menilai adaptasi Netflix ini membawa masalah yang sama dengan komik aslinya, yaitu menormalisasi tindakan kekerasan terhadap pelajar atas nama keadilan. Mereka khawatir hal ini justru akan melanggengkan budaya perundungan terhadap pihak yang posisinya lebih lemah di sekolah.Perwakilan kelompok orang tua murid juga menyayangkan tren penyelesaian masalah sekolah yang kini cenderung dibawa ke ranah hukum. Jang Ha-na, pemimpin kelompok Political Mamas, mengkritik gejala "pengadilan sekolah" ini.
"Sebagai aktivis sekaligus orang tua, hal terpenting menurut saya adalah pemulihan komunitas sekolah itu sendiri," kata Jang Ha-na.
"Namun, budaya yang berkembang saat ini adalah orang-orang mencoba menyelesaikan masalah sekolah layaknya kasus kriminal di masyarakat, tanpa adanya upaya rekonsiliasi yang baik,” lanjutnya.
Selain itu, Jang Ha-na menentang keras usulan pembentukan biro yang terinspirasi dari drama tersebut. Ia menilai fokus yang terlalu sempit pada hak guru berisiko memicu sikap individualistis dan merusak ikatan kebersamaan di sekolah.
"Hanya berfokus pada perlindungan hak guru justru akan menghancurkan komunitas sekolah dan menyuburkan sikap individualisme," tutur Jang Ha-na.
"Yang dibutuhkan sekolah bukanlah hukuman yang lebih berat, melainkan cara untuk memulihkan hubungan dan membangun kembali kebersamaan," pungkasnya.
Baca Juga :
Soroti Tragedi Nyata, Drakor Teach You A Lesson di Netflix Angkat Isu Kelam Dunia Pendidikan Korea
Sinopsis Serial Teach You a Lesson
Teach You a Lesson menceritakan tentang upaya pemerintah Korea Selatan melalui lembaga khusus Educational Rights Protection Bureau (ERPB) dalam mereformasi sistem pendidikan dan mendisiplinkan siswa-siswa nakal. Serial ini dibintangi oleh Kim Mu-yeol, Lee Sung-min, Jin Ki-joo, dan Pyo Ji-hoon.Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda