Film tersebut bahkan pernah masuk nominasi Academy Awards atau Oscar pada 1999 untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik. Kini, kisah menyentuh tentang perjuangan dua anak itu dihadirkan kembali dengan pendekatan baru lewat arahan sutradara Hanung Bramantyo.
Produser Manoj Punjabi mengaku sangat puas dengan hasil akhir film garapan MD Entertainment tersebut. Ia bahkan menyebut proyek ini sebagai salah satu karya terbaik yang pernah diproduksi rumah produksinya.
"Bagi saya ini salah satu film terbaik dari MD, dari saya atau yang pernah saya buat. Saya puas sekali. Saya beruntung ini cerita bisa jatuh ke tangan MD Entertainment," ujar Manoj Punjabi.
Menurut Manoj, keberhasilan film ini juga dipengaruhi oleh visi penyutradaraan Hanung Bramantyo yang dinilai mampu menghadirkan emosi kuat tanpa kehilangan kesederhanaan cerita. Selain itu, pemilihan pemain dianggap menjadi faktor penting yang membuat film terasa hidup dan menyentuh.
Children of Heaven versi Indonesia memperkenalkan dua aktor cilik baru, yaitu Jared Ali sebagai Ali dan Humaira Jahra sebagai Zahra. Penampilan keduanya disebut berhasil membangun chemistry alami yang menjadi kekuatan utama cerita. Hubungan kakak beradik yang hangat dan penuh empati menjadi pusat emosi dalam film ini.
Hanung Bramantyo sendiri mengaku proyek tersebut terasa sangat dekat dengan karakter film yang selama ini ia sukai. Ia mengatakan drama realistis selalu menjadi pendekatan yang paling nyaman baginya saat menyutradarai sebuah cerita.
"Saya memang menyukai realisme, drama saya memang saya suka. Saya ingin buat film film ini serealistis mungkin," kata Hanung.
Meski mendapat dorongan untuk membuat film lebih besar secara visual, Hanung tetap mempertahankan ritme khasnya yang tenang dan emosional. Ia bahkan mengaku sangat ketat mengawasi proses editing agar nuansa natural dalam cerita tidak hilang.
"Pada saat bikin film ini saat editing, editingnya saya jagain betul karena saya tidak mau banyak cut, saya nggak mau. Karena film ini pelan, berusaha untuk pelan," jelasnya.
Hanung menilai kekuatan utama Children of Heaven justru terletak pada kesederhanaan konfliknya. Karena itu, ia sengaja menghindari penggunaan terlalu banyak potongan gambar cepat yang bisa mengurangi kedalaman emosi penonton saat mengikuti perjalanan karakter.
Di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa film ini hanya akan menjadi salinan mentah dari versi Iran. Namun Hanung Bramantyo memastikan adaptasi Indonesia memiliki identitas dan pendekatan sosial yang berbeda. Ia menegaskan bahwa unsur budaya lokal menjadi bagian penting dalam cerita, meski benang merah tentang sepatu sekolah tetap dipertahankan.
“Kalau copy paste sudah pasti enggak, karena yang satu Iran, yang satu Indonesia. Konteks sosial di Iran saat itu seluruh masyarakat perempuan harus menggunakan jilbab baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Serepresif itu,” ujar suami Zaskia Adya Mecca.
Lebih jauh, Hanung menegaskan bahwa film ini tidak dibuat untuk menjual kesedihan ataupun kemiskinan. Baginya, inti cerita Children of Heaven adalah tentang menjaga harga diri dan martabat manusia dalam situasi hidup yang sulit.
“Jangan menjual kemiskinan, kesedihan, tapi yang paling penting ketika ada di situasi yang sangat terbatas, terimpit, maka kita harus tetap menjaga martabat sebagai manusia. Tidak boleh jatuh (mengiba) belas kasihan orang lain apalagi menjual harga diri,” jelasnya.
Nilai itulah yang kemudian tercermin lewat karakter Ali dan Zahra. Dua anak tersebut memilih menyelesaikan masalah mereka sendiri tanpa membebani orang tua yang sedang kesulitan ekonomi. Sikap itu menjadi simbol empati dan kasih sayang dalam keluarga.
“Ketika sepatu hilang, logikanya anak itu menangis lalu minta tolong pada orang yang lebih dewasa. Ini enggak. Kedua anak ini, berusaha memecahkan persoalan tanpa memberi tahu orang tua mereka karena takut membuat ayah ibu merana,” tutup.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News