Gandhi Fernando (Foto: instagram)
Gandhi Fernando (Foto: instagram)

Gandhi Fernando Memantapkan Diri Jadi Pengulas Film

Elang Riki Yanuar • 07 November 2022 09:33
Jakarta: Lama berkecimpung di dunia film, Gandhi Fernando menjajal bidang baru. Tak jauh dari dunia sebelumnya, aktor, produser dan penulis skenario ini merambah dunia digital dengan menjadi pengulas film.
 
Berawal dari keisengan mengulas film di TikTok, Gandhi merasa kegiatan itu diminati banyak orang. Segala macam konten diulas Gandhi terhitung sejak tahun 2021. Mulai dari film, serial, hingga video klip dan sinetron diulas Gandhi.
 
"Tiba-tiba naik ratusan ribu bahkan sampai jutaan penonton. Sejak saat itu kemudian mulai banyak masuk brand campaign dan endorsement deals. Alhasil saya berpikir ini harus serius dan konsisten," kata Gandhi Fernando.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Gandhi memang menekuni dunia film sejak lama. Dia bahkan pernah menempuh pendidikan Filmmaking di University of California Los Angeles pada 2009-2012. Hal itu membuat Gandhi jadi lebih mudah mengulas sebuah film.
 
"Karena pengalaman saya cukup lumayan di depan dan belakang layar, didukung pendidikan terkait film, jadi saya mempunyai dasar memahami dan menilai sebuah film dari performa para aktor, script, directing, sinematografi, make up, kostum, CGI, tata artistik sampai editing dan sound design, jadi tidak menilai film dari hanya bagus dan tidak secara jalan cerita," katanya.
 
Menurut Gandhi, sebuah review film menjadi kebutuhan penting bagi calon penonton dan kreator film itu sendiri. Ulasan sebuah film bahkan bisa memberi pengaruh pada penjualan tiket.  
 
"Jika filmnya tidak ada yang memperbincangkan, biasanya sepi. Karena mayoritas orang nonton film itu inginnya film yang ramai diperbincangkan agar menjadi bahan obrolan di kalangan pertemanan mereka," paparnya.
 
Sebagai pengulas film, Gandhi tidak mau sekadar memuaskan pembuat film. Tak jarang dia memberikan ulasan kritis. Dia bahkan masih menemui sejumlah kreator film yang sakit hati dengan ulasannya.
 
"Biasanya itu terjadi jika film favoritnya tidak direview bagus. Itu dari sisi penonton. Dari sisi pembuat film, masih ada beberapa pelaku industri yang baper dan sakit hati. Jadi supaya win-win solution saya biasa permisi dan minta maaf dulu di awal untuk mereview sekiranya kalau ada salah kata atau kata-kata yang menyakitkan mohon dimaafkan," tutupnya.
 
 
 
(ELG)




LEAVE A COMMENT
LOADING
TERKAIT

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif