Jakarta: Film Cerita Lila segera tayang di bioskop pada 18 Juni 2026. Cerita Lila diangkat dari kisah yang berasal dari Diary Misteri Sara, konten penelusuran misteri milik Sara Wijayanto yang telah ditonton jutaan kali oleh masyarakat Indonesia.
Konten horor ini sebelumnya meraih 11 juta penonton. Kekuatan cerita dan besarnya komunitas penggemar menjadi alasan utama sejumlah pihak optimistis film ini mampu meraih kesuksesan di bioskop.
Keyakinan tersebut juga diungkapkan COO Show Token, Joshua Khubani yang ikut bertindak sebagai eksekutif produser. Dia memutuskan terlibat langsung dalam proyek Cerita Lila karena melihat potensi besar yang dimiliki cerita tersebut.
Menurut Joshua, kekuatan intellectual property atau IP menjadi faktor paling penting dalam keputusan mereka untuk berinvestasi. Ia menilai kisah yang sudah dikenal luas oleh publik memiliki peluang lebih besar untuk diterima penonton layar lebar.
“Film Cerita Lila diangkat dari konten 'Diary Misteri Sara' yang ditonton 11 juta kali. Di sana saya melihat IP-nya sangat kuat,” kata Joshua Khubani di Jakarta.
Selain berasal dari konten populer, Cerita Lila juga mendapat dukungan dari rumah produksi yang memiliki rekam jejak panjang di industri perfilman Indonesia. Faktor tersebut semakin memperkuat keyakinannya untuk bergabung dalam proyek ini.
“Kemudian rumah produksi MVP Pictures sangat legendaris dengan cast yang juga kuat. Karena itu Show Token masuk dan berinvestasi di film ini,” paparnya.
Joshua juga menaruh harapan besar pada komunitas penggemar yang selama ini mengikuti berbagai konten Sara Wijayanto. Menurutnya, loyalitas penonton Diary Misteri Sara menjadi modal penting dalam memperkenalkan Cerita Lila kepada masyarakat yang lebih luas.
“Peran mereka sangat penting, karena fanbase dari sana yang membuat film ini bisa sukses,” ujarnya optimistis.
Cerita Lila sendiri disutradarai Bobby Prasetyo dan menghadirkan jajaran pemain yang cukup kuat. Film ini dibintangi oleh Lutesha, Shareefa Daanish, Sara Wijayanto, Meysha Lin, Firzanah Alya, Wafda Saifan, hingga Whani Darmawan. Sementara naskah film ditulis oleh Erwanto Alphadullah dan Gea Rexy.
Joshua mengungkapkan bahwa pihaknya saat ini tengah menjajaki puluhan proyek film lain dari berbagai genre. Tidak hanya horor, tetapi juga drama dan komedi yang dinilai memiliki potensi pasar yang kuat.
“Kami ada sekitar 30 judul yang sedang dalam taraf diskusi. Tak hanya horor, tapi juga komedi dan drama. Yang penting ceritanya layak diceritakan dan pasarnya nyata," jelasnya.
Menurut Joshua, pendekatan yang dilakukannya dalam mendukung produksi film tidak berbeda dari sistem pendanaan konvensional. Namun, mereka menawarkan transparansi yang lebih luas serta membuka peluang partisipasi masyarakat melalui teknologi blockchain.
“Secara profesional sama saja. Hanya kita lebih transparan dan ada partisipasi masyarakat. Kita ada infrastuktur blockchain yang gunanya memberikan akses kepada publik untuk bisa mensupport film-film Indonesia," jelas Joshua.
Tidak berhenti di industri film, dia juga berencana memperluas kiprahnya ke sektor hiburan lainnya. Salah satu bidang yang menjadi target berikutnya adalah industri konser dan pertunjukan musik.
“Kita juga akan terlibat dalam konser,” tutupnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan