Jakarta: Marshanda mengaku mengalami perjalanan emosional yang mendalam saat membintangi film Saat Aku Bersuara. Dalam film yang mengangkat isu pelecehan seksual tersebut, ia memerankan Nadia, seorang perempuan yang berjuang menghadapi trauma sekaligus mencari keberanian untuk menyuarakan kebenaran.
Peran Nadia membawa Marshanda menyelami berbagai lapisan emosi yang tidak mudah. Karakter tersebut digambarkan mengalami masa-masa sulit setelah menjadi korban pelecehan seksual, sebelum akhirnya menemukan kembali harapan untuk bangkit dan memperjuangkan keadilan.
Marshanda mengatakan, proses syuting membuatnya benar-benar merasakan dinamika perasaan yang dialami tokohnya. Mulai dari kesedihan mendalam hingga munculnya optimisme baru, seluruh emosi itu menjadi bagian penting dalam membangun karakter Nadia.
“Selama syuting rasa yang, emosi yang beneran aku rasakan, ini kan beragam banget ya. Dari down sampai dia punya harapan lagi,” ujar Marshanda di Jakarta.
Menurut perempuan yang akrab disapa Caca itu, ada satu emosi yang justru terasa paling menantang untuk dimainkan. Bukan rasa sedih atau putus asa, melainkan perasaan berharap di tengah ketidakpastian yang dialami korban.
“Mungkin ini buat aku ya, buat aku, buat Caca gitu. untuk perasaan manusia seperti depresi, putus harapan, putus asa, memutuskan untuk menyerah, berharap, lalu berjuang menurut aku di antara semua itu yang paling sulit dan paling hebat yang seseorang bisa rasakan adalah berharap,” terangnya.
Ia menilai harapan menjadi sesuatu yang sangat berat ketika seseorang tidak mengetahui apakah perjuangannya akan membuahkan hasil atau justru berakhir sia-sia. Kondisi tersebut menjadi salah satu sisi emosional yang paling kuat dalam perjalanan karakter Nadia.
"Karena punya rasa berharap, tapi ketika enggak ada janji di depan gitu apakah akan dibela, apakah akan dianggap, apakah bisa jadi sia-sia aja gitu berharapnya. Apakah akan menjadi valid dilabel ini itu. Tapi ketika tetap punya harapan, itu sulit sekali ya,” lanjutnya.
Marshanda mengaku banyak belajar dari sosok Nadia. Karakter tersebut mengajarkannya untuk berani menghadapi perasaan paling gelap sekalipun dan tidak menolak emosi yang muncul dalam kehidupan.
“Jadi banyak sekali emosi yang menantang dari karakter Nadia dan membuat aku lebih berani untuk merasa gitu ya. Jadi aku belajar dari karakter Nadia. Orang yang berani merasakan hari-hari tergelap dan terseramnya adalah orang yang paling bisa menghargai hari-hari terindahnya,” ujarnya.
Sutradara Sonu menjelaskan bahwa film ini berusaha menghadirkan sudut pandang berbeda dengan menyoroti keberanian penyintas untuk bangkit dan menyampaikan pengalaman mereka kepada publik.
Menurut Sonu, banyak film bertema serupa yang lebih menitikberatkan pada penderitaan korban. Kali ini, tim kreatif ingin menunjukkan bagaimana proses penyembuhan dan perjuangan memperoleh keadilan juga layak mendapatkan perhatian.
“Ini isu yang penting, apalagi isu sosial seperti ini belum pernah diungkapkan dari sisi yang berbeda. Kita pernah punya beberapa film yang mengangkat kekerasan seksual atau pelecehan seksual, tetapi lebih banyak dari sisi pengalaman traumatisnya,” kata Sonu.
"Nah, kami punya ide bahwa kenapa tidak mengangkat sisi ketika perempuan berani bersuara dan bangkit. Ini akan menjadi fenomena yang berbeda,” tambah Sonu.
Film ini mengisahkan Nadia yang berusaha bangkit setelah menjadi korban pelecehan seksual oleh orang tak dikenal. Ketika lingkungan sekitar tidak memberikan dukungan yang cukup, Nadia memilih menyampaikan kisahnya melalui tulisan di blog dan perlahan membangun gerakan yang memperjuangkan suara para penyintas.
Selain Marshanda, film ini juga dibintangi Teuku Rifnu Wikana, Cut Mini, Nino Fernandez, Lydia Kandou, serta Hana Malasan. Diproduksi oleh Arjuna Mega Film, Rain Creation, dan Lex Pictures, Saat Aku Bersuara dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 18 Juni 2026.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan