Cuplikan trailer film Sultan Agung (Foto: YouTube Film Sultan Agung)
Cuplikan trailer film Sultan Agung (Foto: YouTube Film Sultan Agung)

Film Sultan Agung Digarap Dua Sutradara, Begini Pembagian Tugasnya

Purba Wirastama • 13 Agustus 2018 10:49
Jakarta: Film biopik kolosal sejarah Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta melibatkan dua sutradara sekaligus, yaitu Hanung Bramantyo dan Wijanarko alias X-Jo. Menurut Hanung, X-Jo menjadi sutradara untuk menangani bagian adegan computer-generated imagery (CGI) di set layar hijau. 
 
"Yang jelas, dia menyutradarai bagian CGI, (adegan) perang itu kami berdua, bagian grafis, itu dia – karena ini film saya yang paling banyak pakai CGI. Kraton itu cuma kotak, tetapi kami bikin seolah-olah ada banyak (bangunan)," kata Hanung usai press screening Sultan Agung di XXI Epicentrum Jakarta, Minggu malam, 12 Agustus 2018.
 
Film ini berkisah tentang perjuangan Sultan Agung (Ario Bayu) dalam menyatukan para adipati Jawa, yang tercerai-berai karena politik dagang VOC pimpinan Jan Pieterszoon Coen (Hans de Kraker). Sultan marah tatkala tahu bahwa VOC melanggar perjanjian dengan membangun kantor dagang di Batavia. Dia mengibarkan Perang Batavia dan menghadapi sejumlah pengkhianatan. 

Sementara itu, sebelum diangkat menjadi Raja, dia harus mengorbankan cinta sejati kepada Lembayung (Putri Marino & Adinia Wirasti) karena menikah dengan Putri Batang (Anindya Kusuma Putri). 
 
Hanung menyebut durasi awal film ini mencapai empat jam atau 240 menit saat digarap dalam tahap pasca-produksi. Namun setelah beragam pertimbangan, durasi dipangkas menjadi sekitar 150 menit. Banyak adegan dipotong demi fokus kepada sosok Sultan Agung dan kenapa dia harus menjalankan misinya mengusir VOC. 
 
"Ini film saya terpanjang. Aslinya empat jam. Wah, itu aslinya Anindya yang jadi Ratu Batang tidak sekadar numpang lewat dan melihat, sebetulnya ada adegannya, tetapi akhirnya kami buang daripada ke mana-mana. Kasihan juga sih sebenarnya. Hubungan antara Kelana dan Untari sebetulnya lebih dalam dari itu. Itu ada semua tetapi akhirnya kalau kami buat itu, Sultan Agung jadi tidak fokus," tutur Hanung.
 
Syuting dilakukan selama 40 hari dan melibatkan sekitar 500 pemain ekstra di Studio Alam Gamplong, Sleman. Proses riset efektif berjalan selama tiga sampai empat bulan dengan lima buku referensi. Koreografi laga ditangani Cep Hendra. 
 
Naskhanya ditulis BRA Mooryati Soedibyo bersama Ifan Ismail dan Bagas Pudjilaksono. Mooryati juga menjadi produser bersama RA Putri Kuswisnuwardhani dan Haryo Tedjo Baskoro dalam label Mooryati Soedibyo Cinema. 
 
Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta akan dirilis di bioskop pada 23 Agustus 2018.
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ASA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA