Sherina mengaku langsung tertarik saat mengetahui buku tersebut akan diadaptasi menjadi karya audiovisual. Apalagi, dia merasa dekat dengan isi buku tersebut.
"Ketika tahu bahwa Filosofi Teras yang sebenarnya adalah self-help book dijadikan sebuah film, itu juga intriguing gitu kayak what sort of story yang akan diceritakan,” kata Sherina.
Rasa penasaran itu terjawab setelah ia membaca naskah produksi dari MD Pictures. Dari situ, ia menemukan kedekatan emosional dengan karakter utama.
“Cuma ada sesuatu yang mengkoneksikan aku kepada karakter dan situasi yang ada di film ini,” ujar Sherina. Dalam film ini, Sherina memerankan Nea, perempuan 26 tahun yang mendadak menjadi tulang punggung keluarga setelah ayahnya meninggal. Utang keluarga, biaya kuliah adik, hingga konflik rumah tangga kakaknya memaksa Nea memahami batas antara hal yang bisa dan tidak bisa ia kendalikan.
Henry Manampiring sendiri mengaku terkejut ketika mengetahui Sherina didapuk sebagai pemeran utama. Namun ia merasa pilihan tersebut sangat tepat.
"Tentunya senang dong karena jatuh ke teman juga. Dan menurut saya karakter Sherina itu gadis Stoik banget. Karena saya mengenal dia, dia orangnya rasional,” ucap Henry.
Secara cerita, film ini mengeksplorasi ajaran Stoisisme melalui konflik keluarga yang realistis. Nea harus menunda rencana pernikahannya dengan Dio demi menyelamatkan kondisi finansial keluarga setelah mengetahui rumah mereka digadaikan oleh sang ayah sebelum wafat.
Disutradarai oleh Affandi Abdul Rachman yang sebelumnya dikenal lewat film Negeri 5 Menara, adaptasi ini mencoba menerjemahkan nilai filosofis menjadi drama yang membumi dan relevan dengan generasi muda.
Selain Sherina, film ini juga dibintangi deretan artis lain seperti Ge Pamungkas sebagai Dio, Lydia Kandou sebagai Ratih, Zee Asadel sebagai Runi, Rangga Nattra sebagai Abi, Givina sebagai Ayu, Ina Marika sebagai Puput, Tubagus Ali sebagai Gilang, Adinda Cresheilla sebagai Citra, Baim D'Bill sebagai Eza dan Dinda Kanya Dewi sebagai Dita.
Buku Filosofi Teras telah memasuki puluhan kali cetak ulang dan terjual hampir setengah juta eksemplar. Popularitasnya yang melonjak saat pandemi membuat kisah adaptasinya ke film menjadi salah satu proyek yang paling dinanti.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News