Menurut data dari Nielsen Korea, episode pemungkas dari drama yang dibintangi IU dan Byeon Woo Seok ini sukses mencatat rating nasional rata-rata sebesar 13,8 persen dan mengukuhkan posisinya sebagai program paling banyak ditonton pada hari Sabtu.
Pencapaian gemilang ini didapatkan di tengah gelombang protes keras dari penonton terkait dugaan distorsi sejarah pada adegan penobatan pangeran. Terlepas dari plot latar dunia fiksi, penonton menilai tim produksi kurang teliti dalam menggarap detail protokol istana.
| Baca juga: Jadwal Tayang Drakor Perfect Crown Episode 1-12 dan Link Nonton Sub Indo |
Menanggapi hal tersebut, tim produksi merilis permintaan maaf resmi tepat pada hari penayangan episode terakhir. Pihaknya mengakui bahwa mereka gagal memeriksa dengan cermat bagaimana protokol istana Joseon berubah seiring berjalannya sejarah.
“Kami dengan tulus meminta maaf kepada para penonton yang telah mendukung drama ini dengan penuh cinta karena telah menimbulkan kekhawatiran terkait latar fiksi dan keakuratan sejarah dalam serial ini,” ujar tim produksi, dikutip dari Korea JoongAng Daily, Minggu, 17 mei 2026.
Sebagai bentuk tanggung jawab, tim produksi berjanji akan segera merevisi bagian audio dan teks terjemahan yang salah tersebut. Perbaikan ini akan diterapkan untuk keperluan siaran ulang di masa mendatang, layanan VOD (video-on-demand), serta platform streaming legal.
| Baca juga: Kesan Pertama IU Bertemu Byeon Woo Seok: Kok Bisa Setampan Ini? |
Dua Detail Krusial yang Memicu Protes Penonton
Kontroversi memuncak setelah adegan penobatan Pangeran I-an (diperankan oleh Byeon Woo-seok) ditayangkan. Penonton menemukan dua kesalahan yang tidak sesuai dengan konsep monarki berdaulat yang diusung oleh drama tersebut:1. Sorakan "Cheonse" vs "Manse"
Dalam adegan sakral tersebut, para pejabat istana terdengar meneriakkan kata "Cheonse" (artinya 1.000 tahun) sebagai doa agar sang pangeran memiliki masa pemerintahan yang panjang.Netizen dan pencinta sejarah Korea menilai istilah tersebut secara historis digunakan untuk raja atau penguasa dengan pangkat lebih rendah, termasuk Dinasti Joseon saat masih membayar upeti kepada Tiongkok di bawah tatanan Sinosentris kuno.
Penonton berargumen bahwa para pejabat seharusnya meneriakkan "Manse" (10.000 tahun), sebuah ungkapan yang secara historis dikaitkan dengan otoritas kekaisaran yang mandiri dan berdaulat penuh.
| Baca juga: 8 Film dan Drama Korea Byeon Woo Seok, Terbaru Perfect Crown |
2. Jumlah Manik-Manik pada Mahkota (Myeollyugwan)
Selain masalah dialog, aspek busana tak luput dari sorotan. Karakter Pangeran I-an terlihat mengenakan guryu myeollyugwan, yaitu mahkota upacara tradisional Dinasti Joseon yang dihiasi dengan 9 untaian manik-manik di bagian depan dan belakang.Mengingat Perfect Crown mengambil latar di sebuah monarki berdaulat, penonton menilai karakter Byeon Woo Seok seharusnya mengenakan sibi myeollyugwan, mahkota upacara yang memiliki 12 untaian manik-manik.
Sibi myeollyugwan sendiri melambangkan status kekaisaran independen, seperti saat Raja Gojong menyatakan Korea sebagai kekaisaran merdeka setelah tahun 1895.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News