Peristiwa tersebut berkesan kuat karena bertepatan dengan hari ulang tahunnya setiap 1 Oktober.
Kenangan Horor di Hari Ulang Tahun
Hanung Bramantyo membagikan pengalamannya tumbuh besar di era Orde Baru, saat penayangan film tersebut menjadi agenda wajib tahunan.“Saya sebagai filmmaker dan juga sebagai bangsa Indonesia yang lahir 10 tahun setelah peristiwa 1965, yaitu 1 Oktober 1975, saya hidup dalam sebuah rezim di mana setiap malam ulang tahun saya selalu ada film horor, yaitu Pengkhianatan G30S/PKI,” kata Hanung Bramantyo, di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, pada Jumat, 25 September 2026.
Menurutnya, film tersebut wajib ditayangkan mulai pukul 19.00 hingga 23.00 WIB di seluruh saluran televisi Indonesia.
“Kenapa saya sebut horor? Karena pada saat ditayangkan di televisi, itu jam 7 sampai jam 11, semua televisi di Indonesia tidak boleh menayangkan selain film itu, ucap Hanung.
Menonton Secara Diam-Diam
Orang tua Hanung sempat melarangnya menyaksikan tayangan tersebut demi menghindarkannya dari adegan kekerasan.“Pada saat saya mau nonton, ibu saya mematikan televisi itu, ‘Sudah, enggak usah nonton!’ ‘Lho, kenapa? Itu kan film perjuangan?’ (tanya Hanung) ‘Enggak, itu film seram’,” kenang Hanung Bramantyo.
Rasa penasaran membuat Hanung tetap menyaksikan film tersebut secara tersembunyi.
“Jadi akhirnya kemudian saya nonton di kamarnya nenek saya. Saya diam-diam nonton itu dan emang seram ternyata gitu kan,” lanjut Hanung.
Inspirasi di Balik Film Terbaru
Pengalaman masa kecil itu memberi sudut pandang tersendiri bagi Hanung mengenai pembentukan persepsi sejarah melalui media film.“Enggak tahu kenapa itu dibuat seram karena memang tujuannya untuk menakut-nakuti bahwa ideologi komunis itu ideologi yang sangat berbahaya, jelas Hanung.
“Karena itu makanya pemerintah Orde Baru membuat tragedi itu menjadi horor dan terus dikonsumsi sampai hari ini. Itulah dasar pijakan saya kenapa saya membuat film horor,” lanjutnya.
Hanung Bramantyo dijadwalkan merilis film horor terbarunya, Lobang Buaya, di bioskop pada 1 Oktober 2026. Ia menegaskan bahwa karya ini hadir bukan sebagai bentuk kritik terhadap sikap pemerintah atas tragedi kemanusiaan masa lalu.
Baca Juga :
Soroti Insiden Pembubaran GKPI Rajeg, Hanung Bramantyo: “Sebagai Orang Islam, Saya Malu"
Pemicu Diskusi bagi Generasi Muda
Kehadiran film Lobang Buaya diharapkan dapat mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih kritis dalam memahami sejarah.“Saya pengin masyarakat kita menuntut untuk betul-betul dilakukan semacam investigasi yang betul untuk menjawab pertanyaan: ‘Kenapa peristiwa 30 September itu harus terjadi?’ Bukan siapa dalangnya, tapi kenapa peristiwa itu harus terjadi?” ujar Hanung.
Film Lobang Buaya menceritakan sebuah desa yang diguncang pembunuhan berantai brutal berkedok teror mistis, meninggalkan pesan misterius pada tubuh para korban. Saat Letnan Soegeng (Baskara Mahendra) mengusut dalang pembantaian tersebut, sang istri justru dihantui arwah penuntut keadilan yang membongkar bahwa teror ini merupakan bagian dari ritual gelap untuk mengubah arah sejarah.
Film ini dibintangi oleh Baskara Mahendra, Carissa Perusset, Iskak Khivano, Anya Zen, hingga Mathias Muchus.
Baca Juga :