Namun di balik kehidupannya yang tampak sempurna, tersimpan tragedi yang mengubah nasibnya menjadi sosok arwah penasaran yang meneror warga kampung.
Dalam cuplikan trailer yang diperlihatkan, Lastri dikisahkan mengalami konflik rumah tangga hingga berujung perceraian. Kehidupannya kemudian berakhir tragis dan membuatnya kembali sebagai sosok gaib yang dipenuhi amarah dan dendam. Penampilan Hana dengan kebaya putih dan rambut sanggul khas era 1980-an menjadi salah satu daya tarik utama film ini.
Hana mengaku tantangan terbesar saat memerankan Lastri adalah memahami kehidupan perempuan desa pada dekade 1980-an. Sebab, ia tidak mengalami langsung masa tersebut sehingga harus melakukan riset dan berdiskusi dengan para pemain senior selama proses produksi.
"Backstory Lastri ini di tahun 1980-an, sementara aku sendiri belum hidup di masa itu. Jadi prosesnya lebih banyak mengandalkan imajinasi dan bertanya kepada pemain senior tentang seperti apa sosok kembang desa pada masa tersebut,” kata Hana.
Menurut Hana, membangun karakter Lastri tidak dilakukan dengan cara yang rumit. Ia lebih mengandalkan pemahaman mendalam terhadap naskah dan hubungan yang terjalin dengan para pemain lain selama proses latihan.
“Aku tipe yang menyelami karakter nggak terlalu muluk-muluk. Yang penting membaca naskah dengan tepat dan benar. Menurutku, proses pendalaman karakter paling penting ada pada membaca naskah dan membangun chemistry dengan pemain lain,” jelasnya.
Film Lastri: Arwah Kembang Desa juga menyimpan kenangan emosional bagi Hana Saraswati. Pasalnya, film ini menjadi salah satu proyek terakhir yang melibatkan almarhum Gary Iskak sebelum kepergiannya.
Dalam film tersebut, Gary Iskak memerankan Turenggo, seorang juragan tambang pasir yang menjadi suami Lastri. Kehadiran Gary selama proses syuting meninggalkan kesan mendalam bagi para pemain, termasuk Hana yang awalnya merasa canggung saat harus beradu akting dengan aktor senior tersebut.
Seiring berjalannya waktu, kesan tersebut berubah menjadi pengalaman yang berharga. Hana berharap film ini dapat menjadi karya yang dikenang oleh banyak penonton sekaligus menjadi penghormatan bagi perjalanan karier Gary Iskak di dunia perfilman Indonesia.
“Aku pengen film ini dikenang dengan baik oleh banyak orang karena ini mungkin salah satu proyek terakhirnya Mas Gary. Semoga penonton bisa mengapresiasi mimpi kita semua di film ini,” tutup Hana.
Sinopsis Lastri: Arwah Kembang Desa
Dari sisi cerita, Lastri: Arwah Kembang Desa berpusat pada teror yang dialami Atmi, seorang perempuan yang dihantui sosok misterius tanpa wujud. Seiring cerita berjalan, terungkap bahwa arwah tersebut adalah Lastri yang kembali untuk menuntut balas atas berbagai perlakuan buruk yang pernah diterimanya semasa hidup.Konflik bermula ketika Lastri menikah dengan Turenggo, pria terpandang yang membuat banyak orang iri. Kecemburuan itu memicu berbagai fitnah dan hasutan yang dilakukan sejumlah warga kampung, termasuk Atmi dan Darman. Rumor yang mereka sebarkan perlahan menghancurkan kehidupan Lastri hingga berujung pada tragedi.
Film ini dibintangi Hana Saraswati, Gary Iskak, Yama Carlos, Ratu Meta, Rizal Djibran, Audy Bella, Nando Hilmy, Debby Sahertian, dan Ingrid Wijanarto. Film ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 16 Juli 2026.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda