Cerita film ini berangkat dari fenomena sosial di perkotaan, ketika gaya hidup dan pengakuan di media sosial sering dijadikan tolok ukur kesuksesan. Film ini diproduseri oleh Executive Producer Irsan Yapto dan Nadya Yapto, serta disutradarai oleh Hestu Saputra. Sementara itu, naskah cerita ditulis oleh Aroe Ama yang dikenal mampu meramu kisah misteri dengan isu sosial yang relevan.
"Aku Harus Mati adalah film horor yang ceritanya paling dekat dengan kehidupan manusia modern zaman sekarang fenomena Jual Jiwa Demi Harta, banyak masyarakat modern sekarang rela mengorbankan diri dan jiwa demi validasi dan harta sampai terlilit hutang pinjol, paylater, dan lain-lain,” ujar Irsan Yapto, Eksekutif Produser.
Fenomena flexing yang marak di media sosial menjadi salah satu sorotan utama film ini. Di tengah tekanan lingkungan untuk selalu terlihat berhasil, banyak orang akhirnya mengambil jalan instan tanpa memikirkan dampak jangka panjang yang harus dibayar.
Melalui film Aku Harus Mati, mereka ingin memberi peringatan tentang bahayanya ambisi yang tak terkendali. Irsan menyebut film ini akan mengajak penonton mempertanyakan makna kesuksesan di era digital.
“Di era modern, banyak orang merasa harus terlihat berhasil dan diakui oleh lingkungan. Tekanan itu kadang membuat seseorang tergoda mencari cara instan untuk mencapai kesuksesan. Film Aku Harus Mati akan mengajak kita untuk berpikir, apakah mereka yang rajin flexing di media sosial, murni sukses hasil kerja keras atau malah hasil pesugihan?” kata Irsan.
Sutradara Hestu Saputra juga menegaskan bahwa film ini dibuat sebagai refleksi terhadap realita yang terjadi di sekitar masyarakat. Menurutnya, ambisi yang berlebihan dapat membuat seseorang kehilangan arah dan pada akhirnya menghancurkan hidupnya sendiri.
"Kami ingin mengajak penonton untuk merenungkan kembali, bagaimana ambisi dan kebutuhan akan validasi bisa membuat seseorang kehilangan arah. Film ini menjadi pengingat bahwa keindahan dunia sering kali menipu. Ketahuilah, kesuksesan sejati seharusnya datang dari proses kerja keras dan integritas, bukan dari jalan pintas yang pada akhirnya bisa menghancurkan diri sendiri dan orang sekitar.” ujar Hestu Saputra, Sutradara.
Film ini mengikuti kisah Mala yang diperankan Hana Saraswati. Mala adalah seorang yatim piatu yang terjebak dalam gaya hidup hedonistik dan berusaha mengejar kemewahan yang sebenarnya semu. Demi memenuhi keinginannya, ia terjerat hutang pinjaman online dan paylater yang semakin menekan hidupnya.
Dalam kondisi terpuruk, Mala akhirnya memutuskan kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan. Kepulangannya membawa pertemuan emosional dengan sahabat masa kecilnya, Tiwi yang diperankan Amara Sophie dan Nugra yang dimainkan Prasetya Agni. Ia juga kembali bertemu Ki Jago yang diperankan Bambang Paningron, sosok pemilik panti yang selama ini dianggapnya sebagai ayah.
Namun, harapan Mala untuk menemukan ketenangan justru berubah menjadi awal mimpi buruk. Secara misterius, mata batinnya terbuka dan membuatnya mengalami berbagai kejadian gaib yang tidak masuk akal. Teror demi teror mengungkap fakta kelam yang selama ini tersembunyi dalam hidupnya.
Mala kemudian dipaksa menghadapi rahasia terbesar tentang asal-usul dirinya. Ia menemukan bahwa keluarganya menyimpan perjanjian iblis yang mengerikan, di mana nyawa orang-orang terdekat dijadikan tumbal demi kesuksesan dan kemewahan.
Konflik film semakin memuncak saat Mala dihadapkan pada pilihan yang mustahil. Ia harus membayar harga yang tidak bisa dihindari karena ada nyawa yang menjadi taruhannya. Cerita ini menjadi klimaks yang menyesakkan dan membawa penonton pada horor yang lebih emosional.
"Kami ingin memperlihatkan bahwa teror sesungguhnya dimulai ketika manusia kehilangan kendali atas dirinya sendiri demi memuaskan gaya hidup dan validasi diri oleh lingkungan sekitar," ujar Hestu Saputra.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News