Di film Tanah Runtuh keduanya coba menghadirkan cerita dengan nuansa yang lebih sunyi, intim, dan emosional. Tanah Runtuh bakal digarap sebagai drama yang menyentuh sisi paling personal dari kehidupan manusia, khususnya relasi keluarga dan ketahanan batin.
"Film ini tidak menempatkan konflik besar sebagai pusat cerita, melainkan memilih menyoroti luka-luka kecil yang sering luput dari perhatian, namun meninggalkan bekas mendalam bagi para pelakunya," katanya.
Dalam video singkat yang diunggah di media sosial, terlihat dua mobil melaju beriringan, disusul visual dua anak kecil yang berjalan sambil bergandengan tangan. Salah satu anak digambarkan memiliki keterbatasan, menghadirkan kesan rapuh sekaligus hangat.
Potongan visual tersebut ditutup dengan gambar dua tangan yang saling berpegangan di atas kasur yang menjadi sebuah simbol sederhana tapi penuh makna tentang kebutuhan akan kehadiran, rasa aman, dan ikatan emosional.
"Film ini mengangkat kisah tentang keterbatasan, kehilangan, dan ketahanan, dilihat dari sudut pandang anak-anak. Setiap perjalanan yang mereka jalani tidak semata soal berpindah tempat, melainkan tentang upaya bertahan dan menjaga harapan di tengah situasi yang tidak ramah," katanya.
"Dunia di sekitar mereka digambarkan rapuh, sementara relasi antarkarakter justru menjadi satu-satunya pegangan untuk terus melangkah," lanjutnya.
Denny dan Rudi ingin menghindari heroisme berlebihan dan memilih emosi yang hangat dengan keluarga dan dekat dengan pengalaman sehari-hari. Film ini bakal menyoroti bagaimana harapan tetap dipertahankan, meski rumah tidak dalam keadaan yang baik.
"Tanah Runtuh diproyeksikan menjadi film reflektif yang mengajak penonton memahami makna bertahan dan mencintai di tengah keterbatasan," tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News