​Avatar: The Last Airbender - Avatar (2009) (Foto: Netflix / 20th Century Fox)
​Avatar: The Last Airbender - Avatar (2009) (Foto: Netflix / 20th Century Fox)

Anak James Cameron lebih Suka Avatar: The Last Airbender daripada Avatar: Fire and Ash

Agustinus Shindu Alpito • 16 Januari 2026 09:25
Jakarta: Diskursus mengenai seri kartun Avatar: The Last Airbender dan film Avatar garapan sutradara James Cameron tak pernah habis. Anak-anak James Cameron ternyata lebih memilih animasi Avatar: The Last Airbender ketimbang film manusia biru garapan ayah mereka.
 
Hal ini diungkap melalui unggahan media sosial salah satu pemain serial kartun tersebut. Michaela Jill Murphy (pengisi suara Toph Beifong) membagikan pengalamannya bertemu dengan James Cameron di acara Astra Film Awards lewat Instastory @michaelamostly. Ketika ditanya mengenai Avatar mana yang lebih bagus, sutradara tersebut memberikan sebuah pengakuan.
 
“Dan aku sempat berbincang dengan bapak INI tentang Avatar mana yang terbaik… Anak-anaknya bilang, The Last Airbender,” tulis Murphy pada Jumat lalu (9/1).
 
Komentar ini mengundang banyak reaksi dari netizen. Beberapa dari mereka setuju bahwa anak-anak James Cameron memiliki selera yang bagus. Bagi penggemar The Last Airbender, momen ini rasanya seperti sebuah kemenangan.

Seri kartun ini telah lama dipuji untuk penulisan dan kedalaman emosional ceritanya. Komentar sutradara ternama Hollywood tersebut turut menambahkan validasi atas perasaan mereka.
 
Salah satu alasan mengapa Avatar: The Last Airbender tampak lebih menonjol dibandingkan Avatar adalah karakter-karakternya yang kuat secara cerita: Aang, Zuko, Katara, dan Sokka. Mereka terus berkembang secara pribadi maupun emosional seiring perjalanan mereka.
 
Penonton seolah-olah terhubung dengan mereka lebih dari sekadar aksi dan visual. Di satu sisi, itulah yang membuat seri film Avatar terkenal. Kemudian, kartun ini juga mengangkat tema-tema serius dengan cara yang mendalam. Topik-topik seperti perang, kehilangan, identitas, dan spiritualitas dipadukan secara alami ke dalam cerita sehingga penonton yang lebih muda pun dapat menikmatinya. 
 
Di sisi lain, film Avatar karya James Cameron sering dianggap lebih fokus pada visual daripada cerita. Meskipun film-film tersebut mengubah dunia sinema dengan efek visualnya yang revolusioner, mereka kurang memiliki kedalaman emosional dan karakter yang membantu penonton terhubung dengan pesan-pesan mendalam.
 
(Nyimas Ratu Intan Harleysha)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ASA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan