LSF menilai kampus memiliki peran strategis dalam membangun budaya menonton yang lebih sehat dan bertanggung jawab. Langkah ini ditegaskan melalui pembaruan Nota Kesepahaman atau MoU LSF bersama Universitas Mercu Buana (UMB).
LSF menilai kampus memiliki posisi strategis dalam membentuk kesadaran masyarakat terkait pentingnya memilih tontonan berdasarkan klasifikasi usia. Hal ini dinilai penting agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton pasif, tetapi juga mampu memilah konten secara mandiri.
"Literasi menonton tidak mungkin hanya LSF RI yang menyosialisasikan kepada masyarakat. Kami ingin kolaborasi Tridharma agar kampus menjadi garda terdepan edukasi klasifikasi usia penonton," kata Dr. Naswardi, M.M., M.E., Ketua LSF RI.
Penandatanganan MoU dilakukan langsung oleh Ketua LSF RI, Dr. Naswardi, M.M., M.E., bersama Rektor Universitas Mercu Buana, Prof. Dr. Ir. Andi Adriansyah, M.Eng. Kesepakatan ini sekaligus memperluas kerja sama yang telah terjalin sejak 2021.
Rektor UMB, Prof. Andi Adriansyah, menegaskan bahwa kolaborasi tersebut berjalan berdasarkan prinsip Tridharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, kampus harus mampu menghadirkan kontribusi nyata melalui riset yang relevan dengan kebutuhan mitra lembaga.
"Kami mewajibkan seluruh dosen melaksanakan penelitian dengan tema-tema yang berhubungan dengan lembaga mitra, dan hasilnya harus dipublikasikan serta diseminasikan kepada masyarakat," ujar Andi.
Dalam bidang pengajaran, UMB akan memasukkan materi literasi film ke dalam kurikulum Program Studi Ilmu Komunikasi. Mahasiswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga mendapatkan pemahaman langsung tentang pentingnya klasifikasi usia dalam konsumsi konten audiovisual.
Sementara dari sisi penelitian, dosen dan mahasiswa kini memiliki akses terhadap basis data perfilman nasional milik LSF RI. Data tersebut dapat dimanfaatkan untuk penyusunan disertasi, jurnal ilmiah, hingga artikel akademik yang berpotensi terindeks Scopus.
Sebelumnya, kolaborasi serupa telah menghasilkan riset mengenai desain narasi visual dokumenter kuliner Kisarasa di platform YouTube. Hasil ini menjadi contoh konkret bagaimana kerja sama akademik dapat melahirkan karya ilmiah yang relevan dengan perkembangan industri kreatif.
Mereka juga akan memperluas gerakan budaya sensor mandiri di lingkungan kampus. Program ini akan berjalan bersama komunitas Sahabat Sensor Mandiri binaan LSF RI untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap pentingnya memilah tontonan.
Langkah ini dinilai penting karena berdasarkan survei nasional LSF RI, baru 46 persen masyarakat yang memperhatikan klasifikasi usia saat memilih tontonan. Angka tersebut menunjukkan masih rendahnya kesadaran publik, sehingga kampus dipandang sebagai titik awal perubahan perilaku.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News