Paramount dan Warner Bros (Foto: paramount.com / warnerbros.com)
Paramount dan Warner Bros (Foto: paramount.com / warnerbros.com)

Ribuan Sineas Hollywood Tolak Rencana Merger Paramount-Warner Bros

Agustinus Shindu Alpito • 14 April 2026 11:35
Ringkasnya gini..
  • Joaquin Phoenix hingga Mark Ruffalo tolak merger Warner Bros. Discovery & Paramount Skydance.
  • Sineas khawatir monopoli, PHK, biaya naik, dan pilihan tontonan makin terbatas.
  • Lebih dari 1.400 sineas tanda tangan, nilai akuisisi capai US$111 miliar.
Jakarta: Lebih dari seribu sineas film dan televisi serta pelaku kreatif Hollywood, seperti Joaquin Phoenix, Mark Ruffalo, dan Kristen Stewart, mengeluarkan surat terbuka yang menolak rencana akuisisi Warner Bros. Discovery oleh Paramount Skydance pada Senin (14/4).
 
“Sebagai para pembuat film, pembuat film dokumenter, dan para profesional di industri film dan televisi, kami menulis surat ini untuk menyatakan penolakan kami yang tegas terhadap rencana merger antara Paramount dan Warner Bros. Discovery,” tulis pernyataan tersebut, dikutip dari situs resmi BlocktheMerger.com. 
   

Kekhawatiran Dampak Merger 

Para sineas menilai kesepakatan ini berpotensi memperkuat dominasi serta monopoli segelintir pihak di industri sehingga mengurangi persaingan, terutama di saat ekosistem film dan televisi serta audiens berada dalam kondisi yang paling rentan.
 
Ditambah, para kreator akan merasakan dampaknya seperti pengurangan lapangan kerja di seluruh ekosistem produksi, peningkatan biaya, serta terbatasnya pilihan tayangan bagi audiens di Amerika Serikat maupun secara global. 

“Akibatnya, peluang bagi para kreator akan berkurang, lapangan kerja di seluruh ekosistem produksi akan berkurang, biaya akan meningkat, dan pilihan bagi audiens di Amerika Serikat maupun di seluruh dunia akan semakin terbatas,” tulisnya.
 
Merger ini juga dinilai berpotensi mengurangi jumlah studio film besar di Amerika Serikat hingga hanya tersisa empat: Universal Pictures, Walt Disney Studios, Sony Pictures, serta gabungan Paramount Pictures-Warner Bros.
 

Ancaman Keberlanjutan Industri Film

Tak hanya itu, para penggerak industri film Hollywood menilai tekanan yang terjadi saat ini merupakan dampak dari gelombang konsolidasi sebelumnya. Kondisi tersebut menyebabkan penurunan jumlah film sekaligus mempersempit peluang kreator dalam memperoleh pendanaan produksi.
 
“Kita telah menyaksikan penurunan tajam dalam jumlah film yang diproduksi dan dirilis, sejalan dengan semakin sempitnya jenis cerita yang didanai dan didistribusikan,” ujarnya.
 
Selain itu, semakin sedikit pihak berkuasa yang menentukan proyek apa yang akan diproduksi beserta syaratnya. Hal ini dinilai membatasi ruang gerak para kreator dan pelaku usaha independen dalam mempertahankan karya mereka.
 
Lanjutnya, “Secara bersama-sama, faktor-faktor ini mengancam keberlanjutan seluruh komunitas kreatif. Hal ini termasuk membahayakan kehidupan profesional puluhan ribu pekerja yang menjadi bagian dari komunitas tersebut, yang sebagian besar bekerja di usaha kecil dan perusahaan independen yang tertanam dalam perekonomian dan komunitas lokal di seluruh negeri.”
 
Para sineas juga mengkritik agenda merger yang dianggap lebih mengutamakan kepentingan segelintir pihak dibanding kepentingan publik yang lebih luas. Padahal, menurut mereka, persaingan yang sehat sangat penting bagi perekonomian dan demokrasi, serta mendorong integritas, kemandirian, dan keberagaman dalam industri.
 
Paramount Skydance mengumumkan rencananya untuk mengakuisisi Warner Bros. Discovery senilai US$111 miliar (setara Rp1,9 kuadriliun) pada akhir Februari 2026, setelah bersaing dengan Netflix untuk mendapatkan aset tersebut.
 
Per 14 April 2026, sebanyak 1.476 sineas sudah menandatangani penolakan merger tersebut. Beberapa nama di antaranya adalah Adam McKay, Alan Cumming, Ben Stiller, Bryan Cranston, David Fincher, Denis Villeneuve, Jane Fonda, Jason Bateman, Mark Ruffalo, Pedro Pascal, Tiffany Haddish, Yorgos Lanthimos, dan lain-lain.
 


 
(Nyimas Ratu Intan Harleysha)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ASA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA