Sutoro lebih dikenal sebagai sosok antagonis dengan nama panggung Torro Margens. Kariernya dimulai sejak 1970-an membintangi judul film memegang peran antagonis.
Sejumlah judul film populer yang pernah melibatkannya antara lain Si Buta dari Gua Hantu (Duel di Kawah Bromo) (1977), Gondoruwo (1981), Ken Arok Ken Dedes (1983), Kuldesak (1997), 9 Naga (2006), Tendangan dari Langit (2011), Mencari Hilal (2015), Night Bus (2017), Ruqyah: The Exorcism (2017) dan Love for Sale (2018).
Torro juga pernah memegang kendali sebagai sutradara dan penata naskah film. Seperti pada Bercinta dalam Badai (1984), Preman (1985), Pernikahan Berdarah (1987), Lukisan Berlumur Darah (1988), Cinta Berdarah (1989), Sepasang Mata Maut (1989), Prabu Angingdarma I dan II (1990) dan Surgaku Nerakaku (1994).
Peran antagonis sudah melekat dalam diri Torro. Dia bahkan sempat melakukan latihan olah vokal bersama Pranajaya untuk mendalami pembawaan sebagai tokoh antagonis. Karakter ini bahkan terbawa semasa berkarier dalam lintas generasi.
Torro Margens tidak sendiri menjadi sosok antagonis pada era 1970-an. Dia berada dalam barisan angkatan August Melasz, Eeng Saptahadi dan Leily Sagita.
Awalnya pria asal Paduraksa, Pemalang ini merantau ke Jakarta untuk mewujudkan cita-cita sebagai aktor. Sempat dia bekerja kantoran sebagai penerjemah, tetapi beralih kembali dunia keaktoran karena merasa tak cocok. Di sela kesibukan syuting, Torro juga pernah memiliki pekerjaan sampingan mengecat trotoar untuk menyambung hidup.
Sebelum berpulang, kabar yang beredar Torro Margens sempat kritis dan dilarikan ke rumah sakit di Yogyakarta. Dia pun meninggal beberapa jam setelah dilarikan ke rumah sakit. Rencananya, jenazah Torro Margens dimakamkan hari ini di Sukabumi, Jawa Barat.
Torro Margens meninggal dalam usia 68 tahun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News