Kulari ke Pantai, Pemantik Bangkitnya Film Anak Indonesia
Film Kulari ke Pantai, garapan Miles Films seolah membangkitkan spirit film anak setelah sekian lama tidak merilis film tentang anak. (Foto: Dok. Miles Films)
Jakarta: Dua anak perempuan belia bersepupu dekat, Sam (Maisha Kanna) dan Happy (Lil'li Latisha) kembali bertemu dalam sebuah acara keluarga di Jakarta setelah sekian lama tidak bertemu.

Keduanya dibesarkan dengan cara yang berbeda. Sam bersama kedua orangtuanya, Uci (Marsha Timothy) dan Irfan (Ibnu Jamil) memilih tinggal di pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. 

Happy bersama kedua orangtuanya, Kirana (Karina Suwandi) dan Arya (Lukman Sardi) masih menetap di Jakarta bersama keluarga besar Arya dan Uci. Sam tumbuh menjadi anak perempuan yang suka berpetualang dan menyukai aktivitas yang berdekatan dengan alam. Happy yang dibesarkan di ibukota menjadi sangat bergantung dengan media sosial.



Uci (Marsha Timothy) dan Sam (Maisha Kanna). (Foto: Dok. Miles Films)

Perjalanan mereka dimulai ketika Uci dan Sam berencana melakukan road trip berdua sepanjang pulau Jawa dengan misi bertemu dengan sosok idola Sam di titik terakhir perjalanan mereka yaitu Banyuwangi. Keduanya berangkat setelah acara keluarga di Jakarta selesai. 

Kesempatan ini dimanfaatkan Kirana yang melihat kerenggangan antara Happy dan Sam. Ia ingin Happy lebih menghargai sepupunya dan kembali dekat dengan Sam seperti dulu.

Dalam perjalanan menuju Banyuwangi, dua karakter anak perempuan ini sekaligus membuat Uci merasa memiliki dua orang anak perempuan sekaligus. Ketiganya melalui perjalan panjang selama kurang lebih 1.000 kilometer melalui perjalan darat. Mau tidak mau, ketiganya akan berkomunikasi di dalam mobil.

Miles Films seolah membangkitkan spirit film anak setelah sekian lama tidak merilis film tentang anak. Terakhir, Miles Films merilis film anak Sang Pemimpi (2009), Laskar Pelangi (2008), Untuk Rena (2006) dan yang paling melegenda Petualangan Sherina (2000). 

Sam menghidupkan karakter Sherina yang dulu hanya dinikmati generasi 90-an. Generasi yang sekarang kembali disuguhkan dengan role model anak baru yakni Maisha Kanna. Sementara karakter Happy tidak jauh berbeda dengan lawan main Sherina saat itu, yakni Sadam yang enggan bermain dengan alam. 


(Miles Films seolah membangkitkan spirit film anak setelah sekian lama tidak merilis film tentang anak. Terakhir, Miles Films merilis film anak Sang Pemimpi (2009), Laskar Pelangi (2008), Untuk Rena (2006) dan yang paling melegenda Petualangan Sherina (2000). Foto: Dok. Miles Films)

(Baca juga: Kulari ke Pantai, Film Anak Terbaru Mira Lesmana & Riri Riza)

Kalau Sadam lebih memperlihatkan sosok anak laki-laki yang suka merundung, Happy sebagai cermin anak zaman sekarang yang lebih suka bersahabat dengan gawai dan berkomunikasi melalui gawai. Selebihnya tidak ada persamaan lain antara Sadam dan Happy.

Benang merah cerita Kulari ke Pantai memang antara Sam dan Happy. Namun, dengan menempuh perjalanan panjang melalui darat sepanjang pulau Jawa tentu ikut menyuguhkan beberapa destinasi wisata, hingga ragam kuliner menarik. Bukan tidak mungkin jika di kemudian hari destinasi di film Kulari ke Pantai ikut menjadi ramai dikunjungi, seperti yang terjadi dalam dalam film Ada Apa Dengan Cinta 2. 

Gambar pemandangan alam diambil dengan cantik, terutama ketika mengambil detail gambar ombak saat pemain melakukan adegan surfing. Tidak ada pergantian pemain untuk adegan surfing, sehingga tampak natural.

Ada problem bahasa yang juga ingin disinggung di film ini. Pertama, ketika Happy yang lama tinggal di Jakarta merasa lebih bangga menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari. Ini menjadi dampak dari tuntutan keluarga dan sekolah yang menginginkan anak-anak bisa berbahasa Inggris sejak kecil, smentara belum benar-benar bisa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. 


Sam (Maisha Kanna) saat melakukan surfing. (Foto: Dok. Miles Films)

Lewat film ini, Mira berharap bahasa Indonesia ikut dilestarikan di samping ada tuntutan berbahasa Inggris untuk bekal masa depan. Kedua, dari perjalanan panjang yang ditempuh mereka bertemu dengan warga lokal dengan aksen dan dialek bahasa yang kental sesuai daerah masing-masing.

Perjalanan mereka bertambah seru ketika Suku_Dani hadir di setiap waktu yang tidak terduga dengan dongeng dan aksen Papua yang khas. Ragam bahasa daerah yang ditunjukkan menjadi pengingat Indonesia yang kaya akan bahasa dan budaya.

Film Kulari ke Pantai menjadi film anak terbesar dan mahakarya Miles Film yang sempat mati suri selama satu dekade kemarin, setelah berhenti memproduksi film anak. Dalam pengerjaan naskah, Mira Lesmana masih berduet dengan Riri Riza dibantu Gina S. Noer dan Arie Kriting. Soal komedi, Arie Kriting sukses memberikan konten humor tanpa adegan slapstick. 

Aksi Dodit Mulyanto juga sukses mengocok perut penonton. Dalam proyek ini formasi Riri Riza sebagai sutradara dan Mira Lesmana sebagai produser, seperti di film-film sebelumnya. Untuk mega proyek ini Miles Films bekerja sama dengan ideosource Entertainment, studio Base dan Go-Jek.


(Ragam bahasa daerah yang ditunjukkan menjadi pengingat Indonesia yang kaya akan bahasa dan budaya dalam film Kulari ke Pantai. Foto: Dok. Miles Films)

Selain itu, film anak ini semakin lengkap dengan hadirnya lagu-lagu anak sebagai soundtrack film. Mira Lesmana menggandeng RAN untuk mengisi lagu tema Kulari ke Pantai serta beberapa judul lain seperti Hijau dan Biru, dan lagu Gemilang yang disusun composer Dwiki Dharmawan. 

Pemain utama Maisha Kanna dan Lil’li Latisha juga ikut menyumbangkan suaranya dalam lagu remake Selamat Pagi. Mhala dan Tantra Numata ikut menyusun lagu Ibuku Cantik untuk dinyanyikan khusus oleh Maisha. Lalu Suku_Dani dengan lagu Mau Apa?. 

Kompetisi cipta lagu anak juga digelar bekerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (BEKraf). Lima lagu karya para finalis dikemas dalam album kompilasi khusus di antaranya "This is My Holiday" karya Stephen Irianto Wally yang keluar sebagai pemenang, dibawakan Glenn Fredly, Maisha Kanna, Lil’li Latisha dan Ibam; "Teman" karya Ghalifa Albaladi dibawakan oleh Kafin Sulthan.

""Senyum untuk Dunia" karya Pika Iskandar dibawakan oleh Lil’li Latisha; "Parampampam" karya Ikbar Haskara Darmajati dibawakan oleh Arina Ephipania; "Menjelajah Dunia" karya Nurul Susantono (didaftarkan oleh Era Patigo Rizky) dibawakan oleh Maisha Kanna.






(TIN)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id