Laut Bercerita dikabarkan terpilih menjadi salah satu proyek film untuk perwakilan Asia yang masuk dalam program bergengsi "HAF Goes to Cannes” di ajang Marché du Film 2026.
Kabar tersebut pertama kali diumumkan oleh Lynx Films melalui media sosial resmi mereka pada 10 Mei 2026. Program “HAF Goes to Cannes” sendiri akan berlangsung pada 15 hingga 18 Mei 2026 di Cannes, Prancis.
Ajang ini menjadi kesempatan besar bagi proyek-proyek film terpilih untuk bertemu dengan produser, distributor, investor, hingga penyelenggara festival film internasional dari berbagai negara.
Diangkat dari novel laris karya Leila S. Chudori, Laut Bercerita menghadirkan kisah yang menyentuh tentang hilangnya seorang aktivis mahasiswa bernama Biru Laut pada masa akhir pemerintahan Orde Baru. Tidak hanya berfokus pada perjuangan sang tokoh utama, cerita ini juga memperlihatkan luka dan pergulatan emosional keluarga yang terus mencari keberadaan Laut di tengah ketidakpastian.
Sejak pertama kali diterbitkan, novel ini mendapat sambutan luar biasa dari pembaca dan dianggap sebagai salah satu karya sastra Indonesia yang paling berpengaruh.
Sebelum dikembangkan menjadi film panjang, sebelumnya novel Laut Bercerita sempat lebih dulu diadaptasi ke dalam film pendek berdurasi sekitar 30 menit yang disutradarai oleh Pritagita Arianegara. Film pendek tersebut dibintangi sejumlah aktor ternama seperti Reza Rahadian, Dian Sastrowardoyo, Ayushita, Lukman Sardi, hingga Tio Pakusadewo.
Novel Laut Bercerita sendiri ditulis menggunakan sudut pandang Biru Laut Wibisono dan adiknya, Asmara Jati. Cerita dimulai dengan latar belakang pada tahun 1991, menggambarkan kehidupan sekelompok mahasiswa di Seyegan, Yogyakarta. Mahasiswa-mahasiswa tersebut memang mempunyai ketertarikan pada dunia sastra, gemar berdiskusi mengenai sastra, dan isu sosial politik negara. Mereka juga membaca karya-karya sastra yang sering dianggap sensitif dan bahaya di masa itu, termasuk tulisan milik Pramoedya Ananta Toer yang sempat dilarang pada masa tersebut.
Leila S. Chudori menggunakan alur maju mundur dalam novel ini. Pembaca diajak berpindah dari masa ketika Biru Laut masih aktif sebagai mahasiswa hingga saat dirinya menjadi tahanan politik pada tahun 1998.
Konflik yang dihadapi Laut pun semakin kompleks, ketika ia bersama teman-teman aktivisnya mulai aktif membela para petani jagung di Blangguan yang tanahnya dirampas secara tidak adil oleh pemerintah. Aktivitas diskusi, aksi demonstrasi, dan gerakan perlawanan mereka perlahan menarik perhatian aparat intelijen.

Situasi tersebut semakin memburuk setelah salah satu sahabat Laut membocorkan informasi penting kepada intel. Pengkhianatan tersebut menjadi awal dari penangkapan dan hilangnya sejumlah aktivis, termasuk Biru Laut.
Setelah itu, cerita beralih pada perjuangan keluarga korban, terutama Asmara Jati, yang terus berusaha mencari keberadaan para mahasiswa yang hilang tanpa jejak selama bertahun-tahun. Kisah inilah yang membuat Laut Bercerita terasa begitu emosional sekaligus kuat secara sosial dan politik.
Masuknya film Laut Bercerita ke program bergengsi “HAF Goes to Cannes” di ajang Marché du Film 2026 membuat suatu kebanggaan sendiri bagi banyak para penggemar. Ditambah, film panjang Laut Bercerita juga dikabarkan bakal tayang pada tahun 2026, jadi antusiasme penonton makin besar.
Banyak yang sudah tidak sabar menantikan adaptasi ini karena novel Laut Bercerita memang punya tempat spesial di hati banyak orang. Ceritanya yang emosional dan penuh makna membuat novel ini begitu melekat bagi para pembacanya. Tak heran kalau kabar film ini langsung disambut heboh dan penuh ekspektasi.
(Maiza Jasmine A.R)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News