Hal ini disampaikannya dalam sebuah video di situs web Black Forest Labs, perusahaan teknologi Jerman yang berbasis di Amerika Serikat. Sebelumnya, Scorsese didapuk sebagai penasihat bagi perusahaan tersebut, terutama dalam hal penggunaan program pembuat gambar milik mereka: FLUX .
Kesulitan Menyampaikan Visi Kepada Pemain dan Kru
Sineas berusia 83 tahun ini mengungkap bahwa ia terbiasa membuat rancangan visual atau storyboard sendiri selama puluhan tahun untuk membantu menerjemahkan ide-idenya ke layar.Meski demikian, ia kini merasa sering kesulitan menyampaikan visi di kepalanya kepada para pemain serta kru.
“Ada beberapa hal yang harus dilihat dan dirasakan. Saya tertarik pada perpaduan antara teknologi dan penceritaan, serta melihat bagaimana hal itu dapat memperluas batas-batas kreativitas untuk menciptakan pengalaman yang lebih mendalam dan kaya bagi penonton,” tuturnya.
Baca Juga :
Eksklusif: Musisi Thailand NOTEP Tak Setuju AI Gantikan Musisi, Tapi Akui Pernah Gunakan untuk Ini
Scorsese mengaku AI sangat membantunya, terutama dalam mempercepat proses kerja sekaligus membuka ruang kreativitas baru. Ia dapat menghasilkan sekaligus menyebarkan storyboard kepada tim produksi dalam waktu singkat.
Tim produksi kemudian mengembangkannya menjadi konsep sinematik yang lebih matang.
“Baru-baru ini, saya mengujinya pada sebuah adegan, dan kemampuan untuk memvisualisasikan sekaligus membagikan storyboard secara langsung benar-benar memberikan kebebasan kreatif,” cerita Scorsese.
“Selama proses praproduksi, waktu adalah uang, dan hal ini memungkinkan kami untuk bergerak lebih cepat tanpa mengorbankan kualitas atau keahlian,” tambahnya.
Langkah Tak Terduga dari Scorsese
Dukungan Scorsese terhadap AI terbilang cukup mengejutkan. Selama ini, ia dikenal sebagai sosok yang kerap mempertahankan nilai-nilai tradisional dalam dunia perfilman, termasuk lewat kritiknya terhadap dominasi film superhero.Namun, ia sudah sempat merangkul teknologi baru dalam beberapa film garapannya. Martin Scorsese menggunakan sistem 3D untuk film Hugo (2011) dan teknologi de-aging dalam film The Irishman (2019).
“Ingat, sinema adalah media yang masih muda, baru berusia sekitar 125 tahun, jadi kita harus terbuka terhadap bagaimana sinema dapat berkembang,” katanya.
Kontroversi AI di Dunia Hiburan
AI kini menjadi topik yang memicu perdebatan di seluruh dunia karena potensinya untuk menggeser peran manusia dalam proses kreatif.Baru-baru ini, Val Kilmer, aktor yang meninggal dunia tahun lalu, diumumkan sebagai “bintang” film baru berjudul As Deep As The Grave. Karakternya pun diciptakan menggunakan AI generatif dengan restu keluarganya.
Tahun lalu, James Cameron mengatakan bahwa ia sedang mengeksplorasi bagaimana AI dapat membantu industri film “mengurangi biaya hingga setengahnya” tanpa “memberhentikan setengah dari staf”.
Di sisi lain, Morgan Freeman mengambil tindakan hukum terhadap peniru AI yang menggunakan suaranya. Bulan lalu, Paus Leo XIV menyuarakan penolakannya terhadap bahaya teknologi tersebut.
Di dunia musik, Jack Osbourne baru-baru ini menanggapi kritik terhadap keputusan keluarganya untuk membuat avatar AI ayahnya, Ozzy, yang meninggal tahun lalu. Ia berdalih bahwa sang ayah akan menyukainya.
(Nyimas Ratu Intan Harleysha)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News