Jakarta: Sebuah momen bersejarah menggetarkan panggung perfilman internasional ketika film dokumenter terbaru mengenai tragedi kemanusiaan di Gaza berjudul “NAZA” tayang perdana. Penayangan ini tidak hanya mencuri perhatian para kritikus film, tetapi juga menggugah empati mendalam dari seluruh audiens yang hadir hingga menciptakan rekor tepuk tangan berdiri terpanjang dalam sejarah festival tersebut.
Penghormatan Bersejarah di Venice International Film Festival
Film dokumenter “NAZA” diputar pertama kali dalam kompetisi utama ajang 83rd Venice International Film Festival yang berlangsung di Venezia, Italia. Pemutaran perdananya digelar pada Rabu, 10 September 2026. Usai pemutaran berakhir, seluruh penonton di dalam aula bioskop memberikan apresiasi berupa standing ovation selama 24,5 menit tanpa henti. Capaian luar biasa ini resmi memecahkan rekor pemutaran film terlama yang sebelumnya dipegang oleh dokumenter “The Voice of Hind Rajab”. Suasana gedung bioskop berlangsung sangat haru ketika beberapa penonton turut mengibarkan bendera Palestina di tengah sorak apresiasi.
Rincian Lokasi dan Jadwal Penayangan Lengkap
Perjalanan penayangan film dokumenter “NAZA” terbagi dalam beberapa fase festival internasional hingga rencana rilis untuk publik luas:
-
Venice International Film Festival (World Premiere): Diputar di Venezia, Italia, pada Rabu, 10 September 2026.
-
San Sebastián International Film Festival: Dijadwalkan tayang di San Sebastián, Spanyol, pada kurun waktu 18–26 September 2026.
-
New York Film Festival (NYFF): Diputar di New York, Amerika Serikat, pada 25 September–12 Oktober 2026.
-
Penayangan Publik & Streaming: Untuk akses komersial bioskop global maupun ketersediaannya di platform pemutaran digital (seperti kanal publikasi “The Guardian”), rincian tanggal rilis resminya masih menunggu pengumuman lebih lanjut setelah tur festival film dunia selesai.
Baca Juga :
Sinopsis dan Pemeran Drakor Outback di Netflix, Mengungkap Misteri Kematian di Australia
Pengungkapan Kesaksian Orang Dalam dari Ranah Intelijen
Dokumenter “NAZA” disutradarai oleh pasangan sineas asal Israel, Yuval Abraham dan Rachel Szor. Keduanya bekerja sama dengan produser eksekutif pemenang Oscar, Jonathan Glazer, serta media terkemuka “The Guardian” dan produser James Wilson. Judul NAZA sendiri mengacu pada istilah internal intelijen militer yang digunakan untuk menghitung estimasi jumlah korban sipil (collateral damage) sebelum sebuah serangan udara dilancarkan. Film ini memuat wawancara eksklusif bersama 24 perwira intelijen serta prajurit militer Israel yang angkat bicara secara anonim mengenai mekanisme sistemik di balik operasi militer dan pengawasan massal berbasis kecerdasan buatan (AI) di Gaza.
Proses Produksi Senyap demi Kemanusiaan dan Akuntabilitas
Penggarapan karya ini memakan waktu selama tiga tahun dan dilakukan secara rahasia untuk menjaga keselamatan para pembuat film serta narasumber yang terlibat. Wawancara dilakukan pada malam hari di lokasi-lokasi tersembunyi seperti atap gedung daerah Tel Aviv. Para sutradara menegaskan bahwa proyek ini lahir dari tanggung jawab moral untuk memanfaatkan akses informasi dari dalam masyarakat mereka sendiri. Melalui dokumen dan kesaksian ini, mereka berharap publik dunia dapat melihat secara transparan bagaimana sistem militer beroperasi, sekaligus mendorong akuntabilitas atas pelanggaran hak asasi manusia serta penghentian kekerasan terhadap warga sipil Palestina.
(Sumber: Youtube @APT)
(Dinda Intan Ramadhani)