Film Holy Crowd merupakan kolaborasi dua sineas Asia Tenggara, Reza Fahriyansyah (Indonesia) dan Ananth Subramaniam (Malaysia). Selain Prilly, film ini juga dibintangi Yusuf Mahardika, Yudi Ahmad Tajudin, dan Arswendy Bening Swara.
​Prilly sendiri berperan sebagai Ratna, seorang perempuan yang mengalami mati suri, ia bahkan dituntut untuk tampil totalitas dengan balutan kain kafan asli.
Dalam jumpa pers yang digelar di Institut Français Indonesia (IFI), Jakarta Pusat, pada Selasa, 5 Mei 2026, ia mengaku pengalaman ini sangat membekas hingga dirinya sempat migrain ketika memerankan karakter pocong tersebut.
"Yang berkesan itu setiap saya datang ke lokasi syuting dan harus pakai kain kafan sih. Itu berkesan banget ya. Dan setiap ngaca saya selalu kayak 'amit-amit jabang bayi, jangan dulu ya Allah'," ungkap Prilly.
Ia mengaku, penggunaan kain kafan yang dibuat menyerupai kondisi aslinya turut memengaruhi kondisi fisik dan mentalnya selama proses produksi. Rasa tidak nyaman hingga overthinking kerap muncul setiap kali mengenakan kostum tersebut.
"Beneran deh rasanya itu beda banget sih pas kita fitting pakai kain kafan. Dan ini bener-bener pakai kain kafannya tuh mengikuti aslinya ya. Bener-bener kayak dibungkus gitu dan deg-degan banget. Setiap pakai kain kafan karena saya juga mungkin jadi overthinking, pasti migrain dan langsung overthinking gitu," lanjutnya.
Bagi Prilly, tantangan dalam Holy Crowd bukan sekadar aspek visual yang menyeramkan. Ia harus mampu mengekspresikan pergolakan batin dan "keabsurdan" yang dialami karakter Ratna saat berada di ambang kematian.
"Yang paling berkesan sebenarnya bagaimana si karakter Ratna ini harus menggambarkan banyak keabsurdan yang ada di kepalanya dan itu lumayan susah dan berkesan, karena perlu diskusi panjang dengan sutradaranya yaitu Reza dan Ananth," tutupnya.
Keterbatasan gerak karena tubuh yang terbungkus rapat menjadi ujian tersendiri bagi kemampuan aktingnya. Prilly harus memaksimalkan ekspresi minimalis untuk menyampaikan pesan yang kompleks dari karakter tersebut.
"Sebenarnya apa sih yang ada di pikiran si Ratna ini gitu? Apa yang dia lihat? Kenapa dia kayak gini? Nah itu lumayan agak susah dengan keterbatasan karena harus pakai kain kafan itu," tutup Prilly Latuconsina.
Keberangkatan film ini ke Cannes membuktikan bahwa eksplorasi tema-tema lokal yang dikemas dengan visi artistik yang kuat mampu menarik perhatian kurator film dunia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News