Oldboy (foto via imdb)
Oldboy (foto via imdb)

10 Film Asia yang Punya versi Hollywood

Purba Wirastama • 05 Februari 2018 12:25
Jakarta: Daur ulang atau adaptasi atas film atau kisah dari Asia oleh studio-studio film Amerika Serikat atau Hollywood bukan hal baru. Dalam satu abad perjalanan industri film AS, sudah banyak produksi film yang lebih dulu punya versi Asia dalam beragam medium visual.  
 
Terakhir yang cukup populer adalah Ghost in the Shell garapan Rupert Sanders dengan aktor utama Scarlett Johansson. Sebelumnya sudah ada film animasi Jepang berjudul sama tahun 1995 garapan sutradara Mamoru Oshii. Kedua film sama-sama berangkat dari komik Jepang berjudul sama karya Masamune Shirow. 
 
Lalu pada Juli mendatang, ada film cyberpunk Alita: Battle Angel garapan Robert Rodriguez, adaptasi dari materi yang sama dengan animasi Jepang Battle Angel (1993) garapan Hiroshi Fukutomi. 
 
Kami merangkum 10 judul film terkemuka dari Asia yang punya versi Hollywood. Film-film versi asli berasal dari era berbeda, mulai 1950-an hingga 2000-an. Sebagian merupakan daur ulang dari film pertama, sebagian lagi sekadar punya sumber materi adaptasi yang sama. 
 
 
1. Gojira (Jepang, 1954)
 
Film sci-fi dengan tokoh monster raksasa ini merupakan film pertama dalam waralaba Godzilla Jepang. Ishiro Honda menulis naskah dan menjadi sutradara di bawah naungan produksi Toho. Setelah film ini, Toho telah membuat dan merilis 29 film Godzilla hingga 2017 dan akan merilis dua sekuel pada 2018. 
 
Pada era 1990-an, TriStar Pictures (grup Sony Pictures) bergabung dengan waralaba ini untuk membuat Godzilla versi Amerika. Film pertama yang berjudul Godzilla (1998) dianggap gagal kendati mencapai keuntungan finansial. 
 
Pada era 2000-an, giliran Legendary dan Warner Bros. Pictures yang bergabung ke waralaba. Mereka telah merilis satu film berjudul Godzilla (2014) dan kini sedang mengerjakan dua film, yaitu Godzilla: King of the Monsters (2019) dan Godzilla vs. Kong (2020). 
 
 
2. Seven Samurai (Jepang, 1954)
 
Drama petualangan samurai Jepang ini ditulis, disutradarai, serta disunting Akira Kurosawa. Seven Samurai disebut-sebut menjadi salah satu film Jepang terlaris, telah menaikkan standar industri perfilman Jepang dan punya pengaruh luas dalam perfilman secara umum. 
 
Pada 1960, United Artists merilis film The Magnificent Seven garapan John Sturges. Tiga film sekuel menyusul rilis hingga 1972, tetapi tak sesukses film pertama. Lalu pada 2016, Columbia Pictures merilis The Magnificent Seven garapan sutradara Antoine Fuqua dan penulis Nic Pizzolatto serta Richard Wenk. 
 
Selain itu, kisah Seven Samurai juga dibuat ulang pada era 1970-an oleh New World Pictures, studio di luar Hollywood yang berbasis di Georgia. Film berjudul Battle Beyond the Stars dan digarap sutradara Jimmy Murakami. Kisahnya berlatar luar angkasa. 
 
 
3. Antarctica (Jepang, 1983)
 
Film garapan sutradara Koreyoshi Kurahara ini bercerita tentang ilmuwan Jepang serta belasan anjing husky yang berjuang bertahan hidup dalam ekspedisi Kutub Selatan. Antarctica sukses secara komersial dan diunggulkan dalam sejumlah ajang penghargaan. 
 
Kisah ini diadaptasi oleh Frank Marshall dan David DiGillio lewat film Eight Below (2006) yang dibintangi mendiang Paul Walker. Anjingnya tak sampai belasan tetapi delapan, terdiri atas dua Alaskan Malamute dan enam husky. Film ini dirilis Buena Vista Pictures (grup Walt Disney).
 
 
4. Hachiko Monogatari (Jepang, 1987)
 
Film garapan Kaneto Shindo dan Seijiro Koyama ini menyajikan kisah tragis tentang anjing Akita yang setiap terhadap sang tuan, bahkan setelah tuannya mati. Naskahnya berangkat dari kisah nyata profesor Hidesaburo Ueno dan anjingnya yang bernama Hachiko pada tahun 1920-an.
 
Versi Hollywood film ini digarap oleh Lasse Hallstrom dan Stephen Lindsey dalam judul Hachi: A Dog's Tale. Setelah dirilis perdana di Festival Film Seattle pada 2009, Hachi: A Dog's Tale dirilis oleh Sony Pictures di bioskop lewat divisi Stage 6 Films. 
 
 
5. My Sassy Girl (Korea Selatan, 2001)
 
Ini adalah komedi romantis dari Korea Selatan garapan Kwak Jae-yong dan Kim Ho-sik, hasil adaptasi novel berjudul sama tulisan Kim Ho-sik. Film ini laris saat dirilis kawasan Asia Timur pada 2001. Sekuelnya, My New Sassy Girl (2016) digarap rumah produksi Korea dan Tiongkok.
 
Beberapa tahun kemudian, Yann Samuell dan Victor Levin membuat versi Amerika atas kisah ini dalam judul sama. Film ini dirilis langsung ke DVD oleh Fox Home Entertainment pada 2008.
 
 
6. Internal Affairs (Tiongkok, 2002)
 
Film thriller kriminal Hong Kong ini digarap oleh Andrew Lau, Alan Mak, dan Felix Chong. Film ini sukses besar secara komersial dan mendapat ulasan positif. Film ini dikirimkan ke Oscars untuk seleksi kategori Best Foreign Language Film, tetapi tak lolos nominasi. 
 
Martin Scorsese dan William Monahan membuat ulang film ini dalam judul The Departed. Film dirilis Warner Bros. Pictures pada 2006 dan memenangkan sejumlah penghargaan, termasuk film terbaik Oscars.
 
 
7. The Eye (Tiongkok, 2002)
 
Film horor Mandarin ini juga dikenal dengan judul Seeing Ghosts dan digarap saudara kembar Danny Pang Phat dan Oxide Pang Chun, atau akrab disebut Pang Brothers. Mereka membuat dua sekuelnya, yaitu The Eye 2 (2004) dan The Eye 10 (2005). 
 
Daur ulang versi Hollywood digarap oleh David Moreau, Xavier Palud, dan Sebastian Gutierrez dalam judul sama. Film dirilis oleh Paramount pada 2008 dan mendapat keuntungan finansial kendati tidak mendapat sambutan positif. Sutradara David Moreau juga kecewa dengan hasil akhir film ini. 
 
Selain Hollywood, The Eye juga dibuat ulang dalam versi India Mumbai dan India Tamil. 
 
 
8. Oldeuboi (Korea Selatan, 2003)
 
Film laga misteri neo-noir ini digarap oleh Park Chan-wook, Hwang Jo-yoon, dan Im Joon-hyeong. Kisahnya diadaptasi dari komik Jepang berjudul sama karya Nobuaki Minegishi dan Garon Tsuchiya. Oldeuboi adalah film kedua dalam trilogi The Vengeance karya Park Chan-wook.
 
Versi Amerika digarap oleh Spike Lee dan Mark Protosevich dalam judul Old Boy. Film dirilis oleh FilmDistrict pada 2013 dan rugi besar secara komersial. Film ini juga mendapat ulasan buruk karena dinilai tak menyajikan hal baru. 
 
Selain Hollywood, Bollywood juga punya versinya sendiri, yaitu Zinda (2006). Kendati banyak kemiripan, film garapan Sanjay Gupta ini tidak dinyatakan secara resmi sebagai daur ulang atas Oldeuboi. 
 
 
9. Shutter (Thailand, 2004)
 
Film horor Thailand tentang foto misterius ini digarap oleh Banjong Pisanthanakun, Parkpoom Wongpoom, dan Sopon Sukdapisit. Shutter sukses besar secara komersial dan dikenal dalam lingkup internasional. 
 
Sutradara Jepang Masayuki Ochiai dan penulis Amerika Luke Dawson mendaur ulang kisahnya dalam film berjudul sama. Shutter dirilis oleh 20th Century Fox pada 2008 dan sukses secara komersial.
 
Shutter juga didaur ulang dalam versi Kollywood (India Tamil) serta Bollywood (India Mumbai). Ada Sivi (2007) garapan Senthil Nathan dan Click (2010) garapan Sangeeth Sivan. 
 
 
10. A Wednesday! (India, 2008)
 
Film thriller India Mumbai ini digarap oleh Neeraj Pandey. Kendati dana produksi dan promosi terbatas, A Wednesday mencapai sukses secara komersial perlahan karena efek komunikasi pemasaran lisan (word of mouth). Film 100 menit ini mengikuti kisah polisi yang sudah hendak resmi pensiun pada suatu Kamis sore.
 
Versi Amerika digarap oleh Chandran Rutnam, sutradara-penulis Sri Lanka keturunan Amerika, dalam judul A Common Man. Film dirilis oleh Myriad Pictures pada 2013.  
 
Sebelumnya, A Wednesday telah digarap ulang oleh sutradara Chakri Toleti dalam versi Tamil  dengan judul Unnaipol Oruvan (2009) dan dalam versi Telugu dengan judul Eenadu (2009).
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(DEV)




TERKAIT

BERITA LAINNYA