The Boy With Moving Image (Foto: Cinemora Pictures)
The Boy With Moving Image (Foto: Cinemora Pictures)

The Boy With Moving Image Ingin Bangkitkan Ekosistem Film Independen

Sunnaholomi Halakrispen • 11 Maret 2021 16:27
Jakarta: Salah satu film karya anak bangsa, The Boy With Moving Image (TBWMI) adalah fitur film pertama dari Roufy Nasution yang dibuat bersama beberapa sineas muda Bandung Raya, di bawah payung Cinemora Pictures dan Aksa Bumi Langit.
 
Selama 103 menit, Roufy banyak mencurahkan kegelisahan yang tidak bisa dituangkan ke dalam film pendek. Roufy juga mencoba menangkap beberapa momen-momen di luar kebiasaan manusia yang kemungkinan terjadi dalam hidup manusia.
 
Film ini menceritakan sosok Vaiyang yang diperankan oleh Bryancini. Karakter sutradara yang ingin menyewa sebuah rumah untuk keperluan shooting yang kebetulan ditinggali oleh seorang perempuan bernama Ning (diperankan oleh Nithalie Louisza).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pertemuan itu berujung pada diperbolehkannya Vaiyang menggunakan rumah Ning. Asalkan, sutradara muda itu mau menemani Ning hingga hari ajalnya tiba.
 
Melalui adegan-adegan film TBWMI dan visi artistiknya, sang sutradara ingin menambahkan keberagaman genre dan bentuk dalam khazanah perfilman Indonesia, bahkan dunia. Melalui potret yang sederhana, interaksi Vaiyang dan Ning dikemas dengan pendekatan natural dan organik.
 
"Berharap bahwa film ini bukan hanya menjadi sekadar film, tetapi menjadi sebuah gerakan yang membangkitkan ekosistem film independen di Bandung, agar dapat terus eksis karena bertahun-tahun belum ada lagi yang berani membuat fitur film independent fiksi di bandung," tutur Produser film TBWMI, Dzikri Maulana dalam rilisnya.
 
"Melihat semangat yang sama seperti apa yang coba ia perjuangkan 10 tahun lalu dengan Aksa Bumi Langit," tambah produser film TBWMI sekaligus sinematografer Anggi Frisca.
 
TBWMI diputar pertama kali pada program Indonesian Splash yang diselenggarakan oleh festival Jogja Asian-NETPAC Film Pacific pada tanggal 27 Desember 2020. Selain itu, berhasil masuk nominasi Piala Maya 2021 dengan kategori Film Cerita Panjang Eksebisi Non-Reguler Terpilih.
 
Pada 2021, diharapkan film TBWMI dapat dinikmati di sejumlah bioskop Indonesia. Juga di berbagai ruang pemutaran alternatif komunitas film Indonesia.
 
Di sisi lain, karya ini tidak bisa terwujud tanpa adanya bantuan komunitas-komunitas film Bandung Raya, khususnya dan komunitas film di Indonesia pada umumnya.
 
Film TBWMI menjadi berbeda. Sebab, mengusung semangat guerrilla filmmaking yang selama beberapa tahun ini belum ada lagi pergerakan sinema di Kota Bandung untuk berkolaborasi  bersama dalam membuat fitur film.
 
Guerilla filmmaking sendiri merupakan pembuatan film dengan cara yang tidak konvensional. Pembuatannya mengacu pada film independen yang bercirikan anggaran, kru, dan alat yang sederhana. Namun dengan segala keterbatasan itu, malah menjadi semangat bagi kami kru TBWMI untuk berkarya semaksimal mungkin dalam mewujudkan cita-cita kami bersama dalam film ini.
 
(ELG)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif