Ketika Komika Jadi Sutradara Film
Ernest Prakasa, komika yang juga sukses sebagai sutradara (Foto: medcom/purba wirastama)
Jakarta: Komika menulis dan menyutradarai film cerita bukanlah kisah yang baru-baru amat karena kita sudah mengenal lima di antaranya dalam empat tahun terakhir. Dimulai dari Raditya Dika dengan film Malam Minggu Miko produksi Visualika, lalu disusul sejumlah komedian populer lain seperti Ernest Prakasa, Soleh Solihun, Bayu "Skak" Moektito, serta Pandji Pragiwaksono.

Dari mereka berlima sebagai sutradara serta tim masing-masing dari empat rumah produksi berbeda, kita sudah punya sedikitnya 13 film rilis dengan ragam aliran komedi. Ada komedi drama, percintaan, thriller, horor, remaja, dan juga laga. Film terakhir yang baru saja dirilis adalah komedi horor Reuni Z garapan Soleh.

"Menurut saya, ini bukti bahwa para produser sudah percaya ke stand-up comedian untuk menjadi sutradara," kata Soleh saat ditemui usai pemutaran perdana Reuni Z di XXI Epicentrum Jakarta, awal April lalu.


Film-film garapan para komika ini juga tak bisa dianggap remeh. Beberapa film terhitung sukses secara komersial saat dirilis di bioskop. Marmut Merah Jambu, Single, Ngenest, Cek Toko Sebelah, Hangout, Koala Kumal, Susah Sinyal, dan Yowis Ben masuk dalam jajaran 10 film laris pada tahun rilis masing-masing. Sebagian juga meraih penghargaan, seperti Hangout, Ngenest, dan Cek Toko Sebelah.




Kerja Tandem

Reuni Z adalah film kedua Soleh sebagai penulis sekaligus sutradara, yang dikerjakan tandem bersama sutradara Monty Tiwa serta penulis naskah Agasyah Karim dan Khalid Kasogi. Proyek ini berawal dari ajakan produser Sunil Samtani dari Rapi Films kepada Soleh untuk membuat ide cerita film yang seru dan ringan.

"Mereka menawarkan, kenapa enggak pemain ensambel kumpul bikin horor? Wah, saya bilang boleh juga tuh. Terus dia kasih tahu cerita zombie breakout, saya bilang, ini konsep yang cukup menarik. Pemain bisa banyak dan Soleh sendiri tertarik untuk menyutradarai," kata Sunil kepada Medcom.id.

Terkait kerja tandem dengan sutradara dan penulis naskah lain, Soleh mengaku alasannya tidak lain adalah soal pengetahuan profesional atau teknis mengenai produksi film, yang mana belum dia kuasai. Film debutnya, Mau Jadi Apa? pun awalnya hanya direncanakan sebagai buku autobiografi sebelum pihak penerbit mengajak Starvision Plus untuk mengadaptasi naskah buku menjadi naskah film.

"Gue enggak mau tiba-tiba mengambil (proyek film) itu. Gue ingin ditemani orang yang memang sudah jadi sutradara beneran, dan di antara semua sutradara di Indonesia, menurut gue, sutradara yang paling cocok dengan gue ya Monty Tiwa. Karena dulu pernah main filmnya juga," kata Soleh di Jakarta, November 2017.

Tak hanya Soleh, tiga komika lain setelah Radit juga melibatkan sineas profesional untuk membantu pengerjaan naskah dan penyutradaraan. Ernest berkolaborasi dengan penulis naskah Jenny Jusuf dan sutradara Adink Liwutang untuk film debutnya, Ngenest (2015). Untuk film-film berikutnya, Ernest lebih percaya diri untuk urusan naskah. Namun Jenny tetap terlibat sebagai konsultan naskah.

Yang menarik, Ernest melibatkan sang istri, Meira Anastasia secara bertahap, dimulai dari departemen cerita. Dalam Cek Toko Sebelah (2016), Meira hanya bergabung dalam tim cerita. Dalam Susah Sinyal (2017), Meira ikut menulis naskah untuk memberi sentuhan drama. Dalam proyek terbaru yang sedang disiapkan, Milly & Mamet, Meira tidak sekadar menulis, tetapi juga menjadi ko-sutradara.

Talenta Komika Dinilai Bisa Jadi Modal untuk Garap Film

"Kalau dihitung dari pacaran, kami sudah bersama 16 tahun. Cukup kenal luar dalam isi kepala. Sudah saling mengerti dan bekerja sama dengan cukup baik. Kompak. Pola pikirnya, kami punya selera yang sama," kata Ernest saat mengumumkan proyek Milly & Mamet produksi Starvision Plus dan Miles Films, Maret lalu.

Sama halnya dengan Bayu Skak dan Pandji. Untuk film debutnya yang berbahasa Jawa-Malang, Yowis Ben (2018), Bayu mengerjakan tandem dengan penulis naskah Bagus Bramanti dan Gea Rexy serta sutradara Fajar Nugros. Sementara itu, Pandji mengajak sutradara Raymond Handaya dan tim penulis "Goks Writing Team" untuk Partikelir (2018).



Kerja tandem tak hanya soal naskah dan penyutradaraan. Bahkan untuk urusan komedi, komedian-sineas ini pun tetap membutuhkan peran penulis atau komedian lain, yang secara khusus memberikan suntikan komedi dalam skenario. Arie Kriting, Bene Dion Rajagukguk, dan Andi "Awwe" Wijaya adalah tiga orang yang kerap terlibat sebagai konsultan komedi.

"Biasanya mereka juga menyadari masalah mereka sendiri," kata produser Chand Parwez Servia dari Starvision Plus kepada Medcom.id, awal Desember 2017.

"Mereka biasa punya tim untuk penulisan. Ernest sendiri sebenarnya sudah lucu, tetapi tetap merasa butuh konsultan komedi. Di sini (Susah Sinyal) dia pakai Arie Kriting. Proyek film memang melibatkan banyak orang, karya kolektif," lanjutnya.

Rekan komedian tak hanya membantu urusan naskah dan cerita. Kebanyakan film ini juga melibatkan komedian sebagai pemeran untuk memberi sentuhan komedi. Bahkan tak jarang, para komedian tidak hanya muncul di film garapan salah satu komedian-sineas saja, tetapi juga film-film dari komedian lain. Beberapa wajah yang sering muncul antara lain Dodit Mulyanto, Adjisdoaibu, Andi Awwe Wijaya, dan Yusril Fahriza.

Membidik Talenta Baru

Starvision Plus telah menjadi rumah bagi kelima komedian-sineas ini. Bahkan menjadi rumah pertama bagi Ernest, Soleh, Bayu, dan Pandji. Film debut Radit sebagai sutradara dibuat di bawah payung Visualika dari produser eksekutif Budiyati Abiyoga.

Kerja sama Radit dan Starvision Plus dimulai pada film adaptasi keduanya, Marmut Merah Jambu (2014) dan disusul dengan film kelima, Koala Kumal (2016). Selain menjadi sutradara untuk dua film ini, Radit juga menulis beberapa naskah untuk Starvision Plus, seperti Manusia Setengah Salmon (2013), Cinta Brontosaurus (2013), dan Relationshit (2015).

"Memang saya selalu mengamati, siapa komika yang mempunyai potensi untuk bisa diangkat menjadi sebuah film. Pertama, tentu Raditya Dika, kemudian Ernest. Ernest, waktu saya suruh jadi sutradara, dia bilang, 'Kok Bapak menjebloskan saya'. Kalau Soleh beda lagi, 'Pak, bukan saya enggak mau, saya takut mengalahkan Raditya Dika dan Ernest'. Tapi ya itulah, Soleh," kelakar Parwez usai pemutaran perdana Mau Jadi Apa? di Jakarta, November 2017.

Bagi Parwez, komika seperti paket lengkap karena punya beragam talenta, yang sangat bisa menjadi modal untuk mengerjakan film cerita. Komika atau pelawak tunggal tak hanya bisa menghibur seorang diri di atas panggung, tetapi juga mampu menulis dan menyusun cerita.

"Komika itu multi talenta. Mereka harus bisa menyampaikan sesuatu dan tetap harus tampil, menulis naskah, dan harus bisa menyampaikan segala itu dengan comedy timing yang tepat," kata Parwez kepada Medcom.id dalam kesempatan berbeda.

"Itu adalah hal sulit karena (komika) tampil sendiri. Beda dengan komedi zaman dulu, ada orang lempar bola, ada yang menangkap. Mereka, tampil sendiri, harus bisa menciptakan sesuatu. Kemampuan ini melatih mereka menjadi sangat mudah dalam menyelesaikan atau memahami naskah, memerankan naskah, atau malah mengarahkan naskah," lanjutnya.



Sunil Samtani dari Rapi Films relatif lebih terbuka. Bagi Sunil, komika adalah satu dari sekian pelaku kreatif potensial yang bisa membawa ide cerita segar dan menarik. Sejauh ini, Rapi Films telah bekerja sama dengan Radit untuk film Hangout (2016) dan dengan Soleh untuk Reuni Z (2018).

"Mereka semua bersemangat. Kalau bicara komika lain, ada semangat untuk menyutradarai film. Saya lihat Soleh ingin banget bikin film yang keren dan baik, walaupun dia juga main. Kita harus kasih dia kesempatan, tetapi tetap ada Monty Tiwa juga mendampingi. Jadi menurut saya, enggak ada masalah. Kita harus kasih mereka kesempatan," kata Sunil kepada Medcom.id.

Selain Visualika, Starvision Plus, dan Rapi Films, rumah produksi lain yang pernah dan akan bekerja sama dengan komika sebagai penulis-sutradara adalah Soraya Intercine Films dan Miles Films. Soraya membuat film Single (2015) bersama Radit, sebelum berlanjut ke The Guys (2017) serta yang sekarang masih dikerjakan, Target (2018).

Miles bekerja sama dengan Ernest dan Starvision Plus untuk Milly & Mamet yang akan dibintangi Sissy Priscillia dan Dennis Adhiswara. Ini adalah kisah sempalan dari film legendaris Ada Apa Dengan Cinta? produksi Miles. Proyek film kolaborasi ini terhitung cukup segar karena Miles berbagi waralaba AADC dengan rumah produksi lain.

Alasan Mira Lesmana Mau Berbagi Dunia AADC dengan PH Lain

"Dulu enggak pernah kepikiran karena enggak banyak (yang berkolaborasi), tetapi saya kenal Parwez sudah lama, puluhan tahun, dan sering komunikasi. Saya juga sering tanya kepada dia. Saya pikir, perfilman Indonesia sedang semarak dan akan makin baik kalau kita bekerja sama," ujar produser Mira Lesmana saat mengumumkan proyek film Milly & Mamet di Jakarta, akhir Maret lalu.

Terkait keterlibatan Ernest, Mira mengaku telah membidik dia sejak film debut Ngenest. Mira merasa gaya bercerita dan komedi Ernest cukup konsisten. Namun lebih dari itu, Mira menyukai gaya bercerita tersebut.

"Saya penggemar Ernest dari cukup lama. Stand-up selalu saya tonton. Ketika nonton Ngenest, saya sudah merasa menemukan jalur baru. Sebuah tanda ada bakat baru muncul. Konsistensi dia di Cek Toko Sebelah tampak serius dan saya suka gayanya. Ketika muncul ide Milly & Mamet, Ernest orang paling cocok untuk Milly & Mamet," ungkap Mira.


Karier Serius?

Melihat konsistensi Radit dengan tujuh film dalam lima tahun, termasuk Target yang akan dirilis tahun ini, kita bisa melihat bahwa dia masih akan menulis atau mengarahkan film cerita dalam perjalanan ke depan. Ernest, setelah Milly & Mamet, setidaknya masih punya satu proyek film lagi bersama Starvision Plus untuk 2019. Ernest punya satu film rilis setiap tahun.

"Awalnya enggak berniat seperti itu," kata Ernest di XXI Senayan City Jakarta, Oktober 2017. Saat itu, Ernest baru saja menyelesaikan tahap produksi Susah Sinyal di Sumba Timur, NTT.

"Namun setelah Ngenest dan hasilnya cukup membahagiakan, akhirnya, ya sudah deh ditargetkan setahun satu. Kenapa setahun satu? Karena sebagai penulis dan sutradara, waktunya cuma sanggup itu. Kalau lebih, takutnya enggak fokus. Jadi mending setahun satu tapi pengerjaan maksimal. Di luar mengerjakan film, masih ada waktu buat tur stand-up, nulis buku, atau apapun," lanjutnya.

Soleh mengaku belum punya proyek film ketiga setelah menceritakan kisah personal Mau Jadi Apa? dan hiburan ringan Reuni Z. Soal sekuel Reuni Z, dia yakin Rapi Films akan melanjutkan itu jika film ini laris.

"Kalau (proyek film yang melibatkan) saya jadi sutradara, belum ada. Kalau ada yang menawari, saya teruskan. Kalau tidak ada, ya saya pasrah saja, nunggu rezeki dari Gusti Allah," kata Soleh.



Soal genre pun, dia belum tahu pasti apakah masih tetap mengandalkan komedi atau mencoba jenis pendekatan lain. Sejauh ini, semua film garapan komika memang dibungkus dengan komedi.

"Saya tipe yang tidak berpandangan jauh ke depan. Saya hidup untuk hari ini, jadi belum tahu apakah masih terus di komedi atau enggak, tapi yang jelas sampai saat ini, komedi yang masih saya nyaman jalani dan kuasai," tukas Soleh.

Mengingat banyaknya komika di Indonesia, selalu ada kemungkinan bahwa akan ada lagi sutradara atau penulis naskah baru yang datang dari dunia komedi tunggal. Hal ini turut diamini oleh produser Sunil Samtani.

"Saya terbuka asal ada cerita bagus. Saya selalu siap bekerja sama," ucap Sunil.



 



(ELG)