Film 212 dan Sisa-sisa Kontroversi dari Jakarta
Fauzi Baadila dalam 212 The Power of Love (warna pictures)
Jakarta: Film 212: The Power of Love garapan produser-sutradara Jastis Arimba menuai penolakan di bioskop Sulawesi Utara dan Palangkaraya oleh sejumlah kalangan. Alasannya, film ini dianggap berkaitan dengan benih radikalisme agama dan punya konten yang "memecah belah bangsa".

Kabar ini ramai di media sosial sejak kemarin Senin, 14 Mei 2018. Jastis membenarkan ada penolakan, tetapi mengaku belum tahu pasti pihak mana yang melarang film ditayangkan. Pihak penolak bahkan sampai datang bergerombol ke bioskop mal untuk melakukan intimidasi terhadap calon penonton dan pengelola bioskop.

"Alasannya mungkin prasangka (negatif) saja, ada indikasi sentimentil," kata Jastis kepada Medcom.id saat dihubungi lewat telepon, Selasa, 15 Mei.


"Saya juga kurang tahu kenapa menolak, tetapi kalau informasi lewat situs pencarian (internet), rata-rata yang menolak, belum menonton filmnya, menganggap filmnya punya nilai-nilai provokasi, padahal isi filmya jauh dari itu," lanjutnya.

Menurut Jastis, film yang melibatkan ustaz Erick Yusuf sebagai produser eksekutif ini punya tiga semangat utama sejak awal dikerjakan. Pertama adalah autokritik bagi umat Muslim supaya lebih santun dan bijak dalam menghadapi perbedaan. Kedua, menyampaikan pesan perdamaian dan cinta.

Ketiga, melihat kembali peristiwa aksi massa 212 di Jakarta pada 2 Desember 2016 (kasus Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama dan penistaan agama) dari salah satu sudut pandang humanis.

"Bagian mana yang mengandung unsur provokasi SARA yang mengancam kebinekaan, itu tidak ada, karena semangat membuat film ini untuk kebaikan," ucap Jastis.

Naskah film 212 ditulis oleh Jastis bersama Ali Eunoia. Kisahnya mengikuti Rahmat (Fauzi Baadila), jurnalis majalah Republik di Jakarta, yang pulang ke Ciamis begitu mendengar kabar sang ibu meninggal. Usai pemakaman, Rahmat hendak kembali ke Jakarta, tetapi tertunda karena Zainal (Humaidi Abbas) ayahnya akan berjalan kaki bersama para santri untuk ikut aksi 2 Desember 2016.

Hubungan Rahmat dan Zainal sangat tidak harmonis. Zainal menganggap Rahmat pengecut yang tidak bertanggung jawab. Rahmat berupaya menggagalkan niat ayahnya karena khawatir aksi tersebut akan memicu kerusuhan dan menimbulkan korban jiwa.

Penolakan di Palangkaraya

Pada Senin malam, 14 Mei, akun Twitter @PakatDayak membagikan dua video singkat tentang penolakan film 212 di bioskop XXI Palangkaraya Mall, Kalimantan Tengah. Tak cukup jelas apa yang hendak disorot dalam gambar, selain situasi ruang tunggu bioskop dan para calon penonton. Namun media komunitas ini menyatakan menolak kehadiran film tersebut.

"Tak ada ruang bagi radikalisme di bumi Tambun Bungai," kicau @PakatDayak.

Kicauan ini mendapat ratusan respons. Ada yang mendukung, tetapi tidak sedikit pula yang mengkritik tindakan mereka. Salah satunya adalah Iman Brotoseno, sineas yang sering berkicau soal politik di media sosial.

"Semua orang tahu posisiku dalam dunia persilatan (politik) ini, tetapi sebagai pekerja seni, tidak setuju dengan cara seperti ini. Ini apa bedanya dengan cara cara dulu yang dilakukan ormas (organisasi massa) dengan melarang pemutaran film-film tertentu. Hak bioskop juga dirugikan dengan penggerebekan ini," kicau @imanbr.

Kasus penolakan film ini memang bukan yang pertama. Pada 2017 saja, ada dua kasus. Bid'ah Cinta, yang berkisah soal asmara lelaki dan perempuan dari dua keluarga Islam berbeda aliran, ditolak karena dinilai dapat menyebarkan paham sesat. Lalu film anak-anak Naura & Genk Juara dituding telah menista agama Islam karena penggambaran tokoh antagonis yang punya berewok dan suka mengucap Astagfirullah.

Terkait komentar @imanbr, @PakatDayak memberi tanggapan balik. Mereka tetap berpendapat bahwa film ini berpotensi merusak keragaman yang sudah dirawat "sesuai dengan falsafah Huma Betang, yaitu meski keyakinan kami berbeda, tetapi kami adalah keluarga".

Dalam beberapa kicauan tanggapan lain, mereka menyebutkan alasan penolakan. Mereka juga berbagi video lama yang sempat viral pada akhir 2016, yaitu seseorang berkacamata dan berpakaian ustaz yang meneriakkan, "gue kasih satu miliar untuk bunuh Ahok".

"Kami percaya Islam itu cinta damai, tetapi tidak percaya kepada segelintir orang yang mengatasnamakan Islam tetapi beringas dan dengan gampangnya teriak bunuh," kicau @PakatDayak.

Medcom.id berusaha menghubungi Pakat Dayak untuk meminta konfirmasi lebih lanjut. Namun hingga artikel ini dimuat, belum ada tanggapan.

Sehari setelah penggerebekan bioskop Palangkaraya, tim film 212 mengadakan nonton bareng dan jumpa pers bersama Majelis Ulama Indonesia di XXI Grand Indonesia Jakarta. Helvy Tiana Rosa, produser yang berbagi kursi dengan Jastis, menyebut bahwa masalah di Palangkaraya sudah langsung selesai malam itu dengan penjagaan polisi dan para tokoh daerah.

Bahkan menurutnya, 212 sebenarnya tidak diputar reguler di kota ini, tetapi mendapat jatah satu layar justru setelah insiden.

"Terjadi dialog indah antara Dayak Muslim dan non Muslim. Ternyata masalahnya cuma salah komunikasi," kata Helvy kepada wartawan, Selasa petang, 15 Mei.

"Jadi, gara-gara tidak ditayangkan secara reguler di Palangkaraya, teman-teman Forum Lingkar Pena bikin nobar. Teman-teman forum pemuda dayak salah paham, berpikir mereka memutar film untuk komunitas sendiri dan diam-diam. Jadi, kemudian ada persekusi. Akhirnya, dibuat surat kesepakatan," lanjutnya.


Jastis Arimba, sutradara film 212 (Foto: Medcom/Purba)

Kendati begitu, Helvy dan Jastis menyayangkan ada penolakan film semacam ini. Menurut mereka, hak menurunkan film adalah milik Lembaga Sensor Film. Sejak 23 Maret 2018, film ini telah tercatat di LSF sebagai film berkategori 13+ dari Warna Kreasi Sinema.

"Terjadi persekusi, ini hal yang tidak sehat. Pihak yang berhak untuk menurunkan film lolos sensor adalah Lembaga Sensor Film," tukas Helvy.

"Sudah ada pembicaraan di grup sineas, tidak ada alasan apapun untuk mencekal film yang sudah lulus sensor," ungkap Jastis.

Penolakan di Sulawesi Utara

Penolakan di Sulawesi Utara terjadi lebih dulu sebelum di Palangkaraya. Sikap dan tindakan ini diketahui setidaknya dari sejumlah pos di Facebook oleh media komunitas Kata Kita. Pada Jumat, 11 Mei, dua hari  setelah film ini dirilis perdana, halaman "pageKataKita" membagikan gambar seruan aksi penolakan film 212 di bioskop di kota Manado.

"Kami warga Kawanua tolak film 212 diputar di semua bioskop yang ada di kota Manado, Sulawesi Utara. Menurut kami, film ini tidak layak diputar karena film ini pemecah belah bangsa. Ketahuilah di Manado, torang samua basudara (kita semua bersaudara), torang samua ciptaan Tuhan," tulis Kata Kita dalam keterangan foto.

Ribuan respons dan komentar datang. Banyak yang mendukung, banyak pula yang melawan. Sebagian besar adalah perdebatan tak berujung, serupa seperti ketika masa kampanye Pilkada DKI 2017 lalu. Ada juga yang menyitir ayat-ayat kitab agama.

Menurut Helvy dan Jastis, penolakan terjadi di Minahasa dan film masih belum diputar sampai sekarang. Pihak penolak sampai datang beramai-ramai ke mal untuk mencegah pihak manajemen bioskop memutar film.

"Dari kabar yang saya dengar untuk Minahasa, mereka melarang dan mengintimidasi pihak bioskop untuk tidak memutar film itu. Mereka bergerombol ke mal, melakukan sidak langsung," ungkap Jastis.

Dalam menghadapi penolakan ini, sebagai pembuat film, Jastis mengaku tidak bisa berbuat banyak selain menyerahkan kebijakan ke pihak bioskop dan aparat terkait. Dia juga tidak tahu dengan pasti pihak mana yang mencekal. Namun dia berpesan ke kawan-kawannya yang hendak melakukan nonton bareng, baik di Kalimantan Tengah maupun Sulawesi Utara, supaya menghindari bentrokan.

"Salah satu fungsi film dibuat adalah untuk dikaji. Libatkan tokoh masyarakat untuk berdialog dengan orang-orang yang mungkin tidak sependapat dengan film ini karena kurang paham atau ada provokasi (...). Jika memang film dilarang tayang, jangan marah. Demi keamanan dan kenyamanan, hindari konflik dan bentrokan yang tidak bermanfaat. Itu cuma film lho. Hari ini mungkin belum boleh tayang. Sabar saja, nanti kalau suasana sudah lebih terang, ya sudah tayang belakangan," tuturnya.

Fauzi Baadila, sang aktor utama, menyebut wajar ada penolakan untuk film ini.

"Kalau ada penolakan, ya bisa dimaklumi karena sekarang banyak orang beda pikiran. Banyak perbedaan, banyak kejadian, kena imbasnya. Ya wajar saja. Kami tegaskan juga, bahwa banyak pihak yang suka film ini," ujar Fauzi tanpa merinci 'kejadian' yang dia maksud.

Persoalan Citra Islam

Kiai Haji Sodikun dari Majelis Ulama Indonesia menyatakan film 212 tidak mengandung unsur-unsur yang dituduhkan, yaitu radikalisme atau pemecah kebinekaan. Menurut dia, lewat peristiwa-peristiwa kecil, film ini justru memuat banyak pesan kedamaian dan cinta tidak hanya bagi pemeluk Muslim, tapi juga pemeluk agama lain.

Sodikun juga mengaitkan dakwah positif ini dengan teror bom bunuh diri di Surabaya pada Minggu, 13 Mei lalu.

"Saya dari MUI menyerukan kepada kawan-kawan, mari menonton film ini sehingga Insya Allah tidak terjadi hal-hal yang sangat memprihatinkan dan mendukakan, seperti yang terjadi di Surabaya. Tak ada kejadian seperti Surabaya jika menonton film ini. Kalau menonton film ini, Insya Allah teredam niat ke arah negatif," ungkap Sodikun dalam kesempatan sama, usai menonton film bersama Helvy dan Erick.


KH Sodikun dari MUI (dua dari kanan) bersama produser eksekutif Erick Yusuf dan tim angkat bicara soal penolakan film 212 The Power of Love dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa, 15 Mei 2018 (medcom-purba)


Ustaz Erick, yang juga menjadi produser eksekutif film ini, mengakui bahwa Islam menghadapi tantangan besar mengenai citranya sebagai ajaran agama. Apalagi setelah tragedi di Surabaya, ada ketakutan dari orang-orang terhadap seseorang beragama penganut paham radikal.

"Film ini justru ingin menyerukan kepada semua orang bahwa wajah Islam bukan yang seperti itu. Tidak ada sebetulnya satu ajaran, contoh dari Rasulullah, seperti yang dilakukan orang-orang di Surabaya. Film ini justru ingin mengedepankan kedamaian dan cinta yang universal, tidak hanya kepada pencipta saja," ujar Erick.

Jastis, yang juga ikut hadir, berharap orang-orang melihat 212: The Power of Love sebagai produk seni yang bisa dinikmati dan bermanfaat. Dia meminta film ini ditonton lebih dulu sebelum dihakimi, apalagi sampai dilarang.

"Semangat membuat film ini dilandasi nilai kebaikan karena saya meyakini bahwa negara ini butuh pesan-pesan cinta dan kedamaian. Mudah-mudahan film ini bisa ikut menjadi refleksi bagimana seharusnya kita sebagai umat Muslim bersikap, bertindak, memperbaiki diri, dan berkontribusi untuk negara Indonesia," tukasnya.



 



(ELG)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360