Joko Anwar (Foto: MI/Pius Erlangga)
Joko Anwar (Foto: MI/Pius Erlangga)

Joko Anwar, Cerita saat jadi Wartawan dan Bicara Selera Musik

Hiburan sineas kita
Cecylia Rura • 04 Juli 2019 17:53
Sineas Joko Anwar menulis cerita baru untuk adisatria Gundala besutan Harya Suraminata alias Hasmi. Gundala Putra Petir menjadi cerita superhero pertama yang ditulis dan diarahkan Joko setelah mengerjakan film drama, horor, dan thriller.
 
Film sebagai medium potret zaman ingin memberikan premis situasi Indonesia sekarang dengan segala kepentingan dan menumbuhkan sikap patriotisme. Hal itu yang ingin disampaikan lewat film Gundala.
 
Selain bicara soal film, bukan hal baru jika melihat cuitan atau utas media sosial Joko Anwar yang aktif menanggapi perkembangan situasi politik. Dia juga menyuarakan kebutuhan tenaga pekerja profesional di bidang perfilman yang butuh regenerasi yang menjadi problem menahun.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Nah, yang menarik bagaimana menakar selera musik Joko Anwar? Dalam setiap film yang ditulis dan diarahkan olehnya, Joko Anwar punya daftar putar khusus dan ritual unik saat menerima proyek baru serta ketika berada di lokasi syuting.
 
Mantan pewarta yang kini aktif menulis dan duduk di bangku sutradara itu bercerita banyak tentang Gundala, dunia sinema, dan selera musiknya. Sebuah kesempatan menarik ketika Joko Anwar bersedia berbagi cerita dalam wawancara meja bundar saat bertandang ke kantor Media Group pada pertengahan Juni kemarin.
 
Joko Anwar aktif menyuarakan naskah adalah tulang punggung film. Kekuatan seperti apakah di setiap naskah film yang ditulis Joko Anwar?
 
Pertama film itu adalah cara seorang filmmaker untuk mengatakan sesuatu atau bercerita. Peralatannya, perkakas seorang filmmaker ada dua. Yang pertama itu teknis, yang kedua estetika. Misalnya kita berbicara soal penulisan skenario, teknisnya itu ada. Ada beberapa teorema atau prinsip yang bisa diikuti tentang struktur film yang bagus seperti apa. Ada teknisnya.
 
Ada juga yang namanya estetika. Estetika itu adalah yang dimiliki oleh manusia, merupakan gabungan dari yang sudah mereka lewati mulai dari lahir. Keputusan yang mereka ambil, mereka terpapar oleh seni seperti apa, pengalaman hidup seperti apa, kapan mereka pertama kali jatuh cinta, apakah mereka pernah patah hati atau enggak. Jadi cara kita bercerita menggunakan dua hal itu. Kalau misalnya kita mau memastikan skenario misalnya. Ditulis dengan baik, teknisnya harus dipelajari.
 
Kedua, kita sebagai manusia harus melewati banyak sekali hidup supaya estetika kita juga luas.
 
Pengalaman menjadi wartawan menyumbang hal apa dalam proses penulisan naskah?
 
Banyak banget. Ketika aku menjadi wartawan sangat membantu aku ketika menjadi seorang penulis. Karena kalau kita jadi wartawan, kita harus tahu 5W 1H (What, When, Where, Who, Why, How). Ketika kita menulis skenario itu sangat membantu, menulis skenario dengan lebih jelas. Karena begitu kita bercerita lewat skenario, dijadikan film, clarity atau kejelasan cerita dan karakter itu yang membuat penonton tetap mau nonton dengan nyaman. Karena mata mereka enggak boleh lepas dari layar. Sangat memengaruhi cara berpikir. Cara berpikir seorang wartawan sangat membantu ketika aku menjadi seorang penulis skenario. Bedanya adalah kalau wartawan enggak bisa ngarang, kalau penulis skenario bisa ngarang tapi teteap harus jelas 5W 1H. Dan ada beberapa kejadian, pengalaman aku jadi wartawan aku jadikan inspirasi film.
 
Contohnya seperti apa?
 
Kala, film aku yang kedua dimulai dari lima orang dibakar di terminal bus karena diteriakin maling. Waktu itu aku jadi wartawan meliput kejadian lima orang diteriakin maling di Kampung Rambutan dan mereka dibakar sama massa padahal mereka bukan maling.
 
Dulu sempat bertugas di Megapolitan?
 
Iya, tiga bulan. Sudah di Polda dari jam 6 pagi. (Tanya ke polisi), "Pak hari ini siapa yang dibunuh?"
 
Nuansa film Joko dikatakan lekat dengan adegan berdarah-darah, bagaimana menanggapi hal itu?
 
Salah satu mispersepsi tentang film-film aku, film berdarah-darah. Karena kalau ditonton, kejadian yang katanya berdarah itu enggak ada di layar, itu di kepala (pikiran) penonton. Paling satu film di Pintu Terlarang, itu cuma ending. Tapi sebelum itu enggak ada.
 
Apakah ada pengendapan naskah saat menulis, misalnya ketika menulis untuk Gundala? Kenapa Abimana ditunjuk langsung sebagai Sancaka tanpa melalui proses casting?
 
Aku percaya kalau kita menulis skenario, skenario itu hanya bisa menarik kalau misalnya karakternya menarik. Karakter dalam sebuah film atau skenario itu hanya bisa menarik kalau mereka believable. Orang percaya mereka benar-benar hidup di kehidupan ini. Untuk membuat karakter yang believable, karakter ini harus punya sikap yang kuat dalam script dan film kita tentang lima hal yang sangat fundamental dalam hidup. Pertama agama, politik, seni, cinta, dan seks. Jadi lima hal utama ini pandangan yang menentukan karakter itu. Kita basically sebagai manusia ada banyak hal tapi lima hal ini sangat fundamental sekali dalam diri kita. Jadi penulis skenario harus betul-betul membuat karakter-karakter itu punya sikap yang jelas tentang lima hal ini. Caranya bagaimana? Mengendapkan mereka di kepala kita, jadi biarkan karakter ini hidup bertahun-tahun. Ada beberapa, lama banget baru aku tulis skenarionya. Misalnya Kala, aku tulis skenarionya tahun 2006 tapi di kepalaku dari tahun 2001. Demikian juga dengan film-film lain, misalnya Perempuan Tanah Jahanam di kepalaku dari tahun 2002, baru aku tulis tahun 2008, baru di-shot tahun 2019.
 
Gundala itu, karena aku dari kecil pembaca Gundala jadi aku berandai-andai. Basically, Gundala itu dari kecil pengendapan karakternya, baru ditulis tahun 2017. Jadi 40 tahun sekian dalam kepala baru dikeluarkan. (Maaf) 32 tahun.
 
Ketika Joko Anwar mengerjakan film-film fiksi, ketika berjibaku dengan proses kreatif itu apakah ada keresahan seperti mengganggu kesehatan mental?
 
Ada masa-masanya. Begitu karakter punya kemauan, ada karakter lagi punya kemauan agak berbenturan. Kadang-kadang kita mau menulis cerita yang kita mau, karakter ini enggak masuk ke situ. Itu bisa frustasi. Kurus kering enggak suka makan. Tapi yang paling menarik adalah proses kreatif pembuatan film Gundala. Semuanya berkontribusi bukan saja kru tapi juga pemain. Coba tanya Abimana persiapannya seperti apa, itu luar biasa.
 
Abimana mengatakan Gundala adalah orang Indonesia, bagaimana pendapat Joko Anwar?
 
Ketika dulu Pak Hasmi teman-teman raja-rajanya komik dulu, senior-senior kita mereka membuat komik. Gua percaya bahwa itu mengatakan sesuatu, menanggapi zamannya. Apakah mereka menanggapi keadaan sosial politik pada zaman itu. Namun, pada zaman itu kan enggak bebas ngomong. Protes tidak boleh, kritik tidak boleh, semua dibatasi. Sehingga mungkin mereka cara berceritanya lewat beberapa karakter yang aman. Misalnya, makhluk angkasa luar. Permumpamaan. Zaman sekarang, kita punya kebebasan untuk apa adanya dan bereaksi terhadap apa yang terjadi di Indonesia sekarang. Makanya Gundala dalam film Gundala sekarang ini kenapa dibilang sangat manusia Indonesia, apa yang dia alami, apa yang kita alami sekarang.
 
Terdapat perbedaan situasi sosial-politik yang diangkat dalam kisah Gundala dalam versi komik, dengan Gundala versi film saat ini. Apakah Joko menarik latar belakang sosial Gundala ke situasi hari ini?
 
Pertama ketika kita menampilkan Gundala dalam film kita, orang bisa relate kegelisahannya. Jadi kegelisahannya itu bukan karena ada piring terbang datang dari mana. Mungkin ada, tapi kan enggak major. Kebanyakan manusia Indonesia yang kita hadapi masalah yang sangat mendasar. Kebutuhan hidup, pokok kita sandang, pangan. Latar belakangnya sekarang kita berada di sebuah negara yang konflik kepentingan orang-orang di atas sangat besar, sangat memengaruhi kita sebagai rakyat, yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan hal itu.
 
Bagaimana menjelaskan realita Indonesia dalam film Gundala?
 
Itu realita kita yang harus kita akui dan kita perbaiki bersama bahwa kita sebagai bangsa sangat egois. Dari yang paling atas sampai paling bawah. Orang yang punya kuasa. Orang yang punya harta, mereka melanggar hukum karena mereka berpikir kan gue powerful gua bisa melanggar hukum sesuka hati gue.
 
Gua bisa keluar dengan itu. Dengan itu gua bisa bebas dari hukuman, konsekuensi hukuman. Orang yang paling bawah, juga sama. Melanggar karena mau cari makan. Misalnya ketika ada sopir bus berhenti di tengah jalan dan mengakibatkan kemacetan sepanjang 20 kilometer. Itu juga keegoisan. Itu harus diakui bahwa kita masih punya mental seperti itu. Itu harus diakui dan kita perbaiki.
 
Dalam mengerjakan film, apakah Joko Anwar menghindari cara menggurui dalam menyampaikan pesan moral?
 
Jangan menjadikan karakter kita hitam atau putih. Karena seperti di Gundala enggak ada yang jahat karena dia pingin nyerang. Enggak ada orang baik karena mau jadi pahlawan. Tapi memang dia mengambil suatu sikap karena dia dibutuhkan untuk mengubah sesuatu.
 
Sempat bercerita di media sosial soal pengalaman diculik UFO, seperti apa pengalamannya?
 
Nanti deh ya lain kali.
 
Berkaitan dengan pemilihan Abimana sebagai Gundala, kenapa dipilih?
 
Karena tokoh Gundala itu adalah seorang patriot. Dia adalah orang yang tidak menempatkan kepentingan dirinya di atas kepentingan semua orang. Kualitas itu ada dalam diri Abimana. Aku dari awal kenal sama dia , dari pembicaraan segala macam. Aku mau, Abimana sudah punya kualitas itu.
 
Apakah itu yang membuatnya lebih gampang masuk dalam karakter Gundala?
 
Dia enggak berbohong. Kalau misalnya begini, karakter ada seorang dokter. Walaupun seorang aktor bukan dokter, tapi dia bisa berakting sebagai dokter. Tapi berakting sebagai seorang patriot yang tidak mementingkan dirinya sendiri, kayak misalnya aku mencari seorang pemain yang diva banget, pas datang, "Aduh panas, boleh enggak AC-nya ditaruh di sini, padahal AC-nya di kantor tiga jam dari sini. Terus sekarang masih take, aku masih capek minum kopi dulu." Ketika dia memerankan tokoh yang membela kepentingan rakyat aku merasa bullshit banget, kayak mengkhianati penonton.
 
Pertimbangan apa yang membuat Joko Anwar melihat jiwa patriotisme di Abimana?
 
Bahkan ketika syuting aja dia sebagai aktor utama sangat mementingkan keselamatan kru, pemain lain. Dia selalu cek. Itu safe enggak, mereka udah makan apa belum. Mereka udah istirahat cukup apa belum. Jadi ketika dia menjadi Sancaka, Gundala, enggak berbohong.
 
Bagaimana dengan tenaga kerja perfilman di Indonesia?
 
Lembaga pendidikan di Indonesia, formal dan non-formal itu kurang. Sekolah film terpusat di Jakarta di Indonesia. Ada beberapa daerah lain seperti Makassar, Jogja, tapi daerah lain enggak ada. Bagaimana kita bisa menciptakan tenaga-tenaga SDM (sumber daya manusia) yang menguasai skill, yang membutuhkan juga skill teknis kalau tidak belajar.
 
Menakar selera musik Joko Anwar yang sempat berpartisipasi dalam menentukan soundtrack film-film besutan sendiri, seperti apa?
 
Bisa lama. Aku itu kalau film percaya ini, tadi aku sudah bilang soal estetika ya. Jadi misalnya kalau seorang seniman terutama film ada dua hal tools kita, perkakas kita. Yang pertama teknis, yang bisa dipelajari. Teknis fotografi, berapa lensa yang dipakai untuk satu adegan sama lighting dihitung, dan segala macam. Sama estetika, selain yang kita alami sepanjang, what kind of seni yang kita alami.
 
Seni yang paling dekat sama manusia adalah musik sama film. Musik terutama. Makanya untuk film aku bisa nonton film paling jelek aku masih bisa enjoy. Tapi musik itu sangat krusial untuk memiliki estetika sebagai filmmaker. Jadi musik aku sangat selected banget. Jadi susah buat aku menikmati musik yang sangat tidak aku suka. Dan kalau misalnya ditanya siapa aja yang aku dengar, kalau misalnya yang sudah lama ada di musik ada Elvis Costello, Nick Cave and The Bad Seeds, Lou Reed. The Spouse, terbentuknya duo itu untuk film Pengabdi Setan. Aimee Saras dan Tony Merle, gitaris The Brandals, mereka menikah dan mereka bikin The Spouse. Makanya namanya The Spouse. Kebetulan aku sama Tony dan Aimee sama jenis musik yang kita suka.
 
Apakah referensi musik itu didengarkan dari kecil?
 
Yes and no. Jadi waktu kecil aku dengarnya Tom Jones, Creedence Clearwater Revival, Procol Harum, karena bapak aku itu dia hoarder. Kalau misalnya ada barang yang mau dibuang, disimpan. Dia bekerja pada satu orang bos yang suka membuang barang-barang. Pas mau dibuang enggak ada di tempatnya dibuang di tempat bapak aku, dikumpulin.
 
Sama bapak aku diambil disimpan di rumah. Beberapa item yang sering muncul di tempat penyimpanan barang-barang itu adalah kaset. Itu aku berkenalan dengan Creedence Clearwater Revival, The Who, Tom Jones, Procol Harum, dan sebagainya ya dari kaset-kaset itu. Tapi kemudian setelah ada internet, mulai dari lulus SMA aku suka sama Elvis Costello. Aku search di Amazon.com, artis like Elvis Costello itu siapa, aku cari kasetnya di jalan Cihampelas.
 
Aku waktu kuliah cara cari duitnya selain nge-band, jual beli kaset bekas. Aku beli di Cihampelas, nanti aku dapat satu kaset belinya misalnya Rp5.000,- .Aku bisa menjual harganya Rp10.000,- dengan cara ngecap. Dimulai dari seperti ini, orang lagi ngumpul di meja kantin. Tiba-tiba begini:
 
"Gila, gila. Ini album keren banget!"
"Album apa?"
"Ini, Bro. Gila ini keren banget. Dari lagu pertama kayak lo dibawa ke sebuah dunia yang tidak pernah lu bayangkan sebelumnya. Kayak penyanyia muncul di depan lo dan itu ngomong di depan lo, Bro. Keren banget, gila keren banget!"
"Lo kalau mau ini aja, entar gua beli lagi."
"Enggak apa-apa?"
"Enggak apa-apa, soalnya ternyata gua beli dua, man."

 
Saking gua sukanya. Jadi musik aku sangat pilih banget. Aku terutama suka sama lagu dengan lirik yang bagus. Jadi aku tidak suka dengan lirik yang repetisi. Elvis Costello, liriknya begini (Til Tuesday The Other End (Of The Telescope))
 
Shall we agree that just this once
I'm gonna change my life
Until it's just as tiny or important as you like?
And in time we won't even recall that we spoke
Words that turned out to be as big as smoke
As smoke that disappears in the air
There's always something that's smoldering somewhere

 
Kayak puisi, loh!
 
Apakah mendengarkan musik sambil menulis naskah juga berpengaruh?
 
Harus. Aku ngumpulin lagu dulu di playlist.
 
Biasa bikin playlist khusus untuk Spotify?
 
Iya. Kalau Gundala agak aneh. Itu bikin lagi, jadi aku sebelum syuting selalu minta music director aku bikin musik. Jadi kita diskusi, musiknya seperti apa. Nanti di lokasi aku sering putar-putar. Tahu KMFDM enggak? Ini industrial, karena Jakarta di Gundala itu Jakarta seoalah-olah, ada area industrial di Pulo Gadung dekat dengan pusat kota. Ini Eropa banget. Satu lagu yang aku dengerin kalau aku memulai sebuah proyek baru, selalu itu. Selalu berulang-ulang aku putar di mobil. This Is The New Shit, Marilyn Manson.
 
Apa suguhan terbaru dari Joko Anwar di film Gundala?
 
Kalau aku bikin film itu tidak pernah mencoba untuk memberikan apapun atau berbuat apapun selain bercerita. Jadi aku tidak pernah mencoba untuk menjadi beda. Karena banyak orang bilang, ini film Indonesia yang berbeda. It doesn't mean anything. If it's bad, it's not good. Tapi kalau familiar but good, it is good. Kalau ditanya temanya, tentunya Gundala adalah sebuah film yang beda dari aku, selama ini kalau aku bikin film mungkin segmented untuk orang dewasa, Gundala itu buat seluruh keluarga bisa menonton, tapi tetap bisa dinikmati. Kadang-kadang film untuk keluarga, orang dewasa nonton bosan. Tapi ini enggak. Film untuk seluruh keluarga dan seluruh kalangan.
 
Bagaimana dengan perkembangan Gundala fan art?
 
Gundala fan art itu tidak ada yang menggerakkan. Sampai sekarang sudah 1100-an karya. Semuanya oleh publik karena mereka merasa Gundala adalah jagoan Indonesia yang patut diselebrasi karena milik bersama.
 
Kabarnya akan dipamerkan dalam premier film nanti, seperti apa mediumnya?
 
Nanti kita pilih, enggak semua karena kita enggak punya space gede. Jadi kita pingin nanti prominent. Jadi orang tidak melihat kecil, tapi besar. Yang kita
 
pilih bukan berarti hanya dari yang senior. Kita pilih berdasarkan karya. Real-nya, medium asli atas izin pemiliknya.
 
Ada rencana membukukan fan art?
 
Pingin kalau pemiliknya mengizinkan.
 

(ASA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif