Haji Soekarno Bikin Geger Singapura
ILUSTRASI: Presiden Soekarno melambaikan tangannya menjelang lawatan ke luar negeri/Dok: Penasoekarno
Jakarta: Indonesia tempo dulu adalah gelora persatuan. Terlebih, usai digaungkannya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Pekik "Merdeka!" menjelma penanda kesatuan jiwa bangsa Indonesia.

Pengalaman unik ihwal lafaz "Merdeka" ini pernah disampaikan Presiden Soekarno. Dalam pidatonya di Surabaya pada 24 September 1955, ia menceritakan bahwa kemana pun ia pergi nyaris pasti akan meneriakkan dan disambut balik kata kunci tersebut.


Rakyat adalah napas

Alkisah, pada musim haji 1955, Presiden Soekarno menyempatkan diri menunaikan rukun Islam kelima. Melalui jalur penerbangan yang kala itu masih mengharuskan transit di Singapura, Presiden Soekarno diminta diaspora Indonesia untuk turun-mampir dan memberikan sedikit-banyak wejangan.

Baca: Pulau-pulau Seram Haji Masa Silam

"Mereka menyambut kedatangan Presiden Republik Indonesia itu dengan gegap-gempita, dan minta kepada Presiden Republik Indonesia untuk memberikan amanat kepadanya. Di dalam amanat itu beberapa kali dipekikkan pekik kepadamu salam 'Assalamu’alaikum!' Sebagai warga negara Republik Indonesia aku menyampaikan kepadamu 'Merdeka!'," kata Soekarno, sebagaimana dikutip ulang sejarawan Wawan Tunggul Alam dalam Bung Karno Menggali Pancasila: Kumpulan Pidato (2001).

Susah bagi Bung Karno untuk menolak permintaan rakyat sendiri. Bung Besar pun menuruti. Apalagi, rakyat di mata Soekarno dimaknai sebagai napas. Soekarno mengatakan, "Kalau jauh dari rakyat rasanya seperti siksaan. Tetapi kalau dekat dengan rakyat, rasanya laksana Kokrosono turun dari pertapaannya."

Presiden Soekarno menaiki mimbar dan menyampaikan pidato dengan gaya khasnya; berapi-api. Tentu, diselingi teriak "Merdeka!" dan dijawab hadirin dengan kata serupa, berulang kali.

Masyarakat Indonesia di Singapura tampak puas dan bahagia. Semangat nasionalisme yang disuntikkan Presiden Soekarno menjadikan mereka berbangga dan bersatu-padu dalam satu identitas; Indonesia.

Setelahnya, Soekarno kembali melanjutkan perjalanan. Bersama rombongan, ia terbang menuju Rangoon, New Delhi, Karachi, Baghdad, Mesir, hingga mendarat di tujuan akhir, Arab Saudi untuk berhaji.

Fitnah tidak sopan

Siapa sangka, selepas Soekarno meninggalkan Singapura, masyarakat setempat dibikin geger dengan gaya dan teriakan "Merdeka!" Presiden Soekarno dan pengikutnya yang saling bersahutan.

Bahkan, koran-koran Kota Singa itu menulis headline "Presiden Sukarno menjalankan ill-behaviour". Bung Karno, dituduh berlaku tidak sopan di negeri orang.

Sesuai jalur penerbangan, Presiden Soekarno pasti kembali ke Singapura sebelum bisa pulang ke Indonesia. Untuk itu, para juru berita yang masih geregetan sepakat menunggu Bung Besar yang akan kembali singgah.

Ya, kala itu, Singapura masih dalam cengkeraman Britania Raya. Mereka tersinggung dengan ucapan Soekarno yang terkesan mengompori masyarakat setempat dengan teriakan kata "Merdeka!"

Baca: Misi Haji Kemerdekaan RI

Sesudah merampungkan rangkaian ibadah haji, akhirnya waktu yang ditunggu pun tiba. Presiden Soekarno dan rombongan kembali ke Singapura. Benar saja, para wartawan langsung mengeroyok Bung Besar.

Satu juru berita bertanya, "Tahukah bahwa tatkala Anda meninggalkan kota Singapura di dalam perjalanan ke Mesir dan Tanah Suci, Paduka dituduh kurang ajar, kurang sopan, ill behaviour, oleh karena Anda memekikkan pekik 'Merdeka!' Apa jawab Anda atas tuduhan itu?”

Mendengar itu, Bung Karno tersenyum, lalu menjawab, “Jikalau orang Indonesia berjumpa dengan orang Indonesia, warga negara Republik Indonesia berjumpa dengan warga negara Republik Indonesia, pendek kata jikalau orang Indonesia bertemu dengan orang Indonesia, selalu memekikkan ‘Merdeka’! Jangankan di surga, di dalam neraka pun."

Para wartawan yang gugur rasa penasarannya itu, cuma melongo. Yang dihadapinya, memang bukanlah sosok yang mudah gentar.





(SBH)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id