YOUR FASHION
Keren, Brand Fesyen Lokal Ini Angkat Seni Tenun Minangkabau Lewat Koleksi Bungo Ameh
Muhammad Syahrul Ramadhan
Selasa 18 Agustus 2026 / 18:28
- Jenama fesyen lokal Saskara memperluas Koleksi Nusantara dengan menghadirkan Bungo Ameh.
- Bungo Ameh berasal dari bahasa Minang yang berarti “Bunga Emas”.
- Koleksi ini juga terinspirasi dari falsafah hidup masyarakat Minangkabau.
Jakarta: Jenama fesyen lokal Saskara memperluas Koleksi Nusantara dengan menghadirkan Bungo Ameh. Koleksi terbaru ini mengangkat kekayaan budaya Sumatera Barat, khususnya seni tenun dan ornamen khas Minangkabau, ke dalam produk perlengkapan ibadah.
Konseptor sekaligus desainer Saskara , menjelaskan bahwa nama Bungo Ameh berasal dari bahasa Minang yang berarti “Bunga Emas” — representasi dari keindahan, kemuliaan, dan nilai luhur yang telah lama hidup dalam budaya Minangkabau. Makna ini selaras dengan visi Saskara bahwa setiap ibadah adalah momen untuk menghadirkan diri dalam keadaan terbaik saat menghadap kepada Sang Maha Pencipta.
“Bungo Ameh terinspirasi dari kemegahan Mahkota Suntiang dan keindahan motif kain Songket khas Sumatera Barat. Susunan ornamen bunga yang berkilau pada mahkota suntiang serta motif songket yang sarat makna kami padukan untuk menghadirkan koleksi yang tidak hanya indah, tetapi juga kaya nilai budaya,” ujar Andya.
Songket sendiri kerap digunakan masyarakat Minangkabau untuk peristiwa maupun perayaan penting dan sakral. Melalui Bungo Ameh, rangkaian motif songket dan bunga dari mahkota suntiang dihadirkan dalam balutan perlengkapan ibadah yang bersendikan ajaran Islam, tradisi, dan keindahan seni tenun Sumatera Barat.
Koleksi ini juga terinspirasi dari falsafah hidup masyarakat Minangkabau, “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” — yang bermakna adat berlandaskan syariat, dan syariat berlandaskan Kitabullah (Al-Qur’an). “Falsafah ini mencerminkan keharmonisan antara budaya dan ajaran Islam, sejalan dengan tujuan Koleksi Nusantara sekaligus dedikasi Saskara menghadirkan perlengkapan ibadah yang pantas untuk menghadap kepada Sang Maha Kuasa,” lanjut Andya.
Bungo Ameh hadir dalam 6 pilihan warna dengan lini produk perempuan berupa prayer set (mukena, sajadah, dan pouch) serta hijab, dan lini produk laki-laki berupa sarung. Untuk mukena, Saskara menggunakan kain satin silk yang halus, lembut, dan tidak mudah kusut, dilengkapi sajadah fungsional yang dapat digunakan kapanpun dan di mana saja.
Setiap produk turut dirancang dengan ukuran ringkas agar mudah dibawa bepergian. Selain mukena, koleksi ini juga menghadirkan kerudung serta sarung yang dirancang senada.
Sejak berdiri pada 2018, Saskara secara konsisten mengangkat kekayaan budaya dan pesona keindahan Nusantara melalui setiap koleksinya. Bungo Ameh menjadi kelanjutan dari misi besar Saskara melalui Koleksi Nusantara — merayakan warisan budaya dan pesona alam dari berbagai provinsi Indonesia sebagai wujud apresiasi terhadap kekayaan bangsa, sekaligus upaya memperkenalkannya kepada masyarakat Indonesia dan secara bertahap kepada dunia (lokal to global).
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(RUL)
Konseptor sekaligus desainer Saskara , menjelaskan bahwa nama Bungo Ameh berasal dari bahasa Minang yang berarti “Bunga Emas” — representasi dari keindahan, kemuliaan, dan nilai luhur yang telah lama hidup dalam budaya Minangkabau. Makna ini selaras dengan visi Saskara bahwa setiap ibadah adalah momen untuk menghadirkan diri dalam keadaan terbaik saat menghadap kepada Sang Maha Pencipta.
“Bungo Ameh terinspirasi dari kemegahan Mahkota Suntiang dan keindahan motif kain Songket khas Sumatera Barat. Susunan ornamen bunga yang berkilau pada mahkota suntiang serta motif songket yang sarat makna kami padukan untuk menghadirkan koleksi yang tidak hanya indah, tetapi juga kaya nilai budaya,” ujar Andya.
Songket sendiri kerap digunakan masyarakat Minangkabau untuk peristiwa maupun perayaan penting dan sakral. Melalui Bungo Ameh, rangkaian motif songket dan bunga dari mahkota suntiang dihadirkan dalam balutan perlengkapan ibadah yang bersendikan ajaran Islam, tradisi, dan keindahan seni tenun Sumatera Barat.
Koleksi ini juga terinspirasi dari falsafah hidup masyarakat Minangkabau, “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” — yang bermakna adat berlandaskan syariat, dan syariat berlandaskan Kitabullah (Al-Qur’an). “Falsafah ini mencerminkan keharmonisan antara budaya dan ajaran Islam, sejalan dengan tujuan Koleksi Nusantara sekaligus dedikasi Saskara menghadirkan perlengkapan ibadah yang pantas untuk menghadap kepada Sang Maha Kuasa,” lanjut Andya.
Bungo Ameh hadir dalam 6 pilihan warna dengan lini produk perempuan berupa prayer set (mukena, sajadah, dan pouch) serta hijab, dan lini produk laki-laki berupa sarung. Untuk mukena, Saskara menggunakan kain satin silk yang halus, lembut, dan tidak mudah kusut, dilengkapi sajadah fungsional yang dapat digunakan kapanpun dan di mana saja.
Setiap produk turut dirancang dengan ukuran ringkas agar mudah dibawa bepergian. Selain mukena, koleksi ini juga menghadirkan kerudung serta sarung yang dirancang senada.
Sejak berdiri pada 2018, Saskara secara konsisten mengangkat kekayaan budaya dan pesona keindahan Nusantara melalui setiap koleksinya. Bungo Ameh menjadi kelanjutan dari misi besar Saskara melalui Koleksi Nusantara — merayakan warisan budaya dan pesona alam dari berbagai provinsi Indonesia sebagai wujud apresiasi terhadap kekayaan bangsa, sekaligus upaya memperkenalkannya kepada masyarakat Indonesia dan secara bertahap kepada dunia (lokal to global).
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(RUL)