WISATA
Sedotan Alami Berbahan Dasar Tumbuhan Purun dari Bangka Belitung
Raka Lestari
Minggu 07 Februari 2021 / 20:49
Bangka Belitung: Dalam mengatasi permasalahan sampah plastik dari sedotan, saat ini banyak sekali berbagi jenis sedotan yang dapat mengurangi jumlah sampah plastik. Mulai dari sedotan yang berbahan stainless steel, kaca, bahkan kertas. Namun kini, di Bangka Belitung terdapat sedotan yang berbahan dasar tumbuhan Purun.
Tumbuhan Purun atau yang sering disebut juga dengan Purun danau merupakan jenis tanaman alang-alang, dengan nama latin Lepironia articulate. Tumbuhan ini biasanya tumbuh di air payau dan rawa-rawa. Selain dijadikan sedotan, tumbuhan ini juga sering digunakan sebagai bahan untuk kerajinan anyaman.
Ibu Hartati, sebagai pemilik dari usaha sedotan purun ini menjelaskan, “Sedotan berbahan purun ini memang sekali pakai, dan tidak bisa dicui karena sama seperti bambu yang jika sudah terkena air maka bagian dalamnya bisa menjadi lembap. Kalau sudah lembap seperti itu takutnya timbul jamur,” ujarnya.
“Akan tetapi, meskipun sekali pakai sedotan ini tidak akan menimbulkan masalah sampah plastik karena dia prinsipnya sama seperti daun. Bisa terurai dan hancur dengan sendirinya. Jadi ini kalau dibuang, tidak akan menjadi limbah karena sifatnya seperti daun kering saja. Biasanya butuh waktu satu minggu untuk sedotan ini bisa hancur,” ujar Hartati.
Untuk proses pembuatan sedotan purun ini, Hartati menjelaskan bahwa butuh waktu sekitar lima hari. “Jadi kita mau bikin 1 atau 1000 pun sama saja, kita butuh waktu sekitar 5 hari karena butuh waktu untuk penyusutan kandungan air pada tumbuhannya itu sendiri. Kita menggunakan sinar matahari untuk dikeringkan, baru nanti terakhir menggunakan oven untuk dikeringkan,” jelas Hartati.
“Dan ini asli, kita tidak menggunakan apa-apa seperti perekat atau apapun,” ujar Hartati. Dalam mencetuskan ide pembuatan sedotan berbahan tumbuhan Purun ini, ia mengaku melakukan riset sekitar satu tahun terlebih dahulu sebelumnya.
Setelah melakukan riset, barulah ia memperkenalkan sedotan dari tumbuhan Purun ini ke publik. “Kalau untuk memperkenalkannya ke publik itu sekitar akhir tahun 2019. Waktu itu pertama saya mencoba untuk mengirimkan ke Bali untuk mengetahui apakah akan ada masalah atau tidak. Ternyata tidak ada masalah dan tetap bisa digunakan dengan baik,” tutur Hartati.
“Untuk pembeliannya, saat ini kita bisa melalui Instagram atau langsung menghubungi saya. Kami mempunyai dua varian, yaitu kemasan isi 50 pcs dan 100 pcs. Kalau yang isi 50, harganya 25 ribu rupiah dan yang 100 harganya 50 ribu rupiah,” tutup Hartati.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Tumbuhan Purun atau yang sering disebut juga dengan Purun danau merupakan jenis tanaman alang-alang, dengan nama latin Lepironia articulate. Tumbuhan ini biasanya tumbuh di air payau dan rawa-rawa. Selain dijadikan sedotan, tumbuhan ini juga sering digunakan sebagai bahan untuk kerajinan anyaman.
Ibu Hartati, sebagai pemilik dari usaha sedotan purun ini menjelaskan, “Sedotan berbahan purun ini memang sekali pakai, dan tidak bisa dicui karena sama seperti bambu yang jika sudah terkena air maka bagian dalamnya bisa menjadi lembap. Kalau sudah lembap seperti itu takutnya timbul jamur,” ujarnya.
“Akan tetapi, meskipun sekali pakai sedotan ini tidak akan menimbulkan masalah sampah plastik karena dia prinsipnya sama seperti daun. Bisa terurai dan hancur dengan sendirinya. Jadi ini kalau dibuang, tidak akan menjadi limbah karena sifatnya seperti daun kering saja. Biasanya butuh waktu satu minggu untuk sedotan ini bisa hancur,” ujar Hartati.
Untuk proses pembuatan sedotan purun ini, Hartati menjelaskan bahwa butuh waktu sekitar lima hari. “Jadi kita mau bikin 1 atau 1000 pun sama saja, kita butuh waktu sekitar 5 hari karena butuh waktu untuk penyusutan kandungan air pada tumbuhannya itu sendiri. Kita menggunakan sinar matahari untuk dikeringkan, baru nanti terakhir menggunakan oven untuk dikeringkan,” jelas Hartati.
“Dan ini asli, kita tidak menggunakan apa-apa seperti perekat atau apapun,” ujar Hartati. Dalam mencetuskan ide pembuatan sedotan berbahan tumbuhan Purun ini, ia mengaku melakukan riset sekitar satu tahun terlebih dahulu sebelumnya.
Setelah melakukan riset, barulah ia memperkenalkan sedotan dari tumbuhan Purun ini ke publik. “Kalau untuk memperkenalkannya ke publik itu sekitar akhir tahun 2019. Waktu itu pertama saya mencoba untuk mengirimkan ke Bali untuk mengetahui apakah akan ada masalah atau tidak. Ternyata tidak ada masalah dan tetap bisa digunakan dengan baik,” tutur Hartati.
“Untuk pembeliannya, saat ini kita bisa melalui Instagram atau langsung menghubungi saya. Kami mempunyai dua varian, yaitu kemasan isi 50 pcs dan 100 pcs. Kalau yang isi 50, harganya 25 ribu rupiah dan yang 100 harganya 50 ribu rupiah,” tutup Hartati.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)