WISATA
Kemenpar Ajak Wisatawan Rasakan Indonesia Lebih Dalam
A. Firdaus
Jumat 02 Oktober 2026 / 13:11
- Kemenpar mendorong pariwisata berbasis pengalaman agar wisatawan tinggal lebih lama, menjelajah lebih banyak destinasi, dan menikmati pengalaman autentik di Indonesia.
- Kemenpar Dorong Wisata Berbasis Pengalaman, Ajak Wisatawan Kenal Indonesia Lebih Dalam
- MaiA Bantu Cari Pengalaman Wisata
Jakarta: Liburan ke Indonesia kini tak lagi cukup hanya dengan datang, berfoto, lalu pulang. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mendorong pengembangan pariwisata berbasis pengalaman agar perjalanan wisatawan menjadi lebih personal, autentik, dan memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat di destinasi.
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengatakan pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas perjalanan wisatawan. Kekayaan alam, budaya, kuliner, hingga keramahan masyarakat Indonesia dinilai perlu dikemas menjadi pengalaman yang memiliki nilai lebih.
“Bagaimana agar pengalaman tinggal dari wisatawan kita di Indonesia semakin berkualitas dan juga manfaat yang bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat Indonesia,” ujar Ni Luh.
Menurut dia, keberhasilan pariwisata tidak hanya dilihat dari banyaknya wisatawan yang datang. Pengalaman yang beragam diharapkan membuat wisatawan tinggal lebih lama, mengunjungi lebih banyak tempat, sekaligus membelanjakan uangnya pada lebih banyak produk dan layanan lokal.
Konsep ini juga dapat diterapkan pada sektor meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE). Peserta konferensi, misalnya, tidak harus berhenti pada agenda pertemuan. Setelah acara, mereka bisa diajak mencicipi kuliner lokal, mengikuti aktivitas budaya, menikmati atraksi, atau mengeksplorasi destinasi di sekitar lokasi acara.
Arah tersebut sejalan dengan program Go Beyond Ordinary yang dikembangkan Kemenpar. Pemasaran pariwisata tidak hanya mengandalkan daya tarik sebuah destinasi, tetapi juga pengalaman yang bisa dilakukan wisatawan selama berada di sana.
Kemenpar juga memperkuat lima wisata minat khusus melalui Program Pariwisata Berkualitas, yakni gastronomi, bahari, wellness, wastra, serta art & design tourism.
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini mengatakan tren mencari pengalaman semakin terlihat di kalangan wisatawan muda.
Dalam kajian yang dipaparkan pada Indonesia Tourism & Mice Outlook 2027, sekitar 52 persen wisatawan Gen Z melakukan perjalanan untuk mencari pengalaman.
Potensi yang sudah dimiliki daerah pun dapat dirangkai menjadi aktivitas wisata yang lebih menarik. Seni dan budaya, misalnya, bisa dipadukan dengan wastra, wisata bahari, kuliner, hingga walking tour.
“Yang kita dorong adalah wisata yang non-konvensional, non-ordinary, supaya aktivitas pariwisata bisa tersebar lebih banyak,” kata Ni Made.
Pendekatan tersebut sekaligus membuka peluang agar wisatawan tidak hanya terkonsentrasi di destinasi utama. Pengalaman yang lebih spesifik dapat mengajak mereka masuk lebih jauh ke kawasan sekitar dan mengenal kehidupan masyarakat lokal.
Pengembangan wisata berbasis pengalaman juga mulai didukung teknologi. Kemenpar memanfaatkan MaiA atau Meticulous Artificial Intelligence of Indonesia melalui platform indonesia.travel sebagai AI Travel Assistant dalam ekosistem Tourism 5.0.
MaiA dirancang untuk mendampingi wisatawan dalam lima tahap perjalanan, mulai dari dreaming, planning, booking, experiencing, hingga sharing. Layanan ini juga mendukung 19 bahasa asing.
Informasi yang ditawarkan tidak hanya sebatas destinasi. Wisatawan juga dapat menemukan rekomendasi aktivitas, kuliner, akomodasi, acara, hingga berbagai produk wisata.
Pelaku industri pariwisata pun dapat memasukkan pengalaman yang mereka tawarkan ke dalam platform tersebut. Dengan begitu, pengalaman wisata bisa muncul ketika wisatawan mencari jenis perjalanan tertentu.
“Ketika wisatawan mencari experiential tourism di Indonesia, MaiA akan memberikan rekomendasi,” ujar Ni Made.
Misalnya, wisatawan yang datang ke Indonesia untuk mengikuti agenda MICE dapat menemukan pilihan pengalaman gastronomi, budaya, atau bahari di sekitar lokasi acara. Pencarian yang awalnya hanya tertuju pada satu kota atau destinasi pun berpeluang berkembang menjadi perjalanan ke daerah lain.
Dengan strategi tersebut, Kemenpar berupaya menggeser cara wisatawan melihat Indonesia. Bukan sekadar negara dengan banyak destinasi, tetapi ruang perjalanan yang menawarkan beragam pengalaman untuk ditemukan.
(FIR)
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengatakan pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas perjalanan wisatawan. Kekayaan alam, budaya, kuliner, hingga keramahan masyarakat Indonesia dinilai perlu dikemas menjadi pengalaman yang memiliki nilai lebih.
“Bagaimana agar pengalaman tinggal dari wisatawan kita di Indonesia semakin berkualitas dan juga manfaat yang bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat Indonesia,” ujar Ni Luh.
Menurut dia, keberhasilan pariwisata tidak hanya dilihat dari banyaknya wisatawan yang datang. Pengalaman yang beragam diharapkan membuat wisatawan tinggal lebih lama, mengunjungi lebih banyak tempat, sekaligus membelanjakan uangnya pada lebih banyak produk dan layanan lokal.
Konsep ini juga dapat diterapkan pada sektor meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE). Peserta konferensi, misalnya, tidak harus berhenti pada agenda pertemuan. Setelah acara, mereka bisa diajak mencicipi kuliner lokal, mengikuti aktivitas budaya, menikmati atraksi, atau mengeksplorasi destinasi di sekitar lokasi acara.
Arah tersebut sejalan dengan program Go Beyond Ordinary yang dikembangkan Kemenpar. Pemasaran pariwisata tidak hanya mengandalkan daya tarik sebuah destinasi, tetapi juga pengalaman yang bisa dilakukan wisatawan selama berada di sana.
Kemenpar juga memperkuat lima wisata minat khusus melalui Program Pariwisata Berkualitas, yakni gastronomi, bahari, wellness, wastra, serta art & design tourism.
Pengalaman Jadi Magnet Wisatawan Muda
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini mengatakan tren mencari pengalaman semakin terlihat di kalangan wisatawan muda.
Dalam kajian yang dipaparkan pada Indonesia Tourism & Mice Outlook 2027, sekitar 52 persen wisatawan Gen Z melakukan perjalanan untuk mencari pengalaman.
Potensi yang sudah dimiliki daerah pun dapat dirangkai menjadi aktivitas wisata yang lebih menarik. Seni dan budaya, misalnya, bisa dipadukan dengan wastra, wisata bahari, kuliner, hingga walking tour.

“Yang kita dorong adalah wisata yang non-konvensional, non-ordinary, supaya aktivitas pariwisata bisa tersebar lebih banyak,” kata Ni Made.
Pendekatan tersebut sekaligus membuka peluang agar wisatawan tidak hanya terkonsentrasi di destinasi utama. Pengalaman yang lebih spesifik dapat mengajak mereka masuk lebih jauh ke kawasan sekitar dan mengenal kehidupan masyarakat lokal.
MaiA Bantu Cari Pengalaman Wisata
Pengembangan wisata berbasis pengalaman juga mulai didukung teknologi. Kemenpar memanfaatkan MaiA atau Meticulous Artificial Intelligence of Indonesia melalui platform indonesia.travel sebagai AI Travel Assistant dalam ekosistem Tourism 5.0.
MaiA dirancang untuk mendampingi wisatawan dalam lima tahap perjalanan, mulai dari dreaming, planning, booking, experiencing, hingga sharing. Layanan ini juga mendukung 19 bahasa asing.
Informasi yang ditawarkan tidak hanya sebatas destinasi. Wisatawan juga dapat menemukan rekomendasi aktivitas, kuliner, akomodasi, acara, hingga berbagai produk wisata.
Pelaku industri pariwisata pun dapat memasukkan pengalaman yang mereka tawarkan ke dalam platform tersebut. Dengan begitu, pengalaman wisata bisa muncul ketika wisatawan mencari jenis perjalanan tertentu.
“Ketika wisatawan mencari experiential tourism di Indonesia, MaiA akan memberikan rekomendasi,” ujar Ni Made.
Misalnya, wisatawan yang datang ke Indonesia untuk mengikuti agenda MICE dapat menemukan pilihan pengalaman gastronomi, budaya, atau bahari di sekitar lokasi acara. Pencarian yang awalnya hanya tertuju pada satu kota atau destinasi pun berpeluang berkembang menjadi perjalanan ke daerah lain.
Dengan strategi tersebut, Kemenpar berupaya menggeser cara wisatawan melihat Indonesia. Bukan sekadar negara dengan banyak destinasi, tetapi ruang perjalanan yang menawarkan beragam pengalaman untuk ditemukan.
(FIR)