WISATA
Gak Cuma Emak-emak, Jaksinema Bikin Anak Kalcer Rame-rame ke Pasar
Yatin Suleha
Minggu 27 September 2026 / 10:30
- Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, M. Al Fatih, menilai Jaksinema punya potensi besar.
- Menurutnya, Jaksinema harus bisa menghadirkan hiburan layar lebar yang terjangkau buat semua kalangan, baik dari segi lokasi maupun harga tiket.
- Pengembangannya juga enggak cuma sekadar nambahin jumlah layar, tapi harus memerhatikan karakter dan isi film yang diputar.
Jakarta: Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, M. Al Fatih, menilai Jaksinema punya potensi besar buat mendukung terwujudnya Jakarta sebagai Kota Sinema.
Menurutnya, Jaksinema harus bisa menghadirkan hiburan layar lebar yang terjangkau buat semua kalangan, baik dari segi lokasi maupun harga tiket.
Pengembangannya juga enggak cuma sekadar nambahin jumlah layar, tapi harus memerhatikan karakter dan isi film yang diputar.
Al Fatih berharap Jaksinema konsisten menayangkan film-film berkualitas dan edukatif yang mengangkat sejarah, budaya, serta cerita khas Jakarta. Konsep inilah yang bakal jadi identitas unik dan membedakan Jaksinema dari bioskop komersial pada umumnya.
Kehadiran bioskop di dalam pasar juga dinilai ampuh memutar roda perekonomian sekitar. Jaksinema hadir sebagai daya tarik baru yang bikin masyarakat tertarik buat balik lagi ke pasar, sekaligus berbelanja dan mendukung produk-produk UMKM lokal.
"Jadi jangan hanya dilihat sebagai pembangunan fasilitas bioskop, tetapi sebagai bagian dari membangun ekosistem baru di pasar. Orang datang untuk menonton, kemudian makan, berbelanja, membeli produk UMKM, dan berinteraksi di ruang publik," ujarnya, Jumat (25/9).
Ke depan, kurasi film diharapkan bisa memberi panggung luas untuk film lokal, independen, dokumenter, film anak, sampai karya-karya sineas Jakarta.
Tiket yang ramah di kantong dinilai bakal memperluas akses hiburan berkualitas bagi semua kalangan, sekaligus memperkuat ekosistem UMKM, pasar, industri kreatif, dan budaya lokal.
"Tentu kita dukung dan kita dorong agar program ini terus dievaluasi dan dikembangkan, sehingga benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat dan memiliki ciri khas yang kuat sebagai bagian dari identitas Jakarta Kota Sinema," tandasnya.
(TIN)
Menurutnya, Jaksinema harus bisa menghadirkan hiburan layar lebar yang terjangkau buat semua kalangan, baik dari segi lokasi maupun harga tiket.
Pengembangannya juga enggak cuma sekadar nambahin jumlah layar, tapi harus memerhatikan karakter dan isi film yang diputar.
Al Fatih berharap Jaksinema konsisten menayangkan film-film berkualitas dan edukatif yang mengangkat sejarah, budaya, serta cerita khas Jakarta. Konsep inilah yang bakal jadi identitas unik dan membedakan Jaksinema dari bioskop komersial pada umumnya.
Kehadiran bioskop di dalam pasar juga dinilai ampuh memutar roda perekonomian sekitar. Jaksinema hadir sebagai daya tarik baru yang bikin masyarakat tertarik buat balik lagi ke pasar, sekaligus berbelanja dan mendukung produk-produk UMKM lokal.
(Wagub Rano Karno resmikan bioskop mini di Rusun Pasar Rumput pada Agustus lalu. Foto: Dok. Instagram Disparekraf DKI Jakarta)
"Jadi jangan hanya dilihat sebagai pembangunan fasilitas bioskop, tetapi sebagai bagian dari membangun ekosistem baru di pasar. Orang datang untuk menonton, kemudian makan, berbelanja, membeli produk UMKM, dan berinteraksi di ruang publik," ujarnya, Jumat (25/9).
Ke depan, kurasi film diharapkan bisa memberi panggung luas untuk film lokal, independen, dokumenter, film anak, sampai karya-karya sineas Jakarta.
Tiket yang ramah di kantong dinilai bakal memperluas akses hiburan berkualitas bagi semua kalangan, sekaligus memperkuat ekosistem UMKM, pasar, industri kreatif, dan budaya lokal.
"Tentu kita dukung dan kita dorong agar program ini terus dievaluasi dan dikembangkan, sehingga benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat dan memiliki ciri khas yang kuat sebagai bagian dari identitas Jakarta Kota Sinema," tandasnya.
(TIN)