WISATA

Mempromosikan Pariwisata Jambi lewat Festival Jangkat 2022

A. Firdaus
Jumat 24 Juni 2022 / 22:31
Jangkat: Festival Jangkat untuk pertama kalinya digelar secara meriah pada Jumat 24 Juni 2022. Festival ini memamerkan ragam kebudayaan unik dan kuliner khas dari Jangkat, yang merupakan salah satu kecamatan di Provinsi Jambi

Festival Jangkat merupakan sebuah event yang mengangkat nilai budaya dan pariwisata. Jangkat adalah daerah eksotis, budaya yang unik, penuh dengan nilai-nilai kearifan lokal. 

Dalam festival Jangkat ini, ada tarian untuk menyambut para tamu, yaitu Persembahan Sekapur Sirih. Tarian ini dibawakan oleh SD Negeri 4 Desa Lubuk Pungguk dan SD Negeri Madras, Kecamatan Jangkat, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. 

Kemudian, disusul atraksi Silat Khadam yang merupakan atraksi dari desa Madras. Silat ini dimainkan dua Siamang (orang yang memakai kostum seperti monyet besar). 

Fungsi adanya atraksi ini sebagai sarana komunikasi komunal, yang bertujuan untuk menarik masyarakat Desa Madras, yang tinggal di lereng gunung Marusai. Penduduk Desa Madras waktu itu masih sangat minim, jadi dibutuhkan Silat Khadam untuk memanggil mereka berkumpul mengikuti acara atau hiburan. 

Yang menariknya, pada festival ini juga ada rekor MURI yang tercipta, yaitu membaka Jaudah terbanyak dengan 2500 tusukan dan melibatkan 200 ibu-ibu, baik dari PKK hingga Ibu Rumah Tangga. 

Jaudah adalah makanan sejenis dodol atau jenang. Biasanya dikonsumsi untuk menemani kopi saat sore hari. 

Jaudah kerap hadir saat hari besar keagamaan, seperti saat Idulfitri, Idul Adha, atau pesta rakyat. Menariknya, makanan ini punya kekuatan tahan lama untuk dikonsumsi.



(Dalam festival Jangkat ini, ada rekor MURI yang tercipta yaitu membaka Jaudah terbanyak dengan 2500 tusukan dan melibatkan 200 ibu-ibu, baik dari PKK hingga Ibu Rumah Tangga. Foto: Dok. A. Firdaus/Medcom.id)


Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi M Arif Budiman mengatakan, bakar Jaudah sudah jadi santapan masyarakat Jangkat sebelum melakukan aktivitas sehari-hari. Seperti berkebun dan menjalani aktivitas lain sebagainya. 

"Jika saat ini, bakar Jaudah sendiri dibuat biasanya saat ada perayaan hari besar keagamaan atau acara pesta masyarakat sebagai kudapan khas masyarakat Jangkat," ungkap Arif. 

Lebih lanjut, Arif menjelaskan proses pembuatan Jaudah yang sebetulnya tidak terlalu berbeda dengan pembuatan dodol pada umumnya. Akan tetapi, ada satu resep khusus yang membuat Jaudah tahan lama. 

"Proses pembuatan selama seharian, menggunakan tepung ketan dan gula. Dodol Jaudah tidak seperti dodol pada umumnya, jaudah tidak menggunakan santan membuat Jaudah tahan lama tanpa bahan pengawet. Tahan hingga satu tahun," kata Arif. 

"Kenapa dibakar? Karena dengan dibakar, Jaudah khas Jangkat rasanya akan lebih legit, lebih empuk. Itulah yang membuat Jaudah Jangkat berbeda dengan dodol-dodol khas dari daerah lainnya," jelas Arif. 

Tidak hanya awet selama satu tahun, pembuatan Jaudah asal Jangkat pun dibuat dengan cara yang berbeda. Jaudah ala Jangkat dicetak menggunakan bambu dan dipotong kecil-kecil, sebelum disajikan untuk disantap. 

Lebih lanjut, Arif menyatakan jika festival yang baru pertama kali ini berpeluang besar menjadi ajang tahunan di Jangkat. Bukan tidak mungkin, Festival Jangkat juga akan jadi kegiatan nasional di Jambi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH