WISATA
Data Bicara: Jogja Masih Jadi Primadona Wisata dengan Jutaan Pengunjung!
Yatin Suleha
Kamis 11 Juni 2026 / 10:55
- Walaupun lagi harus pintar-pintar atur bujet, orang-orang sekarang tetep milih buat liburan asal worth it.
- Seiring tren wisata yang semakin berorientasi pada pengalaman.
- Yogyakarta tetap diminati wisatawan, tawarkan pengalaman wisata budaya dengan biaya yang terjangkau.
Jakarta: Walaupun lagi harus pintar-pintar atur bujet, orang-orang sekarang tetep milih buat liburan asal worth it. Intinya, pengalaman yang didapet harus sebanding sama harga yang dikeluarin!
Seiring tren wisata yang semakin berorientasi pada pengalaman, wisatawan kini tidak hanya mencari tempat untuk berlibur, tetapi juga pengalaman yang lebih autentik dan dekat dengan kehidupan masyarakat lokal.
Ovaldo Sanjaya, General Manager Area East & Bali RedDoorz mengatakan, "Yogyakarta memiliki daya tarik yang sulit tergantikan karena menawarkan pengalaman wisata yang lengkap dengan biaya yang relatif terjangkau. Mulai dari budaya, wisata sejarah, hingga kuliner lokal, semuanya membuat wisatawan domestik terus kembali berkunjung ke Jogja."
Kondisi tersebut juga tercermin dari data pariwisata Yogyakarta yang terus menunjukkan tren positif.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang tahun 2025, terdapat 40,6 juta pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) dan 102.817 kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Provinsi DIY.
Tren positif ini terus berlanjut pada Kuartal I-2026, jumlah wisnus ke Jogja sudah menembus 10,4 juta kunjungan. Catatan ini melengkapi performa solid pada periode yang sama di tahun sebelumnya, yang mencatatkan 10,2 juta kunjungan (YoY).
Sepanjang 2025, Yogyakarta menjadi salah satu kota tier-1 RedDoorz dengan lebih dari 445.000 pemesanan sepanjang tahun. Tren positif ini berlanjut pada momen libur Lebaran 2026, dimana tingkat okupansi properti RedDoorz di seluruh Yogyakarta mencapai 55%, naik 91% secara tahunan (YoY).
.jpg)
(Data BPS sepanjang tahun 2025, terdapat 40,6 juta pergerakan wisnus ke Provinsi DIY. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Dan adanya perubahan perilaku wisatawan, khususnya dari kalangan Gen Z dan milenial, yang kini semakin dipengaruhi oleh platform digital maupun media sosial dalam menentukan destinasi wisata dan akomodasi.
Wisatawan Gen Z cenderung lebih aktif melakukan riset sebelum memesan penginapan, mulai dari membandingkan review, aksesibilitas lokasi, harga, hingga tampilan visual properti di media sosial seperti TikTok dan Instagram.
Sementara itu, wisatawan milenial umumnya lebih fokus pada kenyamanan, fasilitas yang andal, lokasi strategis, serta pengalaman menginap yang praktis untuk keluarga maupun wisata dalam grup.
“Untuk menjawab kebutuhan wisatawan yang semakin beragam, kami terus memperkuat strategi multi-brand di Yogyakarta melalui jaringan Sans dan Urbanview yang menyasar segmen wisatawan berbeda, mulai dari wisatawan yang sensitif terhadap harga, hingga wisatawan yang mencari pengalaman menginap lebih modern dan estetik,” tambah Ovaldo.
Sepanjang 2025, Sans Hotel menjadi brand dengan tingkat okupansi tertinggi, yakni 1,3 kali lebih tinggi dibanding rata-rata hotel lain di Kota Jogja.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Seiring tren wisata yang semakin berorientasi pada pengalaman, wisatawan kini tidak hanya mencari tempat untuk berlibur, tetapi juga pengalaman yang lebih autentik dan dekat dengan kehidupan masyarakat lokal.
Ovaldo Sanjaya, General Manager Area East & Bali RedDoorz mengatakan, "Yogyakarta memiliki daya tarik yang sulit tergantikan karena menawarkan pengalaman wisata yang lengkap dengan biaya yang relatif terjangkau. Mulai dari budaya, wisata sejarah, hingga kuliner lokal, semuanya membuat wisatawan domestik terus kembali berkunjung ke Jogja."
Kondisi tersebut juga tercermin dari data pariwisata Yogyakarta yang terus menunjukkan tren positif.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang tahun 2025, terdapat 40,6 juta pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) dan 102.817 kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Provinsi DIY.
Tren positif ini terus berlanjut pada Kuartal I-2026, jumlah wisnus ke Jogja sudah menembus 10,4 juta kunjungan. Catatan ini melengkapi performa solid pada periode yang sama di tahun sebelumnya, yang mencatatkan 10,2 juta kunjungan (YoY).
Sepanjang 2025, Yogyakarta menjadi salah satu kota tier-1 RedDoorz dengan lebih dari 445.000 pemesanan sepanjang tahun. Tren positif ini berlanjut pada momen libur Lebaran 2026, dimana tingkat okupansi properti RedDoorz di seluruh Yogyakarta mencapai 55%, naik 91% secara tahunan (YoY).
Perubahan perilaku wisatawan, Gen Z dan milenial
.jpg)
(Data BPS sepanjang tahun 2025, terdapat 40,6 juta pergerakan wisnus ke Provinsi DIY. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Dan adanya perubahan perilaku wisatawan, khususnya dari kalangan Gen Z dan milenial, yang kini semakin dipengaruhi oleh platform digital maupun media sosial dalam menentukan destinasi wisata dan akomodasi.
Wisatawan Gen Z cenderung lebih aktif melakukan riset sebelum memesan penginapan, mulai dari membandingkan review, aksesibilitas lokasi, harga, hingga tampilan visual properti di media sosial seperti TikTok dan Instagram.
Sementara itu, wisatawan milenial umumnya lebih fokus pada kenyamanan, fasilitas yang andal, lokasi strategis, serta pengalaman menginap yang praktis untuk keluarga maupun wisata dalam grup.
Baca Juga :
Jadwal KRL Jogja-Solo Terupdate: Keberangkatan dari Stasiun Tugu, Lempuyangan, hingga Palur
“Untuk menjawab kebutuhan wisatawan yang semakin beragam, kami terus memperkuat strategi multi-brand di Yogyakarta melalui jaringan Sans dan Urbanview yang menyasar segmen wisatawan berbeda, mulai dari wisatawan yang sensitif terhadap harga, hingga wisatawan yang mencari pengalaman menginap lebih modern dan estetik,” tambah Ovaldo.
Sepanjang 2025, Sans Hotel menjadi brand dengan tingkat okupansi tertinggi, yakni 1,3 kali lebih tinggi dibanding rata-rata hotel lain di Kota Jogja.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)