WISATA

Event, Sunset, dan Healing: Tanjung Lesung Lagi On Fire Banget

A. Firdaus
Kamis 29 Januari 2026 / 10:13
Ringkasnya gini..
  • Lomba lari di tepi pantai.
  • Perlahan mengubah peta wisata.
  • Tanjung Lesung punya empat pantai.
Tanjung Lesung: Tahun 2025 menjadi tahun yang penting bagi kawasan wisata Tanjung Lesung-Banten. Di tengah pertumbuhan pariwisata Indonesia yang menguat, destinasi ini terus menegaskan posisinya sebagai keindahan modern yang bertumpu pada inovasi, keberlanjutan, dan ketenangan.
 

Menjadi destinasi yang memorable


Sepanjang 2025, Tanjung Lesung tidak hanya menghadirkan keramaian, tetapi juga pengalaman yang berkesan. Beragam agenda digelar, mulai dari kegiatan komunitas hingga event berskala besar, yang bikin kawasan ini terasa semakin hidup.

Sejumlah acara seperti Rhino Eco Run, Sunset Fun Run Fest, Aero Sport Fest, hingga Exciting Banten Festival menghadirkan ragam aktivitas yang melibatkan pengunjung dari berbagai kalangan.


Event lari Rhino Eco Run di Tanjung Lesung. Dok. Ist

Ada pengunjung yang mencoba lomba lari di tepi pantai, ada keluarga yang menikmati kerajinan dan kuliner khas lokal, ada tawa pengunjung yang pecah dari kebersamaan lintas komunitas. Setiap event terasa dikemas secara matang agar memberi nilai tambah bagi pengunjung, bukan sekadar menjadi tempat healing sesaat.
“Bagi kami, event-event di Tanjung Lesung bukan hanya ‘inovasi’ untuk mendatangkan pengunjung. Tapi kami ingin mengenalkan Tanjung Lesung lebih dekat dan jadi tempat yang memorable. Kami ingin pengunjung yang datang, bergerak, berinteraksi, lalu pulang dengan cerita. Bukan hanya mengambil foto atau menikmati keindahan panorama pantai dengan ketenangannya,” kata Poernomo Siswaprasetijo, Direktur Utama Tanjung Lesung.

Poernomo, begitu biasa disapa, menambahkan, upaya pengembangan Tanjung Lesung juga terus berjalan. Sepanjang 2025, Tanjung Lesung aktif menjalin pertemuan dan diskusi dengan pemerintah daerah dan pusat, instansi terkait, hingga tokoh-tokoh di sektor pariwisata. Dari rangkaian inisiatif, pengembangan kawasan serta penyelenggaraan berbagai event, tersebut, turut mendapat pengakuan melalui penghargaan dari Kabar Banten Awards.
 

Perlahan mengubah peta wisata


Memasuki tahun 2026, Poernomo menyampaikan, Tanjung Lesung dihadapkan berbagai tantangan namun optimisme juga tumbuh. Salah satu momen yang paling ditunggu adalah dibukanya Tol Serang–Panimbang Seksi 2 pada Oktober 2026 nanti.

Menurut Poernomo, tol ini bukan hanya akan memangkas waktu tempuh menuju Tanjung Lesung menjadi sekitar dua hingga dua setengah jam, tapi perlahan akan mengubah peta wisata Jabodetabek. Tanjung Lesung tak lagi terasa jauh. 

Dengan waktu perjalanan yang setara menuju kawasan Puncak, Bogor, Tanjung Lesung berpotensi besar akan jadi pilihan utama destinasi keluarga liburan, terutama masyarakat Jabodetabek.


Pelepasan penyu. Dok. Ist

“Menyambut dibukanya tol, kami memperkuat atraksi dengan meningkatkan ragam aktivitas wisata yang telah tersedia. Mulai dari olahraga air, olahraga darat, hingga wisata budaya,” ucap pria yang juga menjabat CEO Pacific Asia Travel Association (PATA) Indonesia Chapter ini.

Pada saat yang sama, kenyamanan pengunjung menjadi perhatian utama. Empat pantai yang dimiliki Tanjung Lesung, termasuk private beach Kalica, dirawat secara berkala agar tetap bersih dan alami. Pilihan akomodasi pun disiapkan dengan beragam harga, agar setiap pengunjung bisa menemukan tempat menginap sesuai kebutuhan dan preferensi mereka.
 

Komitmen keberlanjutan


Ditambah, hadirnya pengaman pantai sejauh 14 km – yang juga menyediakan jogging track dan pedestrian. Para pengunjung tak perlu cemas lagi akan keamanan selama liburan di Tanjung Lesung.

“Bahkan, tempat jogging track ini jadi tempat favorit baru dan worth it dicoba untuk berjalan santai, berolahraga, hingga menikmati momen sunrise dan sunset,” ujar Poernomo.


Membersihkan secara rutin kawasan pantai. Dok. Ist

Komitmen keberlanjutan dengan lingkungan juga dilakukan oleh Tanjung Lesung. Mulai dari rutin membersihkan kawasan pantai dari sampah, menanam pohon secara berkala, membuat penangkaran penyu, untuk kemudian dilepas liarkankan, dan konservasi terumbu karang plus menghadirkan program “orangtua asuh” terumbu karang. Harapannya, agar air laut tetap jernih tanpa mengganggu habitat alami biota laut, seiring dengan tumbuhnya aktivitas pariwisata.

“Inilah upaya-upaya yang telah kami lakukan hingga saat ini. Sebuah ikhtiar agar keseimbangan terus terjaga, antara alam dan pariwisata. Agar keindahan di Tanjung Lesung yang dinikmati hari ini bisa tetap terus dinikmati juga oleh generasi selanjutnya,” tutup Poernomo.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH