WISATA
Turis Makin Aktif, Hotel Tak Bisa Cuma Jual Kasur
A. Firdaus
Selasa 29 September 2026 / 13:07
- Industri pariwisata didorong berinovasi.
- Pariwisata berkualitas perlu dikembangkan melalui perencanaan matang dengan mempertimbangkan potensi setiap daerah.
- Kebutuhan wisatawan kini tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan kamar, tetapi juga kualitas istirahat.
Jakarta: Pengembangan pariwisata Indonesia membutuhkan perencanaan jangka panjang yang berkelanjutan, bukan sekadar proyek yang berganti seiring pergantian pemerintahan. Selain itu, perubahan gaya hidup wisatawan juga perlu menjadi perhatian pelaku industri untuk menghadirkan pengalaman berwisata yang semakin relevan.
Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), Hariyadi Sukamdani, menekankan pentingnya kesinambungan program pemerintah dalam membangun sektor pariwisata. Menurut dia, pariwisata berkualitas perlu dikembangkan melalui perencanaan matang dengan mempertimbangkan potensi setiap daerah.
Ia menjelaskan, ada sejumlah aspek yang perlu diperhatikan, mulai dari pendalaman potensi wilayah, regulasi yang kondusif, insentif investasi, hingga skema kerja sama pemerintah dan swasta (public-private partnership) yang menarik bagi investor.
“Sesungguhnya, pariwisata yang berkualitas itu dapat direncanakan dengan melihat aspek-aspek, seperti pendalaman potensi di wilayah itu, regulasi yang kondusif, insentif investasi, serta aturan public-private partnership yang menarik bagi investor,” ujar Hariyadi.
Di sisi lain, perkembangan gaya hidup wisatawan juga membuka peluang bagi industri perhotelan untuk menghadirkan pengalaman yang lebih sesuai dengan kebutuhan tamu. Founder dan CEO Artotel Group, Erasmus Radjimin, mengatakan tren gaya hidup sehat menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan layanan perhotelan.
Menurut pria yang akrab disapa Eri itu, kebutuhan wisatawan kini tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan kamar, tetapi juga kualitas istirahat. Hal tersebut terlihat dari semakin banyaknya orang yang menggunakan perangkat pelacak kesehatan (health tracker) untuk memantau kualitas tidur mereka.
“Orang zaman sekarang sudah menggunakan health tracker. Mereka mengecek sleeping score-nya berapa. Itu yang kita coba improve terus,” kata Eri.
Selain meningkatkan kualitas tidur, Artotel Group juga berencana menghadirkan Wanderlust Recovery Center berupa fasilitas pusat kebugaran atau gym. Fasilitas tersebut disiapkan untuk menjawab kebutuhan wisatawan yang semakin aktif dan menjadikan olahraga sebagai bagian dari gaya hidup.
Eri memperkirakan kebutuhan terhadap fasilitas kebugaran akan semakin berkembang di kalangan pelancong. Ia menyebut satu dari tiga wisatawan diperkirakan akan membutuhkan fasilitas gym selama bepergian.
“Karena gaya hidup ke depannya, satu dari tiga traveller itu akan membutuhkan gym,” ujarnya.
Berbagai pandangan tersebut turut mewarnai penyelenggaraan Indonesia Tourism Outlook (ITMO) 2027 yang menjadi ruang diskusi bagi pelaku industri untuk membahas arah dan tantangan pariwisata Indonesia.
Ketua Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf), Tiara Maharani Kusuma, mengatakan penyelenggaraan ITMO tahun ini terasa istimewa. Selain menjadi bagian dari perayaan Hari Pariwisata Dunia, acara tersebut juga menandai sembilan tahun penyelenggaraan Indonesia Tourism Outlook.
“Event ini terasa sedikit spesial, selain menggabungkan untuk merayakan Hari Pariwisata Dunia, ini juga menjadi momen kami untuk merayakan sembilan tahun penyelenggaraan Indonesia Tourism Outlook,” kata Tiara.
ITMO 2027 terselenggara berkat dukungan Kementerian Pariwisata, Artotel Group, Artotel Mangkuluhur Suites Jakarta, InJourney, InJourney Hospitality, Kokola, Indofood, dan Yogadihotel.
Melalui forum tersebut, isu kesinambungan kebijakan, investasi, serta perubahan kebutuhan wisatawan menjadi bagian dari pembahasan mengenai pengembangan pariwisata Indonesia ke depan.
(FIR)
Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), Hariyadi Sukamdani, menekankan pentingnya kesinambungan program pemerintah dalam membangun sektor pariwisata. Menurut dia, pariwisata berkualitas perlu dikembangkan melalui perencanaan matang dengan mempertimbangkan potensi setiap daerah.
Ia menjelaskan, ada sejumlah aspek yang perlu diperhatikan, mulai dari pendalaman potensi wilayah, regulasi yang kondusif, insentif investasi, hingga skema kerja sama pemerintah dan swasta (public-private partnership) yang menarik bagi investor.
“Sesungguhnya, pariwisata yang berkualitas itu dapat direncanakan dengan melihat aspek-aspek, seperti pendalaman potensi di wilayah itu, regulasi yang kondusif, insentif investasi, serta aturan public-private partnership yang menarik bagi investor,” ujar Hariyadi.
Di sisi lain, perkembangan gaya hidup wisatawan juga membuka peluang bagi industri perhotelan untuk menghadirkan pengalaman yang lebih sesuai dengan kebutuhan tamu. Founder dan CEO Artotel Group, Erasmus Radjimin, mengatakan tren gaya hidup sehat menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan layanan perhotelan.
Menurut pria yang akrab disapa Eri itu, kebutuhan wisatawan kini tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan kamar, tetapi juga kualitas istirahat. Hal tersebut terlihat dari semakin banyaknya orang yang menggunakan perangkat pelacak kesehatan (health tracker) untuk memantau kualitas tidur mereka.
Ketua Umum GIPI, Hariyadi Sukamdani dan CEO Artotel Group, Erasmus Radjimin. Dok. Forwaparekraf
“Orang zaman sekarang sudah menggunakan health tracker. Mereka mengecek sleeping score-nya berapa. Itu yang kita coba improve terus,” kata Eri.
Selain meningkatkan kualitas tidur, Artotel Group juga berencana menghadirkan Wanderlust Recovery Center berupa fasilitas pusat kebugaran atau gym. Fasilitas tersebut disiapkan untuk menjawab kebutuhan wisatawan yang semakin aktif dan menjadikan olahraga sebagai bagian dari gaya hidup.
Eri memperkirakan kebutuhan terhadap fasilitas kebugaran akan semakin berkembang di kalangan pelancong. Ia menyebut satu dari tiga wisatawan diperkirakan akan membutuhkan fasilitas gym selama bepergian.
“Karena gaya hidup ke depannya, satu dari tiga traveller itu akan membutuhkan gym,” ujarnya.
Berbagai pandangan tersebut turut mewarnai penyelenggaraan Indonesia Tourism Outlook (ITMO) 2027 yang menjadi ruang diskusi bagi pelaku industri untuk membahas arah dan tantangan pariwisata Indonesia.
Ketua Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf), Tiara Maharani Kusuma, mengatakan penyelenggaraan ITMO tahun ini terasa istimewa. Selain menjadi bagian dari perayaan Hari Pariwisata Dunia, acara tersebut juga menandai sembilan tahun penyelenggaraan Indonesia Tourism Outlook.
“Event ini terasa sedikit spesial, selain menggabungkan untuk merayakan Hari Pariwisata Dunia, ini juga menjadi momen kami untuk merayakan sembilan tahun penyelenggaraan Indonesia Tourism Outlook,” kata Tiara.
ITMO 2027 terselenggara berkat dukungan Kementerian Pariwisata, Artotel Group, Artotel Mangkuluhur Suites Jakarta, InJourney, InJourney Hospitality, Kokola, Indofood, dan Yogadihotel.
Melalui forum tersebut, isu kesinambungan kebijakan, investasi, serta perubahan kebutuhan wisatawan menjadi bagian dari pembahasan mengenai pengembangan pariwisata Indonesia ke depan.
(FIR)