FAMILY
POV Bawa Bocil ke Supermarket Antidrama & Tetap 'Waras'
Yatin Suleha
Senin 30 Maret 2026 / 11:55
- Mengajak balita ikut belanja ke supermarket, sering kali jadi tantangan tersendiri.
- Mulai dari godaan mainan di setiap sudut, deretan camilan di dekat kasir, sampai suasana ramai yang bikin anak cepat bosan.
- Tidak heran kalau aktivitas sederhana ini, terasa melelahkan bahkan sebelum dimulai.
Jakarta: Mengajak balita ikut belanja ke supermarket, sering kali jadi tantangan tersendiri. Mulai dari godaan mainan di setiap sudut, deretan camilan di dekat kasir, sampai suasana ramai yang bikin anak cepat bosan atau overstimulasi, semuanya bisa memicu drama dalam hitungan menit.
Tidak heran kalau aktivitas sederhana ini, terasa melelahkan bahkan sebelum dimulai. Meski begitu, belanja bersama anak kecil tidak selalu harus berakhir dengan tangisan atau tantrum.
Dengan persiapan yang tepat dan strategi sederhana, pengalaman ini bisa jadi lebih terkendali, bahkan menyenangkan. Kuncinya ada pada memahami kebutuhan anak, dan mengatur ekspektasi sejak awal. Yuk simak tipsnya.
Sebelum berangkat penting untuk memikirkan, seperti apa kondisi tempat yang akan dikunjungi dari sudut pandang anak.
Apakah banyak godaan seperti mainan atau makanan manis? Apakah suasananya ramai dan penuh aturan? Semua hal ini bisa memengaruhi suasana hati anak selama di toko.
Dilansir dari Parents, setiap tantrum biasanya tidak terjadi tiba-tiba, melainkan melalui rangkaian kejadian sebelumnya.
Dengan mengenali potensi pemicu, misalnya area toko roti dengan tampilan kue yang menarik, karena langkah pencegahan bisa dilakukan lebih awal agar situasi tetap terkendali.
.jpg)
(Moms, jangan lupa pastikan si kecil sudah makan dan dalam kondisi cukup istirahat sebelum berangkat. Anak yang lapar atau mengantuk jauh lebih mudah rewel (tantrum) saat berada di keramaian. Foto: Ilustrasi/Unsplash.com)
Memberikan hadiah saat belanja sebenarnya boleh saja, selama aturan sudah disampaikan sejak awal. Misalnya, anak boleh memilih camilan jika bisa mengikuti aturan selama di toko, seperti tetap dekat dan tidak berteriak.
Penting untuk membedakan antara hadiah dan suap. Hadiah diberikan sebagai kesepakatan di awal untuk mendorong perilaku baik, sedangkan suap biasanya diberikan setelah anak mulai tantrum.
Jika terbiasa memberi suap, anak bisa belajar bahwa menangis atau berteriak, menjadi cara efektif untuk mendapatkan keinginan.
Memaksakan satu tujuan tambahan setelah jadwal, yang sudah padat sering kali jadi pemicu kelelahan, baik untuk orang tua maupun anak. Misalnya, menambah kunjungan ke toko lain menjelang waktu makan atau saat anak sudah lelah, bisa memperbesar risiko tantrum.
Lebih baik mengurangi daftar kegiatan, daripada memaksakan semuanya dan berakhir dengan situasi yang tidak nyaman.
Di era sekarang, belanja online bisa jadi solusi praktis untuk menghindari kerepotan. Memesan kebutuhan secara daring bisa menghemat waktu dan energi, terutama saat kondisi tidak memungkinkan untuk membawa anak keluar.
Meski begitu, kebiasaan ini tidak perlu dilakukan setiap saat. Anak tetap perlu belajar menghadapi situasi dunia nyata, termasuk saat berada di tempat umum seperti supermarket.
Melibatkan anak sebagai “tim” saat berbelanja, bisa membuat suasana jadi lebih positif. Anak akan merasa lebih nyaman ketika merasa dipahami, bukan hanya diawasi.
Salah satu cara sederhana adalah memberi nama seru pada aktivitas belanja, seperti “Petualangan Belanja Hari Ini”.
Bisa juga ditambahkan lagu kecil atau yel-yel, agar suasana terasa lebih menyenangkan. Pendekatan ini membantu anak melihat kegiatan belanja sebagai pengalaman seru, bukan tekanan.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Tidak heran kalau aktivitas sederhana ini, terasa melelahkan bahkan sebelum dimulai. Meski begitu, belanja bersama anak kecil tidak selalu harus berakhir dengan tangisan atau tantrum.
Dengan persiapan yang tepat dan strategi sederhana, pengalaman ini bisa jadi lebih terkendali, bahkan menyenangkan. Kuncinya ada pada memahami kebutuhan anak, dan mengatur ekspektasi sejak awal. Yuk simak tipsnya.
1. Antisipasi situasi sejak awal
Sebelum berangkat penting untuk memikirkan, seperti apa kondisi tempat yang akan dikunjungi dari sudut pandang anak.
Apakah banyak godaan seperti mainan atau makanan manis? Apakah suasananya ramai dan penuh aturan? Semua hal ini bisa memengaruhi suasana hati anak selama di toko.
Dilansir dari Parents, setiap tantrum biasanya tidak terjadi tiba-tiba, melainkan melalui rangkaian kejadian sebelumnya.
Dengan mengenali potensi pemicu, misalnya area toko roti dengan tampilan kue yang menarik, karena langkah pencegahan bisa dilakukan lebih awal agar situasi tetap terkendali.
2. Siapkan sistem hadiah yang jelas
.jpg)
(Moms, jangan lupa pastikan si kecil sudah makan dan dalam kondisi cukup istirahat sebelum berangkat. Anak yang lapar atau mengantuk jauh lebih mudah rewel (tantrum) saat berada di keramaian. Foto: Ilustrasi/Unsplash.com)
Memberikan hadiah saat belanja sebenarnya boleh saja, selama aturan sudah disampaikan sejak awal. Misalnya, anak boleh memilih camilan jika bisa mengikuti aturan selama di toko, seperti tetap dekat dan tidak berteriak.
Penting untuk membedakan antara hadiah dan suap. Hadiah diberikan sebagai kesepakatan di awal untuk mendorong perilaku baik, sedangkan suap biasanya diberikan setelah anak mulai tantrum.
Jika terbiasa memberi suap, anak bisa belajar bahwa menangis atau berteriak, menjadi cara efektif untuk mendapatkan keinginan.
3. Hindari memaksakan agenda tambahan
Memaksakan satu tujuan tambahan setelah jadwal, yang sudah padat sering kali jadi pemicu kelelahan, baik untuk orang tua maupun anak. Misalnya, menambah kunjungan ke toko lain menjelang waktu makan atau saat anak sudah lelah, bisa memperbesar risiko tantrum.
Lebih baik mengurangi daftar kegiatan, daripada memaksakan semuanya dan berakhir dengan situasi yang tidak nyaman.
4. Manfaatkan teknologi jika memungkinkan
Di era sekarang, belanja online bisa jadi solusi praktis untuk menghindari kerepotan. Memesan kebutuhan secara daring bisa menghemat waktu dan energi, terutama saat kondisi tidak memungkinkan untuk membawa anak keluar.
Meski begitu, kebiasaan ini tidak perlu dilakukan setiap saat. Anak tetap perlu belajar menghadapi situasi dunia nyata, termasuk saat berada di tempat umum seperti supermarket.
5. Bangun kerja sama dengan anak
Melibatkan anak sebagai “tim” saat berbelanja, bisa membuat suasana jadi lebih positif. Anak akan merasa lebih nyaman ketika merasa dipahami, bukan hanya diawasi.
Salah satu cara sederhana adalah memberi nama seru pada aktivitas belanja, seperti “Petualangan Belanja Hari Ini”.
Bisa juga ditambahkan lagu kecil atau yel-yel, agar suasana terasa lebih menyenangkan. Pendekatan ini membantu anak melihat kegiatan belanja sebagai pengalaman seru, bukan tekanan.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)