KULINER

Kenapa Makanan Pedas Bikin Nagih Padahal Mulut Kepanasan?

A. Firdaus
Sabtu 03 Oktober 2026 / 16:09
Ringkasnya gini..
  • Capsaicin, senyawa yang bikin cabai terasa pedas, memicu sensasi panas di mulut.
  • Makin sering makan pedas, tubuh bisa makin terbiasa sama sensasinya.
  • Rasa “nagih” lebih berkaitan sama rasa suka dan pengalaman makan, bukan berarti makanan pedas bikin kecanduan.

Jakarta: Makan makanan pedas tuh kadang bikin bingung. Baru suapan pertama, mulut udah panas, keringetan, hidung mulai meler, bahkan buru-buru cari minum. Tapi bukannya kapok, beberapa menit kemudian malah bilang, “Tambah sambal lagi dong.”

Ternyata, ada alasan kenapa sensasi yang bikin kepanasan itu malah bisa terasa enak. Bukan cuma soal kuat atau nggaknya lidah nerima cabai, tapi ada senyawa dalam cabai dan proses adaptasi tubuh yang ikut bikin kita makin suka makanan pedas.

 

Spicy Chili Noodles with Soft-Boiled Egg

(Makanan pedas dengan cabai yang menggugah selera. Foto: AI Generated)

 

Pedas sebenarnya bukan rasa

Menurut Cleveland Clinic, pusat medis akademik nirlaba di Amerika Serikat, capsaicin, yaitu senyawa alami yang bikin cabai terasa pedas, menghasilkan sensasi panas atau terbakar di mulut.

Capsaicin bekerja dengan mengaktifkan reseptor tertentu pada saraf sensorik. Reseptor ini disebut TRPV1 dan berperan dalam mendeteksi panas serta rangsangan yang berpotensi bikin sakit.

Makanya, saat makan cabai, mulut terasa kayak terbakar meski suhunya nggak benar-benar sepanas api. Jadi, sensasi pedas sebenarnya bukan salah satu rasa dasar kayak manis, asin, asam, pahit, atau umami.

 

 

Kok malah terasa enak?

Nah, di sinilah bagian menariknya. Sensasi panas dari capsaicin memang nggak nyaman, tapi tubuh juga punya respons terhadap rasa sakit dan stres. Cleveland Clinic menjelaskan bahwa tubuh bisa melepaskan endorfin, yaitu senyawa yang membantu mengurangi rasa sakit dan meningkatkan rasa nyaman.

Pengalaman itu bisa bikin sensasi makan pedas terasa menyenangkan buat sebagian orang. Jadi setelah kepedesan, bukannya berhenti, malah pengen lanjut lagi.

Tapi nggak semua orang bakal ngerasain hal yang sama. Kesukaan terhadap makanan pedas bisa dipengaruhi pengalaman, lingkungan, budaya, dan seberapa sering seseorang makan makanan pedas.

 

Makin sering, makin terbiasa

Penelitian yang tercatat dalam PubMed, database referensi penelitian kesehatan yang dikelola National Library of Medicine Amerika Serikat, menunjukkan paparan capsaicin berulang bisa mengurangi intensitas sensasi terbakar di mulut.

Dalam salah satu penelitian pada manusia, paparan capsaicin dosis rendah secara berulang selama beberapa hari bikin peserta ngerasain sensasi terbakar yang lebih rendah. Artinya, toleransi terhadap rasa pedas memang bisa terbentuk seiring waktu.

Makanya, level sambal yang dulu bikin nyerah bisa lama-lama terasa biasa aja. Bukan cabainya yang mendadak kurang pedas, tubuh kita yang udah makin terbiasa.

 

Jadi, makanan pedas bikin kecanduan?

Belum tentu. Istilah “nagih” lebih pas buat menggambarkan rasa suka atau keinginan makan lagi, bukan kecanduan secara medis.

Jadi, kalo habis makan seblak superpedas masih pengen nambah, bisa jadi itu hasil kombinasi capsaicin, pengalaman makan, dan selera yang terbentuk dari kebiasaan. Tapi kalo level pedasnya udah bikin perut nggak nyaman, nggak perlu dipaksain. Pedas boleh, yang penting tau batas.


Desi I.



Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH