KULINER
Menjelajah Indonesia dari Sepiring Kuliner Nusantara
A. Firdaus
Sabtu 03 Oktober 2026 / 11:32
- Wonderful Indonesia Gastronomy 2026 hadir di Yogyakarta melalui forum, pasar artisan, dan wisata kuliner untuk memperkenalkan potensi gastronomi Indonesia.
- Mengusung kekayaan rasa Nusantara, WIG 2026 menghadirkan beragam kegiatan
- Kementerian Pariwisata turut menggandeng Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia.
Yogyakarta: Kuliner kini bukan sekadar urusan memanjakan lidah. Di balik sepiring makanan, ada cerita budaya, kreativitas, hingga peluang ekonomi yang bisa menjadi daya tarik wisata. Potensi inilah yang diangkat melalui Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) 2026 yang kini berlanjut ke Yogyakarta setelah sebelumnya digelar di Solo.
Mengusung kekayaan rasa Nusantara, WIG 2026 menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari forum diskusi, Artisan Market, hingga kunjungan ke produsen pangan lokal. Rangkaian ini mempertemukan pelaku kuliner, industri pariwisata, dan masyarakat untuk mengeksplorasi potensi gastronomi Indonesia.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana membuka WIG Talks 2026 di Grand Hotel De Djokja, Yogyakarta, Jumat, 2 Oktober 2026. Forum tersebut menghadirkan 22 pembicara dalam lima sesi diskusi dan satu sesi ulasan buku. Jumlah peserta bahkan melampaui target awal sebanyak 300 orang.
Widiyanti mengatakan gastronomi memiliki peran lebih luas daripada sekadar memperkenalkan makanan khas suatu daerah. Kekayaan kuliner dapat menjadi identitas budaya sekaligus penggerak ekonomi dan daya tarik perjalanan wisata.
Menurut dia, wisata gastronomi diharapkan mampu mendorong wisatawan datang langsung ke daerah, mengenal bahan pangan lokal, serta berinteraksi dengan masyarakat yang menjaga tradisi kuliner tersebut.
Semangat memperkenalkan kekayaan kuliner Nusantara juga terasa dalam Artisan Market yang berlangsung pada 2–4 Oktober 2026 di Grand Hotel De Djokja. Sebanyak 21 tenant dari kawasan Joglosemar dan Jakarta ikut meramaikan kegiatan ini, didukung 13 kolaborator yang menghadirkan lokakarya, diskusi, hingga demonstrasi memasak.
Pengunjung dapat menemukan beragam produk pangan lokal, mulai dari beras aromatik, rempah, keju artisan, teh, kopi Nusantara, hingga jamu tradisional dengan sentuhan modern. Ada pula madu, gula kelapa organik, tempe, kue kering, kombucha, dan soda artisan.
Keberagaman produk tersebut memperlihatkan kreativitas pelaku usaha dalam mengolah bahan baku lokal menjadi produk bernilai tambah. Artisan Market juga menjadi ruang pertemuan antara produsen, pelaku usaha, industri, dan konsumen.
Kementerian Pariwisata menilai akses pasar menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan gastronomi. Dengan mempertemukan produsen dan pembeli, produk lokal berpeluang memperluas jangkauan pemasaran, termasuk memasuki industri hotel, restoran, dan kafe (HOREKA).
Pengalaman gastronomi juga dihadirkan melalui Tastemaker Gastronomy Trip yang mengajak peserta mengenal proses produksi pangan secara langsung. Salah satu destinasi yang dikunjungi adalahMazaraat Artisan Cheese, produsen keju artisan yang didirikan Jamie Najmi dan Nieta Pricillia.
Di tempat ini, pengunjung dapat melihat proses pembuatan keju, mencoba membuat keju sendiri, hingga menikmati kudapan berbahan keju di tengah suasana persawahan Yogyakarta.
Kunjungan tersebut memperlihatkan bagaimana proses produksi pangan dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang memadukan edukasi, kuliner, dan suasana alam. Produk lokal pun tidak hanya dipasarkan sebagai bahan pangan, tetapi juga menjadi bagian dari atraksi wisata.
Widiyanti mengatakan pengembangan produk lokal menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai pasok industri pariwisata. Dengan kualitas dan pengembangan yang tepat, produk gastronomi Indonesia berpeluang semakin dikenal serta dimanfaatkan oleh pelaku industri.
Setelah Solo dan Yogyakarta, rangkaian Wonderful Indonesia Gastronomy dijadwalkan berlanjut ke Sumatra Barat pada 2027. Daerah ini dipilih karena memiliki kekayaan rasa dan tradisi kuliner yang telah dikenal luas, termasuk di tingkat internasional.
Selain WIG Talks, Artisan Market, dan perjalanan gastronomi, WIG 2026 juga menghadirkan Indonesia Restaurant Months bersama Priceless by Mastercard yang melibatkan 150 restoran di enam kota. Ada pula Chef Collaboration di sejumlah hotel dan restoran yang tersebar di tiga kota.
Kementerian Pariwisata turut menggandeng Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) untuk menggelar Culinary Festival pada 7 Oktober hingga 1 November 2026. Festival tersebut melibatkan 32 pusat perbelanjaan di 14 kota.
Melalui berbagai kegiatan ini, gastronomi diharapkan tidak hanya menjadi cara menikmati kekayaan kuliner Indonesia, tetapi juga membuka peluang perjalanan wisata, memperluas pasar produk lokal, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
(FIR)
Mengusung kekayaan rasa Nusantara, WIG 2026 menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari forum diskusi, Artisan Market, hingga kunjungan ke produsen pangan lokal. Rangkaian ini mempertemukan pelaku kuliner, industri pariwisata, dan masyarakat untuk mengeksplorasi potensi gastronomi Indonesia.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana membuka WIG Talks 2026 di Grand Hotel De Djokja, Yogyakarta, Jumat, 2 Oktober 2026. Forum tersebut menghadirkan 22 pembicara dalam lima sesi diskusi dan satu sesi ulasan buku. Jumlah peserta bahkan melampaui target awal sebanyak 300 orang.
Widiyanti mengatakan gastronomi memiliki peran lebih luas daripada sekadar memperkenalkan makanan khas suatu daerah. Kekayaan kuliner dapat menjadi identitas budaya sekaligus penggerak ekonomi dan daya tarik perjalanan wisata.
Menurut dia, wisata gastronomi diharapkan mampu mendorong wisatawan datang langsung ke daerah, mengenal bahan pangan lokal, serta berinteraksi dengan masyarakat yang menjaga tradisi kuliner tersebut.
Artisan Market, Panggung Produk Lokal
Semangat memperkenalkan kekayaan kuliner Nusantara juga terasa dalam Artisan Market yang berlangsung pada 2–4 Oktober 2026 di Grand Hotel De Djokja. Sebanyak 21 tenant dari kawasan Joglosemar dan Jakarta ikut meramaikan kegiatan ini, didukung 13 kolaborator yang menghadirkan lokakarya, diskusi, hingga demonstrasi memasak.
Pengunjung dapat menemukan beragam produk pangan lokal, mulai dari beras aromatik, rempah, keju artisan, teh, kopi Nusantara, hingga jamu tradisional dengan sentuhan modern. Ada pula madu, gula kelapa organik, tempe, kue kering, kombucha, dan soda artisan.
Keberagaman produk tersebut memperlihatkan kreativitas pelaku usaha dalam mengolah bahan baku lokal menjadi produk bernilai tambah. Artisan Market juga menjadi ruang pertemuan antara produsen, pelaku usaha, industri, dan konsumen.
Kementerian Pariwisata menilai akses pasar menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan gastronomi. Dengan mempertemukan produsen dan pembeli, produk lokal berpeluang memperluas jangkauan pemasaran, termasuk memasuki industri hotel, restoran, dan kafe (HOREKA).
Menengok Produksi Keju Artisan di Yogyakarta
Pengalaman gastronomi juga dihadirkan melalui Tastemaker Gastronomy Trip yang mengajak peserta mengenal proses produksi pangan secara langsung. Salah satu destinasi yang dikunjungi adalahMazaraat Artisan Cheese, produsen keju artisan yang didirikan Jamie Najmi dan Nieta Pricillia.
Di tempat ini, pengunjung dapat melihat proses pembuatan keju, mencoba membuat keju sendiri, hingga menikmati kudapan berbahan keju di tengah suasana persawahan Yogyakarta.

Kunjungan tersebut memperlihatkan bagaimana proses produksi pangan dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang memadukan edukasi, kuliner, dan suasana alam. Produk lokal pun tidak hanya dipasarkan sebagai bahan pangan, tetapi juga menjadi bagian dari atraksi wisata.
Widiyanti mengatakan pengembangan produk lokal menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai pasok industri pariwisata. Dengan kualitas dan pengembangan yang tepat, produk gastronomi Indonesia berpeluang semakin dikenal serta dimanfaatkan oleh pelaku industri.
Dari Yogyakarta Menuju Sumatra Barat
Setelah Solo dan Yogyakarta, rangkaian Wonderful Indonesia Gastronomy dijadwalkan berlanjut ke Sumatra Barat pada 2027. Daerah ini dipilih karena memiliki kekayaan rasa dan tradisi kuliner yang telah dikenal luas, termasuk di tingkat internasional.
Selain WIG Talks, Artisan Market, dan perjalanan gastronomi, WIG 2026 juga menghadirkan Indonesia Restaurant Months bersama Priceless by Mastercard yang melibatkan 150 restoran di enam kota. Ada pula Chef Collaboration di sejumlah hotel dan restoran yang tersebar di tiga kota.
Kementerian Pariwisata turut menggandeng Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) untuk menggelar Culinary Festival pada 7 Oktober hingga 1 November 2026. Festival tersebut melibatkan 32 pusat perbelanjaan di 14 kota.
Melalui berbagai kegiatan ini, gastronomi diharapkan tidak hanya menjadi cara menikmati kekayaan kuliner Indonesia, tetapi juga membuka peluang perjalanan wisata, memperluas pasar produk lokal, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
(FIR)