KULINER
Lucky New Year Lucky You Resmi Dibuka, Angkat Tradisi Imlek di Mal Ciputra Jakarta
A. Firdaus
Sabtu 31 Januari 2026 / 14:12
- Kegiatan ini tidak hanya ditujukan untuk memeriahkan perayaan Tahun Baru Imlek
- Pertunjukan wayang potehi akan digelar setiap hari.
- Selain tradisi kuliner, perayaan Imlek juga sarat dengan nilai-nilai budaya.
Jakarta: Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 yang jatuh pada tahun kuda api, bertajuk Lucky New Year Lucky You resmi dibuka di Mal Ciputra. Acara ini digelar hingga 22 Februari mendatang.
Kegiatan ini tidak hanya ditujukan untuk memeriahkan perayaan Tahun Baru Imlek, tetapi juga sebagai sarana edukasi budaya. Khususnya tradisi Tionghoa yang telah berkembang di Indonesia.
“Pada pembukaan hari ini, kami menyalakan lampion gate sebagai simbol perayaan, dilanjutkan dengan barongsai dan pengenalan tradisi kuliner khas Imlek, salah satunya Yusheng,” ujar Ferry Irianto, General Manager Mal Ciputra Jakarta dalam acara Opening event Imlek ‘Lucky New Year Lucky You’ Mal Ciputra Jakarta, Jum’at (30/01/26).
Ferry menambahkan, melalui acara ini pihaknya ingin mengajak masyarakat mengenal lebih dekat keberagaman budaya Tionghoa yang telah menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
Sementara itu, Jimmy S. Herlambang, Perwakilan dari Komunitas Hakka Indonesia, menjelaskan bahwa Yusheng merupakan tradisi makan bersama yang telah dilakukan masyarakat Tionghoa selama ribuan tahun.
Tradisi ini umumnya dilakukan saat perayaan Tahun Baru Imlek dan melibatkan berbagai jenis makanan yang masing-masing memiliki makna simbolis.
“Yusheng terdiri dari delapan, sembilan, bahkan bisa sampai sepuluh macam bahan. Semua makanan yang ditaburkan memiliki arti baik, mulai dari rezeki, kesehatan, keharmonisan keluarga, hingga keberuntungan,” jelas Jimmy.
Menurutnya, tradisi Yusheng sangat populer di Indonesia, Malaysia, dan Singapura, selain juga tetap dijalankan di China. Meski berasal dari akar budaya yang sama, terdapat sedikit perbedaan pada komposisi bahan dan cara penyajian di masing-masing negara, tanpa menghilangkan makna utamanya.
Jimmy juga menerangkan bahwa salah satu bahan utama dalam Yusheng adalah ikan, yang memiliki makna simbolis tersendiri. Ikan melambangkan harapan agar rezeki yang diperoleh selama setahun tidak habis dan masih tersisa di akhir tahun.

Tradisi mengangkat Yusheng setinggi mungkin saat disantap bersama dipercaya sebagai simbol harapan akan keberuntungan dan keharmonisan yang semakin meningkat. Dok. Ist
Selain tradisi kuliner, perayaan Imlek juga sarat dengan nilai-nilai budaya lainnya. Jimmy menuturkan bahwa Tahun Baru Imlek menandai awal musim semi dalam kalender Tionghoa, yang dimaknai sebagai momen bersyukur dan memulai siklus kehidupan baru, termasuk kegiatan bercocok tanam.
Oleh karena itu, terdapat sejumlah pantangan pada hari pertama Imlek, seperti menyapu dan mencuci pakaian, yang dipercaya dapat “menghilangkan” keberuntungan.
Dalam kesempatan yang sama, Ferry juga menjelaskan bahwa pada perayaan tahun ini Mal Ciputra menampilkan edukasi mengenai aksara dan marga Tionghoa.
Ia menyebutkan bahwa terdapat ratusan suku di China, namun hanya sebagian yang bermigrasi ke Indonesia dan berkembang menjadi komunitas besar.
“Kami menampilkan marga-marga Tionghoa agar masyarakat bisa mengenali asal-usul keluarga mereka. Ini bagian dari edukasi budaya yang kami hadirkan dalam event Imlek tahun ini,” katanya.
Tak hanya itu, Mal Ciputra juga kembali menghadirkan pertunjukan wayang potehi sebagai bagian dari komitmen pelestarian budaya. Ferry menyebutkan bahwa pertunjukan wayang potehi telah rutin digelar selama 22 tahun berturut-turut dalam perayaan Imlek.
“Wayang potehi kini sudah jarang ditemui. Karena itu, kami konsisten menampilkannya setiap tahun dengan cerita yang berbeda. Dalangnya 100 persen orang Indonesia, meski dialognya sesekali menggunakan dialek China,” jelas Ferry.
Pertunjukan wayang potehi akan digelar setiap hari hingga 22 Februari dengan tiga kali pementasan, yakni pukul 15.00, 17.00, dan 19.00 WIB.
Ferry berharap perayaan Imlek tahun ini dapat menarik lebih banyak pengunjung sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan budaya bangsa.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Kegiatan ini tidak hanya ditujukan untuk memeriahkan perayaan Tahun Baru Imlek, tetapi juga sebagai sarana edukasi budaya. Khususnya tradisi Tionghoa yang telah berkembang di Indonesia.
“Pada pembukaan hari ini, kami menyalakan lampion gate sebagai simbol perayaan, dilanjutkan dengan barongsai dan pengenalan tradisi kuliner khas Imlek, salah satunya Yusheng,” ujar Ferry Irianto, General Manager Mal Ciputra Jakarta dalam acara Opening event Imlek ‘Lucky New Year Lucky You’ Mal Ciputra Jakarta, Jum’at (30/01/26).
Ferry menambahkan, melalui acara ini pihaknya ingin mengajak masyarakat mengenal lebih dekat keberagaman budaya Tionghoa yang telah menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
Sementara itu, Jimmy S. Herlambang, Perwakilan dari Komunitas Hakka Indonesia, menjelaskan bahwa Yusheng merupakan tradisi makan bersama yang telah dilakukan masyarakat Tionghoa selama ribuan tahun.
Tradisi ini umumnya dilakukan saat perayaan Tahun Baru Imlek dan melibatkan berbagai jenis makanan yang masing-masing memiliki makna simbolis.
“Yusheng terdiri dari delapan, sembilan, bahkan bisa sampai sepuluh macam bahan. Semua makanan yang ditaburkan memiliki arti baik, mulai dari rezeki, kesehatan, keharmonisan keluarga, hingga keberuntungan,” jelas Jimmy.
Menurutnya, tradisi Yusheng sangat populer di Indonesia, Malaysia, dan Singapura, selain juga tetap dijalankan di China. Meski berasal dari akar budaya yang sama, terdapat sedikit perbedaan pada komposisi bahan dan cara penyajian di masing-masing negara, tanpa menghilangkan makna utamanya.
Jimmy juga menerangkan bahwa salah satu bahan utama dalam Yusheng adalah ikan, yang memiliki makna simbolis tersendiri. Ikan melambangkan harapan agar rezeki yang diperoleh selama setahun tidak habis dan masih tersisa di akhir tahun.

Tradisi mengangkat Yusheng setinggi mungkin saat disantap bersama dipercaya sebagai simbol harapan akan keberuntungan dan keharmonisan yang semakin meningkat. Dok. Ist
Selain tradisi kuliner, perayaan Imlek juga sarat dengan nilai-nilai budaya lainnya. Jimmy menuturkan bahwa Tahun Baru Imlek menandai awal musim semi dalam kalender Tionghoa, yang dimaknai sebagai momen bersyukur dan memulai siklus kehidupan baru, termasuk kegiatan bercocok tanam.
Oleh karena itu, terdapat sejumlah pantangan pada hari pertama Imlek, seperti menyapu dan mencuci pakaian, yang dipercaya dapat “menghilangkan” keberuntungan.
Dalam kesempatan yang sama, Ferry juga menjelaskan bahwa pada perayaan tahun ini Mal Ciputra menampilkan edukasi mengenai aksara dan marga Tionghoa.
Ia menyebutkan bahwa terdapat ratusan suku di China, namun hanya sebagian yang bermigrasi ke Indonesia dan berkembang menjadi komunitas besar.
“Kami menampilkan marga-marga Tionghoa agar masyarakat bisa mengenali asal-usul keluarga mereka. Ini bagian dari edukasi budaya yang kami hadirkan dalam event Imlek tahun ini,” katanya.
Tak hanya itu, Mal Ciputra juga kembali menghadirkan pertunjukan wayang potehi sebagai bagian dari komitmen pelestarian budaya. Ferry menyebutkan bahwa pertunjukan wayang potehi telah rutin digelar selama 22 tahun berturut-turut dalam perayaan Imlek.
“Wayang potehi kini sudah jarang ditemui. Karena itu, kami konsisten menampilkannya setiap tahun dengan cerita yang berbeda. Dalangnya 100 persen orang Indonesia, meski dialognya sesekali menggunakan dialek China,” jelas Ferry.
Pertunjukan wayang potehi akan digelar setiap hari hingga 22 Februari dengan tiga kali pementasan, yakni pukul 15.00, 17.00, dan 19.00 WIB.
Ferry berharap perayaan Imlek tahun ini dapat menarik lebih banyak pengunjung sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan budaya bangsa.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)