GADGET TALK

Dari QRIS hingga Bank Digital, Begini Cara Transaksi Kamu Berubah

A. Firdaus
Sabtu 26 September 2026 / 20:19
Ringkasnya gini..
  • Transaksi digital di Indonesia terus tumbuh.
  • Survei Ipsos mengungkap kemudahan, kecepatan, stabilitas, dan fitur menjadi pertimbangan pengguna bank digital.
  • Aplikasi lemot bisa bikin mood ikut turun?
Jakarta: Coba ingat-ingat, dalam sehari berapa kali kamu buka aplikasi perbankan? Mulai dari bayar makan siang, transfer ke teman, cek saldo, bayar tagihan, sampai scan QRIS saat nongkrong. Buat banyak orang, aktivitas finansial sekarang memang sudah nggak bisa jauh-jauh dari layar smartphone.

Kebiasaan tersebut sejalan dengan pertumbuhan transaksi digital di Indonesia. Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 5,50 miliar transaksi pada Juli 2026, tumbuh 28,69 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Transaksi melalui internet dan aplikasi mobile masing-masing tumbuh 9,39 persen dan 24,25 persen yoy. Sementara transaksi QRIS bahkan melesat 82,42 persen yoy.

Makin sering digunakan, aplikasi bank digital akhirnya bukan cuma dituntut punya banyak fitur. Pengalaman saat menggunakannya juga ikut jadi perhatian. Aplikasi yang lemot, tiba-tiba error, atau bikin bingung saat mencari menu tertentu tentu bisa bikin pengalaman transaksi jadi kurang nyaman.
   

Bukan cuma soal banyak fitur


Survei Ipsos Indonesia menunjukkan kemudahan dan efisiensi menjadi salah satu pertimbangan penting masyarakat ketika menggunakan layanan bank digital.

Sebanyak 71 persen responden menyebut proses transaksi yang mudah dan cepat sebagai salah satu faktor utama. Kemudian, 66 persen mempertimbangkan kelengkapan produk dan fitur transaksi, sementara 61 persen menilai aplikasi yang mudah digunakan juga penting.

Ada pula 57 persen responden yang menyebut proses pembukaan rekening yang sederhana sebagai salah satu faktor yang mendorong penggunaan aplikasi bank digital.

Artinya, punya banyak fitur saja belum tentu cukup. Kalau mau transfer saja harus mencari-cari tombolnya, atau buka aplikasi tapi responsnya lama, pengalaman pengguna tentu bisa ikut terdampak.

Managing Director Ipsos Indonesia Hansal Savla mengatakan pengalaman menggunakan aplikasi bank digital kini mencakup berbagai aspek, mulai dari kecepatan transaksi dan stabilitas sistem hingga kemudahan interface dan kelancaran proses sehari-hari.

“Seiring semakin terintegrasinya bank digital dengan aktivitas finansial sehari-hari, pengguna bank digital tidak hanya membutuhkan akses terhadap layanan perbankan secara digital, tetapi juga pengalaman yang mudah, cepat, stabil, dan dapat diandalkan,” ujar Hansal.
 

Aplikasi lemot bisa bikin mood ikut turun?


Coba bayangkan kamu sedang buru-buru membayar sesuatu, tapi aplikasi tiba-tiba loading lama. Atau sedang transfer, kemudian muncul notifikasi gangguan.

Hal-hal kecil seperti ini mungkin terlihat sepele, tetapi ketika aplikasi perbankan sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari, kelancaran penggunaannya bisa ikut membentuk pengalaman terhadap sebuah layanan.

Dalam survei Ipsos, persepsi positif terhadap kelancaran dan kecepatan respons aplikasi dalam memproses transaksi tercatat paling tinggi pada SeaBank sebesar 67 persen, disusul Bank Jago 54 persen dan Neobank 42 persen.

Untuk atribut stabilitas aplikasi dengan minim gangguan atau error, SeaBank mencatat 66 persen, Bank Jago 51 persen, dan Superbank 47 persen. Berikutnya terdapat Neobank 43 persen dan Allo Bank 26 persen.

Data tersebut menggambarkan bahwa performa teknis menjadi salah satu bagian yang diperhatikan ketika konsumen menggunakan aplikasi bank digital.
 

Tampilan simpel ternyata penting


Selain soal cepat dan stabil, tampilan aplikasi juga bisa menentukan apakah pengguna merasa nyaman atau malah bingung.

Nggak sedikit orang yang maunya simpel: buka aplikasi, tahu harus pencet apa, transaksi selesai. Nggak perlu melewati terlalu banyak menu atau menebak-nebak fungsi sebuah ikon.

Survei Ipsos mencatat atribut kemudahan dan kesederhanaan memahami interface menempatkan SeaBank dengan persepsi positif 56 persen, disusul Allo Bank 52 persen dan Bank Jago 50 persen. Kemudian Superbank 47 persen dan Neobank 43 persen.

Sementara dalam hal kemudahan membuka rekening, Neobank dan SeaBank sama-sama mencatat 54 persen. Berikutnya Superbank 46 persen, Allo Bank 45 persen, dan Bank Jago 41 persen.

Proses onboarding yang ringkas pun akhirnya menjadi bagian dari pengalaman pengguna. Semakin mudah seseorang memahami aplikasi sejak awal, semakin kecil kemungkinan mereka merasa ribet ketika mulai menggunakannya.
 

Ujung-ujungnya soal pengalaman


Perkembangan transaksi digital menunjukkan bahwa aktivitas finansial masyarakat semakin dekat dengan keseharian digital. Bayar makanan, belanja, transfer, sampai berbagai kebutuhan lainnya bisa dilakukan dari satu perangkat.

Karena itu, pengalaman menggunakan aplikasi juga ikut berubah. Pengguna bukan hanya melihat apa saja yang bisa dilakukan, tetapi juga seberapa mudah, cepat, dan lancar proses tersebut berlangsung.

Hansal mengatakan preferensi konsumen terhadap bank digital terus berkembang seiring beragamnya kebutuhan transaksi sehari-hari.

“Ketika aplikasi menjadi bagian dari aktivitas finansial yang semakin rutin, pengalaman yang mudah, cepat, stabil, dan dapat diandalkan menjadi semakin relevan dalam membangun pengalaman konsumen terhadap layanan digital banking,” tutupnya.

Pada akhirnya, teknologi finansial memang dibuat untuk mempermudah hidup. Jadi, ketika buka aplikasi bank, harapannya sederhana: transaksi beres, nggak bikin pusing, lalu bisa lanjut lagi ke aktivitas berikutnya.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH