FITNESS & HEALTH

Indonesia Bisa Jadi Kiblat Sel Punca di Asia

Medcom
Senin 25 April 2022 / 17:17
Jakarta: Steam cell atau sel punca belakangan ini menjadi salah satu alternatif untuk mengobati penyakit. Sel punca merupakan sel yang memiliki potensi tinggi untuk berkembang menjadi beberapa jenis sel yang berbeda di dalam tubuh.

Sel ini memiliki fungsi dasar sebagai sistem perbaikan tubuh dengan mengganti sel-sel tubuh yang telah rusak. Salah satu lembaga profesional terbaik di dunia yang mengembangkan sel punca adalah Global Stem Cell Group yang berbasis di Florida, Amerika Serikat.

"Kami percaya pengobatan regeneratif dan kualitas produk serta layanan kami mampu membantu pasien sebanyak mungkin. Hingga kini, Global Stem Cell telah beroperasi di 26 negara. Kami juga memiliki protokol perawatan yang sangat kaku dan terkontrol. Itu tidak bisa ditawar," kata CEO Global Stem Cell Group, Benito Novas.

Melihat animo tinggi, Benito menggandeng dokter Khoe Yanti Kusmiran untuk menghadirkan Global Stem Cell di Indonesia. Dia yakin dengan rekam jejak dokter Yanti yang telah terpercaya dalam bidang kedokteran estetika dan regeneratif selama lebih dari 15 tahun.

"Saya tertarik mendalami stem cell karena merupakan the latest technology untuk kesehatan manusia di dunia kedokteran. Manfaatnya sangat besar sebagai preventif, melalui stem cell manusia bisa meregenerasi tubuh sendiri atau autologus," kata dr. Yanti.

Keputusan Yanti bersedia menjadi franchiser Global Stem Cell di Indonesia dan Asia Pasifik karena dia ingin orang-orang di Indonesia tidak lagi berobat ke luar negeri. Selain biaya pengobatan, biaya lain yakni transportasi dan akomodasi juga terhitung mahal.

Selain layanan di Surabaya, Yanti sudah memiliki rencana jangka panjang. Dia berniat membuat stem cell center for foundation. Sehingga layanan ini nantinya juga bisa dirasakan oleh mereka yang secara ekonomi masih terhitung pas-pasan. Caranya menurut dia adalah dengan subsidi silang atau memasukkan stem cell treatment ke dalam program BPJS milik pemerintah.

"Masyarakat harus diedukasi bahwa metode ini sangat jauh lebih baik karena meregenerasi sel melalui stem cell tubuh sendiri. Saya yakin dengan support beberapa pihak, termasuk Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pariwisata, Indonesia bisa menjadi kiblat Stem Cell di Asia Pasifik," jelas Yanti.

Menurut dr. Yanti, metode stem cell cocok diaplikasikan pada semua orang sebagai langkah preventif. Bisa untuk antiaging, diabetes, alzheimer, patah tulang, osteoporosis hingga beragam keluhan lain. Yanti mengakui metode sel punca ini masih terbilang tinggi, tapi dia menyebut biaya itu sebanding dengan hasil yang didapatkan.

"Proses perawatan stem cell sendiri bergantung pada kasus dan kondisi pasien. Namun, umumnya bisa diselesaikan dalam satu kali terapi saja. Idealnya, untuk pencegahan adalah dengan setahun sekali," paparnya.

 
(ELG)

MOST SEARCH