FITNESS & HEALTH
Pentingnya Pemenuhan Vaksin, Cegah Komplikasi Campak Anak
Aulia Putriningtias
Kamis 08 Januari 2026 / 12:19
Jakarta: Sepanjang 3 hingga 6 bulan ke depan di tahun 2026, akan sering mendapatkan kesempatan long weekend. Momen liburan singkat ini jangan sampai membuat si kecil tak menikmatinya!
Tingginya mobilitas di masa liburan, baik itu panjang maupun singkat, juga menjadi kekhawatiran orang tua akan risiko penularan infeksi virus, salah satunya campak.
Tren peningkatan kasus campak di Indonesia kembali menjadi perhatian. Menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, tercatat lebih dari 3.500 kasus campak pada 2024.
Sementara hingga Agustus 2025, campak telah tercatat lebih dari 3.400 kasus dan terjadi 46 Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di sejumlah wilayah. Beberapa negara dunia juga melaporkan peningkatan kasus campak, salah satunya di Amerika Serikat.
Campak atau secara medis disebut juga sebagai measles merupakan penyakit infeksi virus yang menular melalui saluran napas. Campak dapat ditularkan melalui droplets atau percikan liur dari mulut dan hidung penderita ketika batuk, bersin, atau berbicara.
Selain itu, virus ini juga dapat tertular dari sentuhan benda yang terkontaminasi droplets. Daya tular campak cukup tinggi, mirip dengan Covid-19. Seseorang yang terinfeksi campak dapat menularkan virusnya selama 4 hari sebelum dan sesudah gejala muncul.
Gejala campak memang terkesan seperti penyakit flu ringan. Padahal, jika ada gejala-gejala ini juga patut diwaspadai. Adapun beberapa gejala campak pada anak, menurut dr. Caessar Pronocitro, Sp. A, M.Sc, Dokter Spesialis Anak dari RS Pondok Indah - Bintaro Jaya.
- Demam
- Batuk kering
- Pilek atau hidung tersumbat
- Lemas
- Muntah
- Tidak nafsu makan
- Diare
Komplikasi yang terjadi jika tidak segera ditangani pun juga tak main-main. Mulai dari bisa terjadinya pneumonia, ensefalitis atau radang otak, diare berat dan dehidrasi, hingga infeksi sekunder dan sepsis.
Hingga kini, belum ada antivirus untuk mengatasi campak. Namun, ada beberapa vaksin pendukung untuk menekan terjadinya campak dan komplikasi pendukungnya.
Berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vaksin MR (measles rubella) pertama disuntikkan pada anak usia 9 bulan. Kemudian dosis kedua diberikan saat si kecil berusia 15-18 bulan dan dosis ketiga pada usia 5-7 tahun.

dr. Caessar Pronocitro, Sp. A, M.Sc. Dok. RSPI
Jika sampai usia 12 bulan anak belum mendapat vaksin MR, maka dapat diberikan vaksin MR/MMR (Mumps + MR). Untuk dosis kedua dengan interval 6 bulan, dan dosis ketiga pada usia 5–7 tahun.
Campak lebih berbahaya jika dialami oleh bayi karena imunitas tubuhnya belum sempurna seperti orang dewasa. Mengingat penanganan campak hanya bersifat suportif, penting melakukan beberapa hal.
Untuk bayi yang belum mencapai usia 9 bulan, pencegahan campak dapat dilakukan dengan memastikan lingkungan sekitar aman bagi si kecil. Bagi orang tua, khususnya yang berinteraksi dengan banyak orang di luar rumah, hal berikut wajib diterapkan untuk melindungi si kecil yang belum divaksin:
- Menggunakan masker saat bepergian atau berinteraksi dengan orang sakit.
- Rajin mencuci tangan dengan sabun, terutama sebelum menyentuh bayi.
- Sebisa mungkin menghindari kontak dengan orang yang sedang sakit atau bergejala.
- Jaga daya tahan tubuh tetap prima, terutama saat musim pancaroba.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Tingginya mobilitas di masa liburan, baik itu panjang maupun singkat, juga menjadi kekhawatiran orang tua akan risiko penularan infeksi virus, salah satunya campak.
Tren peningkatan kasus campak di Indonesia kembali menjadi perhatian. Menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, tercatat lebih dari 3.500 kasus campak pada 2024.
Baca Juga :
Pemerintah Dorong Imunisasi Massal Campak
Sementara hingga Agustus 2025, campak telah tercatat lebih dari 3.400 kasus dan terjadi 46 Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di sejumlah wilayah. Beberapa negara dunia juga melaporkan peningkatan kasus campak, salah satunya di Amerika Serikat.
Apa itu campak?
Campak atau secara medis disebut juga sebagai measles merupakan penyakit infeksi virus yang menular melalui saluran napas. Campak dapat ditularkan melalui droplets atau percikan liur dari mulut dan hidung penderita ketika batuk, bersin, atau berbicara.
Selain itu, virus ini juga dapat tertular dari sentuhan benda yang terkontaminasi droplets. Daya tular campak cukup tinggi, mirip dengan Covid-19. Seseorang yang terinfeksi campak dapat menularkan virusnya selama 4 hari sebelum dan sesudah gejala muncul.
Gejala campak memang terkesan seperti penyakit flu ringan. Padahal, jika ada gejala-gejala ini juga patut diwaspadai. Adapun beberapa gejala campak pada anak, menurut dr. Caessar Pronocitro, Sp. A, M.Sc, Dokter Spesialis Anak dari RS Pondok Indah - Bintaro Jaya.
- Demam
- Batuk kering
- Pilek atau hidung tersumbat
- Lemas
- Muntah
- Tidak nafsu makan
- Diare
Komplikasi yang terjadi jika tidak segera ditangani pun juga tak main-main. Mulai dari bisa terjadinya pneumonia, ensefalitis atau radang otak, diare berat dan dehidrasi, hingga infeksi sekunder dan sepsis.
Cara vaksin melindungi komplikasi campak
Hingga kini, belum ada antivirus untuk mengatasi campak. Namun, ada beberapa vaksin pendukung untuk menekan terjadinya campak dan komplikasi pendukungnya.
Berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vaksin MR (measles rubella) pertama disuntikkan pada anak usia 9 bulan. Kemudian dosis kedua diberikan saat si kecil berusia 15-18 bulan dan dosis ketiga pada usia 5-7 tahun.

dr. Caessar Pronocitro, Sp. A, M.Sc. Dok. RSPI
Jika sampai usia 12 bulan anak belum mendapat vaksin MR, maka dapat diberikan vaksin MR/MMR (Mumps + MR). Untuk dosis kedua dengan interval 6 bulan, dan dosis ketiga pada usia 5–7 tahun.
Campak lebih berbahaya jika dialami oleh bayi karena imunitas tubuhnya belum sempurna seperti orang dewasa. Mengingat penanganan campak hanya bersifat suportif, penting melakukan beberapa hal.
Untuk bayi yang belum mencapai usia 9 bulan, pencegahan campak dapat dilakukan dengan memastikan lingkungan sekitar aman bagi si kecil. Bagi orang tua, khususnya yang berinteraksi dengan banyak orang di luar rumah, hal berikut wajib diterapkan untuk melindungi si kecil yang belum divaksin:
- Menggunakan masker saat bepergian atau berinteraksi dengan orang sakit.
- Rajin mencuci tangan dengan sabun, terutama sebelum menyentuh bayi.
- Sebisa mungkin menghindari kontak dengan orang yang sedang sakit atau bergejala.
- Jaga daya tahan tubuh tetap prima, terutama saat musim pancaroba.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)