FITNESS & HEALTH

Hindari Sebarkan Foto Korban Teror dan Beri Emotional Support

Yatin Suleha
Minggu 28 Maret 2021 / 20:23
Jakarta: Hari Minggu biasanya adalah hari dimana keluarga atau teman berkumpul. Dan di hari Minggu ini pula seharusnya menjadi salah satu hari merayakan Minggu Palmarum yaitu yang merujuk pada peristiwa masuknya Yesus ke Jerusalem dengan mengendarai keledai betina.

Namun di Makassar, hal itu tidak demikian. Terjadi bom bunuh diri tepatnya di pintu gerbang Gereja Katedral Makassar. Lebih dari 10 orang mengalami luka-luka. Lalu apa yang sebaiknya harus kita lakukan?

Menurut Psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie, M.Psi dari Fakultas Psikologi, Universitas Kristen Maranatha, Bandung, jika ada saudara atau teman kita berada di dekat area tersebut sebaiknya berikan support atau pendampingan. 

"(Pastikan para korban) diberikan informasi tentang jaminan keamanan mereka oleh pihak yang berwenang. Hal ini karena kejadian ini bisa saja memicu efek traumatis bagi yang berada di TKP. Emotional support dalam bentuk didampingi, ditenangkan akan sangat membantu," ucap Psikolog Efnie.

Lalu bagi mereka yang jauh dari lokasi atau area terdampak, apa yang bisa kita lakukan? Psikolog yang ramah ini memberikan masukan agar tidak ikut memperkeruh suasana misalnya menyebarkan foto atau video tentang kejadian tersebut. 

Efnie beralasan, "Saat situasi sedang kisruh, maka fungsi amigdala otak yang banyak berperan pasa sebagian masyarakat. Sebaiknya tidak menyebarkan informasi terkait kejadian. Apalagi jika informasi tersebut keliru. Amigdala otak tadi akan membajak fungsi logika yg jernih dr otak. Ini yang membuat masyarakat mudah tersulut emosinya dan memancing keresahan."

Lebih jauh lagi ia mengatakan bahwa ada efek melihat foto-foto atau video yang tidak disensor dan beredar secara luas di masyarakat.

"Bisa memicu dua hal secara psikologis: pertama, memancing rasa agresi (kemarahan) bagi sebagian orang yang tidak setuju dengan hal ini. Apalagi jika kejadian ini berhubungan dengan isu SARA," kata Efnie.

"Kedua, foto-foto tragis yang beredar bisa memicu rasa ketakutan bagi sebagian orang meskipun keberadaan mereka tidak berada di tempat kejadian. Bahkan reaksi ketakutan itu bida memicu trauma psikologis yang berujung pada ketakutan dalam jangka waktu yang panjang," pungkas Efnie.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH