FITNESS & HEALTH

Kisah Eva, Sang Ratu Edible Flowers dari Bandung

K. Yudha Wirakusuma
Sabtu 17 Oktober 2020 / 13:04
Jakarta: Mengonsumsi bunga untuk Masyarakat Indonesia mungkin masih awam. Kebanyakan kita hanya mengetahui hal tersebut dari film horor yang melegenda, Suzanna kerap terlihat memakan bunga di beberapa film yang dibintangi.

Tapi tunggu dulu, saat ini mengonsumsi bunga bukanlah hal yang 'horor'. Sebab bunga memiliki banyak nutrisi dan vitamin. Apalagi jika sang penjual memiliki paras cantik.

Adalah Eva Lasti Apriyani Madarona, S.Hum. Eva memproduksi edible flowers di kebun hidroponiknya di Bandung. Dia dijuluki sebagai ratu edible flower.

Edible flowers adalah istilah untuk jenis tanaman bunga yang aman untuk dikonsumsi, baik sebagai layaknya sayuran atau herbal. Ratu edible flowers ini mengaku mempelajari budidaya sayuran dengan cara hidroponik sejak tahun 2013.

“Kita dapat belajar dan melakukan apapun yang menjadi passion (ketertarikan yang kuat) kita, asalkan kita mau melakukannya dengan tekun. Satu-satunya kendala yang harus kita lawan adalah 'malas’” kata Eva.

Wanita kelahiran Jakarta, 1983 yang menempuh pendidikan di Universitas Indonesia jurusan Sastra Arab ini belajar hidroponik secara otodidak. Eva menyediakan berbagai sarana hidroponik seperti sistem bertanam NFT (nutrient film technique), nutrisi, benih, media tanam dan lain-lain, sampai kepada paket pelatihan. 

“Di Indonesia edible flowers bisa berkembang  karena banyak orang-orang yang kreatif. Dan di Indonesia edible flower bisa ditanam baik di dataran tinggi atau rendah,” ucapnya. 

Eva pun kini telah menjadi konsultan dan pelatih (trainer) untuk proyek-proyek bantuan NGO (non-government organization) dan pemerintah mengenai hidroponik.

Pada tahun 2017, Eva pun mulai fokus memproduksi kegiatan memproduksi edible flowers di kebun hidroponiknya di Bandung. Di Indonesia sendiri, penggunaan bunga hias untuk bahan makanan baru mulai ramai sejak tahun 2016.

"Paling lucu melihat exprektasi orang-orang yang 90% rata-rata belum tahu kalau ada bunga-bunga bisa dimakan,” paparnya.

Namun di beberapa negara Asia, Eropa dan di Timur Tengah, bunga telah menjadi bagian dari kuliner.  

Di Indonesia ada beberapa bunga jenis bunga, seperti pohon turi (Sesbania grandiflora L.), bunga pohon pepaya (Carica papaya L.), bunga telang (Clitoria ternatea), bunga mawar (Rosa gallica officinalis), bunga kenikir (Cosmos caudatus) dan bunga kertas (Zinnia elegans) sudah sejak lama dijadikan bahan makanan atau  minuman. "Per satuan Rp.1.000, Rp.1.500, Rp..2000, Rp.2.500, Rp5.000, Rp.7.000,” terangnya. 

Menurutnya, umumnya konsumen memakai bunga-bunga ini sebagai garnish atau penghias makanan. Tekstur, rasa, dan aromanya yang unik menjadikan bunga kini makin populer sebagai bahan kreatif dan inovatif dalam dunia kuliner.

Sebagai penggagas budidaya edible flower di Indonesia, Eva mengingatkan tidak semua bunga dapat atau layak dikonsumsi. Ada persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi, mulai dari jenis tanaman, bebas pestisida sampai cara budidaya.

"Ini agak sulit karena kunci kita kan di komitmen untuk benar-benar aman dari residu racun pestisida. Kalau kita enggak awasin sendiri khawatir enggak terpenuhi komitmennya itu,”  imbuhnya.

Menurut Eva, budidaya edible flower  tidak membutuhkan banyak ruang, sehingga banyak diminati hobbies. Bahkan bisa ikut membantu program pemerintah dalam pengembangan urban farming.

"Saya optimis dengan usaha ini, karena semakin banyak kalangan yang menaruh minat terhadap edible flowers,”  kata Eva yang kini memiliki 8 orang pekerja. 


Eva Lasti Apriyani Madarona, S.Hum. (Foto: Istimewa).

Eva menyarankan, berdasarkan pengalaman selama ini, waktu terbaik untuk memetik bunga-bunga segar yang dapat dimakan itu adalah di pagi hari. Biasanya pekerja di “Eve Edible Flowers” memanen bunga mulai pukul 05.30 sampai 07.00 Wib. 

Bunga yang telah dipetik, segera disortasi, dikemas dan langsung diberangkatkan pagi itu juga ke suplier-suplier yang akan memasok  bunga itu dalam keadaan segar ke hotel atau restoran. “Bunga-bunga tersebut dapat dimakan utuh seluruh bagiannya, tapi ada juga yang sebaiknya hanya bagian kelopaknya saja,” katanya.

https://www.instagram.com/eva_l_a_madarona/?igshid=1aoctr70wzod0

Namun demikian, Eva mengakui, masih mengandalkan benih impor yang memang khusus untuk  edible flower. Jenis bunga yang dibudidayakan antara lain pansy (Viola x wittrockiana), viola (viola odorata), dianthus (Dianthus caryophyllus), cosmos (Cosmos sulphureus), marygold (Calendula officinalis), geranium (Pelargonium cucullatum), elderflowers (Sambucus canadensis), torenia (Torenia fournieri) dan lain-lain. 

Eva mengungkapkan, beberapa tahun terakhir, hotel, restoran dan catering ternama di Indonesia sudah menambah edible flower atau microgreen (sayuran muda)  dalam hidangan mereka. Edible flower dan microgreen adalah bagian dari komponen hidangan. 

Setiap edible flower dan microgreen memiliki warna dan rasa yang berbeda dan unik. Kehadirannya akan membuat sajian menjadi lebih menarik dan  terlihat beda dari yang lain. 


Eva Lasti Apriyani Madarona, S.Hum. (Foto: Istimewa).

Karena pasar terbesar edible flower adalah dari Horeka (hotel, restauran dan catering), maka penjualannya juga terkena dampak langsung dari wabah Covid-19.  Saat ini Eva berharap dapat memanfaatkan sebaik mungkin bunga-bunga tersebut untuk diolah menjadi makanan yang cukup memiliki daya jual dan mudah dibuat seperti edible flowers cookies. 

Hal ini semata-mata supaya bisa tetap membayar gaji semua pekerjanya, karena Eva masih berharap untuk bisa terus mempekerjakan mereka semua. “Saya berharap semoga musibah Covid-19 ini cepat berlalu, sehingga perekonomian bisa kembali pulih. Tidak bisa dipungkiri banyak sekali sektor ekonomi yang terkena imbasnya, terutama mereka yang bermain di kebutuhan sekunder seperti ini,” tuturnya.
(YDH)

MOST SEARCH