FITNESS & HEALTH

Menkes Dorong Dokter Indonesia Belajar dari Ahli Dunia soal Penyakit Neurologis

Elang Riki Yanuar
Minggu 23 Agustus 2026 / 13:00
Ringkasnya gini..
  • Menkes Budi Gunadi Sadikin mendorong pertukaran pengetahuan dokter Indonesia dan ahli luar negeri untuk mempercepat pemahaman penyakit saraf.
  • Kolaborasi internasional dinilai penting untuk meningkatkan kemampuan dokter Indonesia dalam mendiagnosis dan menangani stroke, Parkinson, demensia, serta gangguan saraf.
  • Pemerintah mendorong teknologi diagnostik, biomarker, genomik, AI, dan bioteknologi untuk mempercepat deteksi penyakit otak seperti Alzheimer dan demensia.
Jakarta: Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mendorong pertukaran pengetahuan antara dokter dan peneliti Indonesia dengan para ahli dari luar negeri untuk mempercepat pemahaman terhadap penyakit saraf di Indonesia.

Dorongan tersebut disampaikan Budi saat menghadiri The 1st International King’s–EMC Neuroscience Masterclass & Symposium 2026. Forum ini mempertemukan dokter dan ahli neurologi dari Indonesia dengan sejumlah pakar internasional, termasuk dari King’s College London.

Kolaborasi lintas negara tersebut dinilai penting karena penyakit neurologis seperti stroke, Parkinson’s disease, demensia, dan movement disorder semakin menjadi tantangan kesehatan. Kondisi tersebut juga membutuhkan kemampuan diagnosis dan penanganan yang semakin baik, terutama di tengah meningkatnya angka harapan hidup masyarakat.

CEO EMC Healthcare Jusup Halimi mengatakan perhatian terhadap penyakit Parkinson’s disease dan movement disorder menjadi salah satu alasan pihaknya memperkuat kerja sama akademik dengan King’s College London.

“Parkinson dan movement disorder lainnya sering kali terlambat didiagnosis. Ketika diagnosis dilakukan terlambat, treatment-nya menjadi lebih kompleks, lebih sulit, dan tentunya meningkatkan biaya,” ujar Jusup.
 
Menurut Jusup, keterlambatan diagnosis juga dapat memengaruhi kualitas hidup pasien. Karena itu, peningkatan kapasitas dokter dan tenaga kesehatan menjadi bagian penting dalam upaya memperbaiki layanan bagi pasien dengan gangguan neurologis.

Dalam tiga tahun terakhir, EMC Healthcare telah mengirimkan dokter spesialis neurologi, dokter rehabilitasi medik, serta tenaga kesehatan di bidang rehabilitasi untuk mengikuti berbagai pelatihan bersama King’s College London, termasuk program yang berlangsung di Dubai.

Kolaborasi tersebut kini diperluas dengan melibatkan tenaga medis di luar jaringan EMC Healthcare. Langkah ini diharapkan dapat memperluas akses terhadap pengetahuan dan pengalaman internasional mengenai penanganan penyakit saraf.

Jusup juga menyoroti masih adanya pandangan bahwa perubahan fungsi tubuh pada usia lanjut merupakan kondisi yang wajar dan tidak dapat ditangani. Menurutnya, anggapan tersebut perlu diubah agar masyarakat mendapatkan penanganan yang tepat.

“Padahal banyak hal seperti ini sebenarnya bisa diatasi sehingga kualitas hidup para penderitanya dapat ditingkatkan,” katanya.

Budi Gunadi Sadikin menilai kerja sama antara institusi kesehatan dan lembaga pendidikan internasional dapat menjadi sarana untuk memperkuat hubungan antara dokter serta peneliti Indonesia dengan para ahli di berbagai negara.

“Saya berharap bisa menstimulasi keinginan dokter-dokter di Indonesia dan peneliti Indonesia terkait penyakit neuro seperti ini untuk bisa berhubungan dengan teman-teman di luar negeri,” ujar Budi.

Menurut Budi, pertukaran pengetahuan tersebut diperlukan agar kemampuan tenaga medis Indonesia dapat berkembang dan mengikuti kemajuan penanganan penyakit neurologis di tingkat global.

“Terpenting nantinya bisa mengakselerasi pemahaman teman-teman Indonesia terhadap penyakit ini setara dengan yang di luar negeri,” urai dia.

Di sisi lain, pemerintah terus memperluas akses terhadap fasilitas diagnostik untuk mendukung penanganan penyakit neurologis. Salah satunya melalui pengembangan layanan CT scan di 514 kabupaten dan kota.

Pemerintah juga menyiapkan fasilitas cath lab serta meningkatkan kompetensi dokter untuk menangani stroke dan gangguan neurovaskular yang membutuhkan penanganan lebih kompleks.

Meski demikian, Budi menilai masih banyak tantangan yang harus dijawab, khususnya terkait Alzheimer dan demensia. Kedua kondisi tersebut masih menyimpan berbagai pertanyaan ilmiah sehingga membutuhkan penelitian yang berkelanjutan.

Untuk mempercepat deteksi penyakit otak, Budi mendorong pengembangan teknologi diagnostik dan riset yang memanfaatkan biomarker, genomik, kecerdasan buatan, serta bioteknologi.

Melalui kolaborasi antara dokter, peneliti, institusi kesehatan, dan pakar internasional, pemahaman mengenai penyakit saraf di Indonesia diharapkan dapat berkembang lebih cepat. Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari peningkatan kualitas diagnosis dan layanan bagi pasien neurologis.









 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)

MOST SEARCH