FITNESS & HEALTH

Tak Perlu Pilih-pilih Vaksin, Efikasi Bukanlah Satu-satunya Masalah Utama

Raka Lestari
Selasa 07 September 2021 / 16:33
Jakarta: Saat ini Indonesia memiliki banyak jenis vaksin covid-19 yang tersedia. Akan tetapi, beberapa orang masih saja memilih-milih vaksin tertentu. 

Seperti contohnya, masih banyak yang menganggap vaksin Pfizer dan Moderna lebih baik dari vaksin-vaksin lainnya karena memiliki tingkat efikasi yang tinggi.

“Tetapi membandingkan kemanjuran vaksin covid-19 dapat menyesatkan,” ujar Jeffrey Carson, Jeffrey Carson, Profesor Kedokteran Terhormat di Rutgers Robert Wood Johnson Medical School. 

Dalam uji klinis, vaksin Moderna dan Pfizer-BioNTech terbukti sekitar 95 persen efektif melawan covid-19, sementara vaksin Johnson & Johnson 66,3 persen efektif melawan covid-19 secara global dan 72 persen efektif melawan penyakit di Amerika Serikat.

“Namun, statistik tersebut hanya mencerminkan gambaran waktu ketika uji klinis sedang berlangsung,” kata Carson. “Vaksin covid-19 terbaik adalah yang kamu dapatkan,” katanya.


vaksinasi
(Drg. Widyawati, MKM, selaku Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes juga menjelaskan jangan pilih-pilih vaksin. "Semuanya aman dan berkhasiat dan segera lakukan vaksinasi,” sarannya. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
 

Efikasi vaksin


Prof. Amin Soebandrio selaku Ketua Lembaga Eijkman juga menambahkan, “Efikasi adalah suatu penilaian terhadap suatu obat, termasuk juga vaksin dilihat dari bagaimana setelah diberikan obat atau vaksin itu memberi manfaat bagi populasi yang diberikan,”jelasnya.

“Efikasi itu diperoleh dari uji klinik, dimana pada saat dilakukan uji klinik itu semuanya terkendali. Kondisi vaksinnya juga semua dikendalikan, orangnya setelah disuntik itu dikontrol setiap minggu. Dan efikasi ini bisa berbeda dengan effectiveness. Angka effectiveness itu munculnya dari dunia nyata, ketika sudah diberikan ke masyarakat,” ujar Prof. Amin.

“Misalnya, vaksinnya mungkin ketika sedang dikirimkan terkena macet atau kehujanan. Faktornya bisa macam-macam sehingga tidak selalu optimal. Efikasi yang tinggi tidak menjamin effectivess yang tinggi,” tutur Prof. Amin.

Ia juga menjelaskan bahwa efikasi itu tidak sama dengan probability untuk terjadinya infeksi. “Efikasi lebih menggambarkan berapa perbedaan risiko orang yang divaksin dan orang yang tidak divaksin kemungkinan terlindungi,” jelas Prof. Amin.

“Satu hal yang perlu diingat, nilai efikasi itu belum final. Masih laporan sementara. Belum ada yang berakhir karena kan masih ada uji klinis fase tiga sehingga bisa naik atau turun. Sebaiknya gunakan data-data yang final untuk menentukan apakah efikasinya tinggi atau rendah,” tutup Prof. Amin.


Hi Sobat Medcom, terima kasih sudah menjadikan Medcom.id sebagai referensi terbaikmu. Kami ingin lebih mengenali kebutuhanmu. Bantu kami mengisi angket ini yuk https://tinyurl.com/MedcomSurvey2021 dan dapatkan saldo Go-Pay/OVO @Rp50 ribu untuk 20 pemberi masukan paling berkedan. Salam hangat. 

(TIN)

MOST SEARCH