Jakarta: Cuci darah (hemodialisis) adalah prosedur medis untuk membersihkan darah dari limbah, racun, dan cairan berlebih saat ginjal tidak berfungsi optimal.
Seperti pada penyakit gagal ginjal, dengan menggunakan mesin dialyzer yang bertindak sebagai ginjal buatan untuk menyaring darah di luar tubuh lalu mengembalikannya, sehingga membantu menstabilkan keseimbangan elektrolit dan menyelamatkan nyawa pasien.
Prosedur ini biasanya dilakukan 2-3 kali seminggu, masing-masing 3-5 jam, dan membantu mengurangi gejala seperti bengkak, mual, dan sesak.
Biaya cuci darah (hemodialisis) di Indonesia pada tahun 2026 sangat bergantung pada jenis fasilitas kesehatan dan metode yang digunakan.
Secara umum, prosedurnya membutuhkan biaya yang cukup besar karena harus dilakukan secara rutin (biasanya 2-3 kali seminggu).

(Cuci darah diperlukan bagi penderita gagal ginjal stadium akhir (stadium 5) atau gagal ginjal kronis. Foto: Ilustrasi/Freepik.com)
Jika kamu membayar secara pribadi di rumah sakit atau klinik swasta, biaya per satu kali sesi rata-rata adalah:
- Klinik Hemodialisis (Tipe D) Rp730.000 – Rp850.000
- RSUD / RS Pemerintah (Tipe C & B) Rp820.000 – Rp1.100.000
- Rumah Sakit Swasta (Umum) Rp1.200.000 – Rp2.500.000
- RS Swasta Premium (Jakarta/Kota Besar) Rp2.500.000 – Rp5.000.000+
Catatan: Biaya di atas biasanya hanya untuk jasa cuci darah saja. Belum termasuk biaya pendaftaran, konsultasi dokter spesialis, obat-obatan pendamping (seperti penambah darah/Epoetin), atau pemeriksaan laboratorium rutin bulanan.
Kabar baiknya, cuci darah adalah salah satu layanan yang ditanggung penuh oleh BPJS Kesehatan karena termasuk penyakit katastropik.
- Syarat: Status kepesertaan aktif, memiliki rujukan dari Faskes Tingkat 1, dan diagnosis dari dokter spesialis ginjal (nefrolog).
- Cakupan: BPJS menanggung biaya sesi hemodialisis, jasa medis, dan beberapa jenis obat-obatan rutin sesuai protokol kesehatan.
- Metode CAPD: BPJS juga menanggung metode cuci darah lewat perut (CAPD) dengan subsidi sekitar Rp8.000.000 per bulan untuk bahan habis pakai.
Meskipun tindakan utamanya bisa gratis dengan BPJS, biasanya pasien perlu menyiapkan dana cadangan untuk:
- Akses Vaskular (Cimino/CDL): Prosedur pembuatan jalur cuci darah di awal. Biayanya berkisar antara Rp5.000.000 hingga Rp15.000.000 jika tidak ditanggung atau ingin jalur permanen yang lebih nyaman.
- Transportasi: Karena harus dilakukan 2-3 kali seminggu, biaya transportasi menuju unit HD sering kali menjadi pengeluaran yang signifikan bagi keluarga.
1. Gunakan BPJS/Asuransi. Melakukan cuci darah tanpa asuransi biaya tahunannya bisa mencapai Rp100 juta lebih.
2. Pertimbangkan CAPD: Metode ini bisa dilakukan di rumah, sehingga menghemat biaya transportasi dan waktu ke rumah sakit.
3. Pilih klinik satelit: Beberapa klinik hemodialisis mandiri (bukan di dalam RS besar) biasanya memiliki biaya admin yang lebih rendah untuk pasien umum.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Seperti pada penyakit gagal ginjal, dengan menggunakan mesin dialyzer yang bertindak sebagai ginjal buatan untuk menyaring darah di luar tubuh lalu mengembalikannya, sehingga membantu menstabilkan keseimbangan elektrolit dan menyelamatkan nyawa pasien.
Prosedur ini biasanya dilakukan 2-3 kali seminggu, masing-masing 3-5 jam, dan membantu mengurangi gejala seperti bengkak, mual, dan sesak.
Biaya cuci darah 206
Biaya cuci darah (hemodialisis) di Indonesia pada tahun 2026 sangat bergantung pada jenis fasilitas kesehatan dan metode yang digunakan.
Secara umum, prosedurnya membutuhkan biaya yang cukup besar karena harus dilakukan secara rutin (biasanya 2-3 kali seminggu).
Berikut adalah rincian estimasi biaya cuci darah:
1. Estimasi biaya mandiri (tanpa BPJS)

(Cuci darah diperlukan bagi penderita gagal ginjal stadium akhir (stadium 5) atau gagal ginjal kronis. Foto: Ilustrasi/Freepik.com)
Jika kamu membayar secara pribadi di rumah sakit atau klinik swasta, biaya per satu kali sesi rata-rata adalah:
- Klinik Hemodialisis (Tipe D) Rp730.000 – Rp850.000
- RSUD / RS Pemerintah (Tipe C & B) Rp820.000 – Rp1.100.000
- Rumah Sakit Swasta (Umum) Rp1.200.000 – Rp2.500.000
- RS Swasta Premium (Jakarta/Kota Besar) Rp2.500.000 – Rp5.000.000+
Catatan: Biaya di atas biasanya hanya untuk jasa cuci darah saja. Belum termasuk biaya pendaftaran, konsultasi dokter spesialis, obat-obatan pendamping (seperti penambah darah/Epoetin), atau pemeriksaan laboratorium rutin bulanan.
2. Penggunaan BPJS Kesehatan (Gratis)
Kabar baiknya, cuci darah adalah salah satu layanan yang ditanggung penuh oleh BPJS Kesehatan karena termasuk penyakit katastropik.
- Syarat: Status kepesertaan aktif, memiliki rujukan dari Faskes Tingkat 1, dan diagnosis dari dokter spesialis ginjal (nefrolog).
- Cakupan: BPJS menanggung biaya sesi hemodialisis, jasa medis, dan beberapa jenis obat-obatan rutin sesuai protokol kesehatan.
- Metode CAPD: BPJS juga menanggung metode cuci darah lewat perut (CAPD) dengan subsidi sekitar Rp8.000.000 per bulan untuk bahan habis pakai.
3. Biaya tambahan yang perlu disiapkan
Meskipun tindakan utamanya bisa gratis dengan BPJS, biasanya pasien perlu menyiapkan dana cadangan untuk:
- Akses Vaskular (Cimino/CDL): Prosedur pembuatan jalur cuci darah di awal. Biayanya berkisar antara Rp5.000.000 hingga Rp15.000.000 jika tidak ditanggung atau ingin jalur permanen yang lebih nyaman.
- Transportasi: Karena harus dilakukan 2-3 kali seminggu, biaya transportasi menuju unit HD sering kali menjadi pengeluaran yang signifikan bagi keluarga.
Tips menghemat biaya
1. Gunakan BPJS/Asuransi. Melakukan cuci darah tanpa asuransi biaya tahunannya bisa mencapai Rp100 juta lebih.
2. Pertimbangkan CAPD: Metode ini bisa dilakukan di rumah, sehingga menghemat biaya transportasi dan waktu ke rumah sakit.
3. Pilih klinik satelit: Beberapa klinik hemodialisis mandiri (bukan di dalam RS besar) biasanya memiliki biaya admin yang lebih rendah untuk pasien umum.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)