Capek Terus Berusaha? Ternyata Nggak Semua Hal Harus Dipaksain!
- Kerja keras nggak selalu sepadan kalau hasilnya nggak sebanding dengan energi yang dikeluarkan.
- Otak mempertimbangkan waktu, tenaga, kelelahan, dan manfaat sebelum kita melakukan sesuatu.
- Berhenti sejenak atau mengubah strategi bukan berarti menyerah, kok.
Jakarta: Pernah nggak sih, kamu tetap maksa menyelesaikan pekerjaan padahal otak udah mentok dan badan rasanya pengin rebahan? Rasanya nggak enak kalau berhenti, apalagi saat orang lain kelihatan sibuk ngejar target. Akhirnya, kamu malah terus memaksakan diri biar nggak merasa tertinggal.
Padahal, terus berusaha nggak selalu jadi pilihan terbaik. Dalam artikel Psychology Today berjudul Why Taking It Easy, or Even Giving Up, Can Be the Smartest Move, psikolog Susan Krauss Whitbourne, Ph.D., ABPP, membahas kenapa mengambil jeda atau berhenti mengejar sesuatu terkadang justru bisa jadi keputusan yang lebih bijak.

(Seorang perempuan menikmati waktu istirahat di tengah rutinitas sehari-hari. Foto: AI Generated)
Kerja keras nggak selalu berakhir manis
Kita sering menganggap semakin keras berusaha, semakin besar peluang buat mendapatkan hasil yang diinginkan. Padahal, ada kalanya energi yang dikeluarkan malah lebih besar daripada manfaat yang didapat.
Pembahasan Whitbourne merujuk pada penelitian tentang cara manusia mempertimbangkan usaha dan manfaat sebelum melakukan sesuatu. Artinya, kita nggak cuma mikirin tujuan yang ingin dicapai, tetapi juga tenaga yang harus dikeluarkan buat sampai ke sana.
Contohnya, kamu rela begadang demi menyelesaikan pekerjaan yang sebenarnya bisa dikerjakan dengan cara berbeda. Pekerjaan mungkin selesai, tetapi besoknya kamu harus menghadapi rasa kantuk dan badan yang lemas.
Nah, daripada terus memaksakan diri, coba evaluasi cara kerjamu. Bukan berarti kamu harus langsung menyerah, ya. Bisa jadi, kamu cuma perlu mencari cara yang lebih efektif biar hasilnya tetap maksimal tanpa menguras tenaga berlebihan.
Otak juga menghitung untung dan rugi
Keputusan buat melanjutkan atau menghentikan aktivitas ternyata nggak sesederhana soal rajin dan malas.
Dalam artikel tersebut, Whitbourne membahas berbagai hal yang bisa memengaruhi usaha seseorang, mulai dari energi fisik, beban pikiran, waktu, kelelahan, rasa sakit, frustrasi, sampai risiko yang memicu kecemasan.
Misalnya, tugas yang biasanya terasa gampang bisa mendadak berat saat kamu kurang tidur atau lagi menghadapi banyak tekanan. Sebaliknya, aktivitas yang melelahkan pun bisa terasa sepadan kalau hasilnya memang penting buat kamu.
Jadi, kalau belakangan ini kamu gampang kewalahan, coba cek lagi apa yang bikin kamu capek. Bisa jadi masalahnya bukan karena kamu kurang berusaha, melainkan karena terlalu banyak hal yang harus kamu tangani sekaligus.
Kapan waktunya berhenti maksa diri?
Mengambil jeda bukan berarti kamu kehilangan ambisi. Justru, mengenali batas kemampuan bisa bantu kamu menentukan langkah berikutnya tanpa asal memaksakan diri.
Coba tanyakan tiga hal ke diri sendiri: usaha ini masih memberikan hasil nggak, ada cara lain yang lebih efektif nggak, dan apakah kamu butuh istirahat sebelum lanjut?
Kalau tujuanmu masih penting, kamu bisa mengubah strategi atau membagi pekerjaan jadi beberapa bagian yang lebih ringan. Namun, kalau sesuatu udah nggak sesuai dengan prioritasmu, nggak ada salahnya mempertimbangkan lagi apakah hal tersebut memang perlu dilanjutkan.
Intinya, produktif bukan berarti harus sibuk setiap saat. Kamu tetap bisa punya ambisi tanpa harus memaksakan diri sampai kehabisan tenaga. Sebab, tau kapan harus berusaha dan kapan perlu istirahat juga bagian dari cara mengelola diri dengan lebih baik.
Desi I.
(FIR)