FITNESS & HEALTH

Kusta Itu Penyakit, Bukan Kutukan! Let’s Break the Stigma & Sembuh

Yatin Suleha
Selasa 14 Juli 2026 / 07:05
Ringkasnya gini..
  • Masih banyak yang salah paham soal kusta dan menganggapnya sebagai kutukan.
  • Padahal, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menegaskan kalau kusta murni penyakit infeksi.
  • "Kusta tidak perlu ditakuti. Begitu pasien mulai menjalani pengobatan, risiko penularannya langsung menurun secara signifikan," ujar Menkes.
Jakarta: Masih banyak yang salah paham soal kusta dan menganggapnya sebagai kutukan. Padahal, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menegaskan kalau kusta murni penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae.

Pesan penting ini jadi sorotan utama dalam Konferensi Nasional Kusta 2026 yang berlangsung di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Jumat (10/7/2026). 

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menekankan kalau penyakit ini bisa banget disembuhkan asal ditemukan lebih awal dan diobati dengan tuntas.
 
Kabar baiknya, enggak perlu takut atau panik karena obat untuk menyembuhkan kusta sudah tersedia gratis di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan. 

"Kusta tidak perlu ditakuti. Begitu pasien mulai menjalani pengobatan, risiko penularannya langsung menurun secara signifikan. Karena itu yang paling penting adalah menemukan kasus sedini mungkin," ujar Menkes.


(Konferensi Nasional Kusta 2026. Foto: Dok. Birkom Kemenkes) 

Selain pengobatan, Menkes menekankan pentingnya menghilangkan stigma yang selama ini menyebabkan banyak penderita enggan memeriksakan diri hingga akhirnya mengalami kecacatan yang sebenarnya dapat dicegah.

Honorary Chair The Nippon Foundation sekaligus WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination, Yohei Sasakawa, mengatakan penghapusan stigma harus berjalan beriringan dengan upaya penyembuhan penyakit.

Menurutnya, eliminasi kusta tidak hanya berarti mengobati pasien, tetapi juga menghapus diskriminasi yang masih dialami oleh orang yang pernah menderita kusta dan keluarganya.

Pesan tersebut diperkuat oleh kisah penyintas kusta, Syamsul, yang menceritakan pengalaman menghadapi diskriminasi sejak kecil, mulai dari perundungan hingga perlakuan tidak manusiawi akibat minimnya pemahaman masyarakat tentang kusta.

Syamsul berharap penyintas kusta memperoleh kesempatan yang sama dalam pendidikan, pelayanan kesehatan, pekerjaan, serta kehidupan bermasyarakat.

"Kami bukan sekadar penerima bantuan. Kami ingin menjadi bagian dari pembangunan dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya," ujarnya.
 
Kemenkes mengajak seluruh elemen masyarakat, pemerintah daerah, tokoh agama, dunia pendidikan, media, dan organisasi kemasyarakatan untuk bersama-sama membangun pemahaman yang benar tentang kusta.

Sehingga tidak ada lagi penyintas yang mengalami diskriminasi akibat penyakit yang sebenarnya dapat disembuhkan. Jadi, yuk, hapus stigma negatif dan saling dukung supaya eliminasi kusta di Indonesia bisa segera terwujud!

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)

MOST SEARCH