FITNESS & HEALTH
Jangan Dianggap Sepele, Bernapas Lewat Mulut Bisa Ganggu Pernapasan
A. Firdaus
Jumat 17 April 2026 / 13:09
- Kebiasaan ini dalam jangka panjang dapat berdampak pada kesehatan.
- Hidung memiliki peran penting sebagai penyaring dan pengatur udara yang masuk ke tubuh.
- Tanda awal kebiasaan ini antara lain bibir kering saat bangun tidur .
Jakarta: Kebiasaan bernapas melalui mulut saat tidur atau berolahraga sering kali dianggap sepele. Padahal, kebiasaan ini dalam jangka panjang dapat berdampak pada kesehatan, terutama sistem pernapasan.
Hidung memiliki peran penting sebagai penyaring dan pengatur udara yang masuk ke tubuh. Organ ini berfungsi menghangatkan dan melembapkan udara, serta menyaring debu dan mikroba agar tidak masuk ke saluran pernapasan.
Namun, saat seseorang terbiasa bernapas melalui mulut, seluruh fungsi perlindungan tersebut terlewati. Akibatnya, udara yang masuk ke paru-paru menjadi lebih dingin, kering, dan tidak tersaring dengan baik.
Asisten Profesor di SDM Institute of Ayurveda and Hospital, Dr. Samhita Ullod, menjelaskan bahwa kondisi tersebut dapat memicu iritasi pada saluran napas dan meningkatkan beban kerja sistem pernapasan.
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini juga dapat menurunkan efisiensi pertukaran oksigen. Tubuh menjadi harus bekerja lebih keras, tetapi manfaat oksigen yang diperoleh justru lebih sedikit.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan kelelahan, penurunan konsentrasi, hingga meningkatkan risiko gangguan pernapasan secara bertahap.
Tanda awal kebiasaan ini antara lain bibir kering saat bangun tidur atau sering terbangun di malam hari karena rasa haus.
Selain itu, pola napas yang kurang optimal juga berkaitan dengan kualitas tidur. Kebiasaan bernapas melalui mulut dapat memicu tidur yang tidak nyenyak atau terfragmentasi, bahkan berpotensi memperburuk kondisi sleep apnea.
“Ini terkait dengan tidur yang terfragmentasi dan jika terus berlanjut dapat memperburuk kondisi apnea tidur,” ujar Dr. Ullod, seperti dikutip dari Times of India.
Pada anak-anak, dampaknya bisa lebih luas. Kebiasaan bernapas melalui mulut dalam jangka panjang dapat memengaruhi perkembangan rahang dan struktur gigi, serta meningkatkan risiko masalah gusi dan infeksi tenggorokan.
Untuk mengatasinya, langkah awal yang dapat dilakukan adalah memastikan saluran hidung tidak tersumbat. Latihan pernapasan juga dapat membantu melatih kembali tubuh agar terbiasa bernapas melalui hidung.
Selain itu, aktivitas fisik secara rutin turut berperan dalam meningkatkan kekuatan paru-paru dan efisiensi sistem pernapasan. Membiasakan pola napas yang benar sejak dini menjadi langkah sederhana namun penting untuk menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Hidung memiliki peran penting sebagai penyaring dan pengatur udara yang masuk ke tubuh. Organ ini berfungsi menghangatkan dan melembapkan udara, serta menyaring debu dan mikroba agar tidak masuk ke saluran pernapasan.
Namun, saat seseorang terbiasa bernapas melalui mulut, seluruh fungsi perlindungan tersebut terlewati. Akibatnya, udara yang masuk ke paru-paru menjadi lebih dingin, kering, dan tidak tersaring dengan baik.
Asisten Profesor di SDM Institute of Ayurveda and Hospital, Dr. Samhita Ullod, menjelaskan bahwa kondisi tersebut dapat memicu iritasi pada saluran napas dan meningkatkan beban kerja sistem pernapasan.
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini juga dapat menurunkan efisiensi pertukaran oksigen. Tubuh menjadi harus bekerja lebih keras, tetapi manfaat oksigen yang diperoleh justru lebih sedikit.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan kelelahan, penurunan konsentrasi, hingga meningkatkan risiko gangguan pernapasan secara bertahap.
Tanda awal kebiasaan ini antara lain bibir kering saat bangun tidur atau sering terbangun di malam hari karena rasa haus.
Selain itu, pola napas yang kurang optimal juga berkaitan dengan kualitas tidur. Kebiasaan bernapas melalui mulut dapat memicu tidur yang tidak nyenyak atau terfragmentasi, bahkan berpotensi memperburuk kondisi sleep apnea.
“Ini terkait dengan tidur yang terfragmentasi dan jika terus berlanjut dapat memperburuk kondisi apnea tidur,” ujar Dr. Ullod, seperti dikutip dari Times of India.
Pada anak-anak, dampaknya bisa lebih luas. Kebiasaan bernapas melalui mulut dalam jangka panjang dapat memengaruhi perkembangan rahang dan struktur gigi, serta meningkatkan risiko masalah gusi dan infeksi tenggorokan.
Untuk mengatasinya, langkah awal yang dapat dilakukan adalah memastikan saluran hidung tidak tersumbat. Latihan pernapasan juga dapat membantu melatih kembali tubuh agar terbiasa bernapas melalui hidung.
Selain itu, aktivitas fisik secara rutin turut berperan dalam meningkatkan kekuatan paru-paru dan efisiensi sistem pernapasan. Membiasakan pola napas yang benar sejak dini menjadi langkah sederhana namun penting untuk menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)